September, Deflasi Diprediksi Masih "Jauh"

Tata Niaga Impor Amburadul

Senin, 02/09/2013

NERACA

Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, memperkirakan pada September 2013 tidak akan terjadi deflasi. Pasalnya, dampak imported inflation atau kenaikan harga yang dipicu karena kurs rupiah yang melemah, masih akan terjadi hingga akhir bulan ini. Kurs yang melemah hingga menembus Rp11 ribu per dolar AS, semakin mendorong harga barang-barang impor meningkat.

Dengan begitu, apa pun yang berbau impor, dirinya memastikan harga-harga akan terdongkrak. “Bahan baku industri kita kan impor, juga bahan pangan. Nah, kalau dolar naik pasti harga barang-barang industri juga naik. Jadi, kalau kemarin (Agustus) tekanan inflasi lebih disebabkan dari volatile food, sekarang ditambah lagi dari komdoditas industri dan pangan impor,” jelas Enny kepada Neraca, Sabtu (31/8) pekan lalu.

Namun demikian, dirinya memprediksi kalau pada September ini harga beras akan turun lantaran terjadi panen raya. Akan tetapi, secara total, tetap tidak akan sampai membuat deflasi. Hal itu dikarenakan harga kedelai dan susu masih naik akibat dolar meningkat. “Belum lagi permasalahan tata niaga barang impor yang tidak ada perbaikan. Di beberapa bulan awal tahun 2013, inflasi tinggi disebabkan oleh buruknya tata niaga cabai dan bawang. Ini yang harus secepatnya dibereskan,” ungkapnya.

Seperti diketahui, beras merupakan penentu harga bahan pokok, di mana komoditas pangan ini merupakan penyebab inflasi nomor wahid di Indonesia. Rektor Kwik Kian Gie School of Business, Anthony Budiawan, sampai membuat perhitungan sederhana. Menurut dia, pada awal tahun, saat pemerintah belum mendapat persetujuan DPR untuk mengubah asumsi makro, pemerintah sudah memprediksi inflasi di atas 5% pada tahun ini.

Ini dapat diartikan bahwa inflasi dalam setengah tahun akan sebesar 2,5%. “Sekarang inflasi sudah berjalan selama setengah tahun dan akumulasinya sebesar 6,75%. Jika ditambah setengah tahun berikutnya, tentu, sesuai prediksi pemerintah sebesar 2,5%, maka total inflasi sepanjang tahun 2013 akan sebesar 9,25%,” jelas Anthony. Dia pun sependapat dengan Enny yang menjadi penyebab inflasi di Indonesia adalah tata kelola perdagangan yang masih berantakan. Anthony pun mendesak pemerintah agar menghilangkan praktik-praktik liar, sehingga tata kelola perdagangan bisa sehat dan inflasi dapat dikendalikan.

Optimis deflasi

Dengan prediksi-prediksi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa target pemerintah yang mengatakan bila inflasi pada 2013 akan berada pada angka 7,2%, adalah berat untuk dicapai. Hingga tujuh bulan pertama tahun ini atau Juli, akumulasi inflasi sudah mencapai 6,75%. Artinya, baru separuh jalan. Bahkan, sekaliber Bank Indonesia (BI) telah mengubah prediksi inflasi, dari 7,8% menjadi 9%-9,8% akhir tahun ini.

Namun, pernyataan para pengamat ini dibantah Deputi Statistik Harga, Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo, yang meyakini September akan terjadi deflasi. “Bulan September, Oktober dan November. Selama tiga bulan itu deflasi bisa saja terjadi. Di Bulan September kemungkinan besar (terjadi deflasi). Sementara Oktober dan November mungkin deflasi, atau inflasi kecil,” kata Hadi kepada Neraca, kemarin. Dia juga menjelaskan, deflasi September akan terjadi, karena didorong oleh dua hal. Yaitu karena siklus, setelah lebaran harga-harga akan turun. Lalu, September adalah puncak panen padi kedua di tahun ini. [iqbal]