Sektor Riil Mulai Terbebani Pelemahan Rupiah

Senin, 02/09/2013

NERACA

Jakarta – Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar kian membuat industri terpuruk. Sejalan dengan apa yang terjadi pada krisis tahun 2008 hinngga 2009 sektor manufaktur paling mengalami imbasnya. Untuk itu perlu adanya perhatian khusus terhadap sektor industri agar kondisi perekonomian tidak terus lesu.

“Sektor-sektor yang paling kena imbasnya yaitu industri migas, besi dan baja, semen, whosale dan retail, TPT dan alas kaki, alat angkut, mesin dan peralatannya, angkutan laut dan angkutan udara,” kata Kepala Ekonomi Bidang Industri dan Penelitian Regional Bank Mandiri Rino Bernando dalam acara paparan Bank Mandiri Macroeconomic Outlook di Auditorium Plaza Mandiri, Kamis (29/8).

Secara rinci sejauh ini terlihat produksi industri semen dan barang galian bukan logam turun 1,99%, logam dasar besi dan baja turun 1,85%, angkutan rel turun hingga 1,68%, pedagang eceran dan besar turun 1,55%, angkutan laut turun 1,44%, pupuk, kimia, dan barang dari karet turun 1,33%, kehutanan turun 1,28%, pengilangan minyak bumi 1,25%, alat angkut, mesin dan peralatannya turun 1,22%, dan tekstil, barang kulit dan alas kaki turun 1,01%.

“Namun yang paling parah terkena imbasnya dan relatif besar adalah industri angkutan udara hingga 3,90%. Juga industri gas alam cair yang turun samapai 3,26%. Sektor-sektor itu mengalami penurunan lebih dari satu persen. Penyebabnya sudah pasti karena nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sangat besar hingga 10%,” jelas Rino.

Kemudian sektor yang mengalami penurunan di bawah satu persen pada saat nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 10% juga cukup banyak. Di antaranya makanan, minuman dan tembakau yang turun 0,75%, air bersih turun 0,70%, jasa penumpang angkutan turun 0,67%, komunikasi turun 0,64%, hotel turun 0,62%, pertambangan minyak dan gas bumi 0,61%, tanaman bahan makanan turun 0,46%, listrik turun 0,44%, gas kota turun 0,44%, konstruksi turun 0,44%, penggalian turun 0,41%, angkutan sungai dan danau turun 0,39%, angkutan jalan turun 0,37%, restoran turun 0,26% dan real estate turun 0,25%.

“Sementara itu juga ada sektor-sektor yang mengalami peningkatan. Khususnya komoditas yang berorientasi ekspor. Mereka mengalami kenaikan output karena harga di pasar global menjadi semakin kompetetif,” ungkap Rino.

Rino mengatakan beberapa sektor yang mengalami dampak positif akibat rupiah terdepresiasi di antaranya barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 0,50%, tanaman perkebunan tumbuh 0,62%, peternakan 0,45%, dan perikanan hingga 0,26%. Kemudian beberapa sektor yang paling tinggi outputnya yaitu sektor kertas dan barang cetakan hingga 1,77%. Bahkan pertambangan non migas tumbuh hingga 5,37%.

“Namun pada nantinya kita perlu melihat bagaimana kontribusi pertumbuhan output industri khususnya yang berorientasi ekspor itu. Sejauhmana mereka mampu berperan dalam mendorong kekuatan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Tapi menurut saya secara kuantitas pasti impor kita masih jauh lebih tinggi. Lagipula dalam peningkatan ini kan yang diuntungkan ya sisi pengusahanya saja,” tukas Rino.

Paket Kebijakan

Pemerintah memang telah mengambil langkah-langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi khususnya yang terkait dengan sektor industri diantaranya memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan, menjaga daya beli masyarakat dan mempercepat investasi. Namun, kalangan pengamat menilai, langkah pemerintah tersebut tidak menyentuh substansi masalah di sektor industri.

Sebelumnya, pengamat ekonomi dari Econit Hendri Saparini mengungkapkan, langkah yang diambil pemerintah terkait empat paket kebijakan menyelamatkan perekonomian tidak langsung mengenai substansi masalah industri dan baru akan terasa dalam jangka panjang. Akan tetapi yang dibutuhkan untuk saat ini adalah solusi jangka pendek, yaitu dengan peningkatan daya saing produk industri, sehingga ekspor dalam negeri bisa meningkat.

"Pemerintah harus memberikan subsidi yang tepat guna, contohnya di sektor energi seperti gas dan listrik karena jika energi ini bisa murah dan gampang didapat, sudah pasti ongkos produksi juga bisa murah dan berdaya saing produk industri dalam negeri," jelas Hendri.

Lebih jauh lagi Hendri memaparkan tingginya harga energi akan menyulitkan industri nasional karena mahalnya biaya energi akan berdampak kepada lemahnya daya beli masyarakat. Perusahaan tentu akan melakukan penyesuaian harga produk barang hasil industrinya karena biaya produksi yang membengkak.

"jika daya beli masyarakat lemah, maka akan menekan produk dalam negeri. Ada kekhawatiran bahwa masyarakat akan memilih barang impor, kalau harga di pasaran lebih murah daripada produk lokal," paparnya.