Pengusaha Pastikan Harga Produk Segera Naik - Industri Masih Andalkan Bahan Baku Impor

NERACA

Jakarta - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat efek yang buruk terhadap seluruh sektor perekonomian nasional, apalagi sektor industri yang bahan bakunya mengandalkan dari impor misalnya industri otomotif dan tepung terigu dan turunannya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, komponen impor industri mobil seperti mesin, baja, dan lain-lain sangat tergantung dengan kurs rupiah. Sementara itu, produk turunan industri tepung terigu yaitu mie instan yang 100% menggantungkan dari impor gandum impor akan lebih terpengaruh lagi.

\"Harga pasti naik, tapi kita tak bisa naikkan sekaligus, naiknya 2-3 bulan ke depan, mobil itu pasti naik, gandum naik, Indomie, impor daging dan kedelai juga,\" kata Sofjan saat dihubungi Neraca, akhir pekan lalu.

Lebih juah lagi Sofjan memeparkan kenaikan harga terkait melemahnya rupiah tak bisa dihindari karena biaya bahan baku makin mahal sehingg berdampak pada biaya produksi industri manufaktur. Selain itu, pelaku usaha juga dipusingkan dengan rencana kenaikan upah buruh tahun depan yang diusulkan naik hingga 50%.\"Kita pusing high cost, lalu buruh juga minta naik upah,\" katanya.

Namun Sofjan juga mengatakan, selain industri manufaktur yang kena imbas karena melemahnya rupiah, justru kegiatan ekspor komoditas andalan Indonesia akan kena efek positif.\"Ekspor akan naik seperti kakao, karet, ini yang diuntungkan dari rupiah yang melemah,\" katanya.

Sejumlah industri dan pelaku usaha yang terkait dengan kegiatan impor mulai merasakan dampak negatif pelemahan rupiah. Dampak itu antara lain dirasakan industri otomotif dan ritel yang sangat bergantung impor. Namun, eksportir kerajinan merasakan dampak positif.

Pengaruhi Penjualan

Di tempat berbeda, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman MR mengatakan, produsen perlu mencermati sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap produksi ataupun penjualan mobil di Indonesia.

”Bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang kini 6,5 persen itu akan berdampak terhadap penjualan secara kredit pada September 2013. Kami perlu mencermati seberapa besar dampak kenaikan suku bunga terhadap penjualan,” kata Sudirman.

Faktor lain yang juga dicermati para produsen otomotif adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Pelemahan ini akan berdampak terhadap biaya produksi.

”Kami ketahui dan evaluasi dari rekan ATPM (agen tunggal pemegang merek), ongkos produksi yang digunakan saat ini masih Rp 9.300. Jika sekarang nilai tukar sekitar Rp 11.000, kami harus mencermati dampaknya terhadap produksi dan penjualan,” kata Sudirman.

Sudirman menegaskan, kalangan pengusaha, khususnya otomotif, terus memonitor gejolak rupiah dan ekonomi, baik global maupun lokal, secara saksama apakah tren yang ada saat ini merupakan fenomena sementara atau kondisi riil yang berlanjut satu hingga dua bulan ke depan.

Jika jawabannya adalah terus berlanjut, secara jangka panjang jelas berdampak signifikan terhadap industri otomotif nasional. Hal ini terjadi karena struktur industri otomotif nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor. Industri otomotif Daihatsu, misalnya, meski komponen lokal sudah mencapai 85 persen, tetap ada kandungan impornya.

Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan berpengaruh terhadap produksi dan penjualan mobil dalam lima bulan terakhir tahun 2013.

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Peritel Indonesia Tutum Rahanta mengatakan, harus ada kreativitas pemerintah untuk membuat kebijakan yang pasti. Harus ada pernyataan yang pasti dan tidak gamang karena upaya ini hanya bisa diatasi dengan menekan impor.

Namun, masalahnya saat ini tidak ada satu pun sektor industri yang tidak impor untuk berbagai kebutuhannya, baik untuk produksi maupun pengemasannya. Seluruh industri manufaktur nasional rentan terhadap impor. Apabila impor, yang umumnya bahan baku. direm. jelas ekonominya akan tertahan.

”Bagi saya, ini masalah krusial karena kita tidak punya daya tahan seperti negara lain dalam menghadapi krisis. Begitu kena krisis mengatasinya sulit dan lama. Pemerintah kita tidak punya kemampuan membuat nilai tambah dalam memperkuat ekonomi. Kita juga tidak kreatif untuk membuat atau mendukung industri. Akibatnya semuanya harus diimpor sekalipun itu untuk kepentingan produksi dan pemasaran pengusaha skala ekonomi kelas UKM,” kata Tutum.

Related posts