Bursa Saham Berpotensi Terancam

IMF KOREKSI PERTUMBUHAN EKONOMI JADI 5,25%

Senin, 02/09/2013

Jakarta – Walau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menguat pada akhir pekan lalu (30/8) naik 2,23% ke 4.195,09. Tapi, bila dibandingkan dengan rekor tertinggi di level 5.214,98 (20 Mei), posisi indeks saham bursa domestik sudah tergerus 17,62%. Sementara IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013 menjadi 5,25%, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 6,3%.

NERACA

Dampak tergerusnya IHSG tersebut membuat nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun tergerus hebat. Ketika IHSG mencapai rekor tertinggi (20 Mei), nilai kapitalisasi bursa saat itu tercatat Rp 5.020 triliun. Nah, akhir pekan lalu nilai kapitalisasi pasar bursa tercatat Rp 4.237 triliun. Artinya, dalam waktu sekitar tiga bulan, nilai kapitalisasi pasar BEI rontok Rp 783 triliun atau merosot 15,59%.

IHSG adalah salah satu indikator perekonomian nasional yang menggambarkan kondisi saat ini, selain nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS. Terkait dengan indikator ini, lembaga keuangan internasional IMF merilis proyeksi pertumbuhan terbaru seiring penurunan ekspor dan lemahnya kepercayaan investor di kawasan Asia Tenggara belakangan ini.

Menurut Reuters, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,25% pada 2013, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 6,3%. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 6,2%. Walau tahun ini dipangkas, pertumbuhan diyakini akan mengalami percepatan tahun depan seiring dengan membaiknya ekonomi global dan kenaikan konsumsi menjelang pemilihan umum presiden.

Menurut Kepala Riset PT Buana Capital Alfred Nainggolan, dengan dihentikannya Quantitative Easing (QE) oleh Amerika Serikat pada pertengahan Sept. 2013 akan berdampak pada menurunnya IHSG dan harga-harga saham di pasar karena akan banyak dana asing yang keluar.

“Pasti akan ada tekanan jual. Secara teoretis, kalau QE 3 dicabut maka likuiditas kita akan turun. Perhitungan kami, PE kita akan ada di 12 kali dengan IHSG di level 3.600. Ini kita perhitungkan sebelum ada QE 3. Sementara pada saat market bagus, PE kita ada di 16 kali,” ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Meski demikinan, sambung dia, hal tersebut tidak serta merta membuat bursa Indonesia berhenti. Pasalnya, masih ada potensi masuknya investor-investor baru dan kembalinya investor asing. Dengan catatan, pemerintah dapat menjaga stabilitas fiskal dan moneter Indonesia.

Selain itu, jika diperhitungkan, imbal hasil dari negara emerging market masih lebih tinggi daripada negara maju, seperti Amerika dan Eropa. “Imbal hasil di negara maju hanya sekitar 0,25%, sedangkan kita ada di sekitar 7%. Dan pasti, investor akan mencari akan mencari return yang tinggi,” ujarnya.

Sebagai regulator, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga harus meningkatkan transparansi dalam memberikan informasi sehingga pelaku pasar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi dan berpengaruh terhadap kondisi pasar. Termasuk penanganan banyak kasus di pasar modal. “Investor kita banyak tertinggal karena informasi yang diterima kerap terlambat.” ujarnya.

Potensi Kepanikan

Selain itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) juga harus lebih berani dalam menangani emiten-emiten yang bermasalah. Sehingga tidak ada lagi aksi korporasi emiten yang tidak transparan dan menimbulkan banyak pertanyaan atau ketidakpuasan investor.

“Bursa masih kurang cukup berani berfungsi sebagai pengawas. Aksi korporasi dari perusahaan Bakrie misalnya, selama ini banyak menimbulkan pertanyaan. Itu artinya ada ketidakpuasan investor dan tingkat kekuatan informasinya masih kurang,” ujarnya.

Dari gambaran tersebut, potensi kepanikan bursa saham masih ada. Karena pada 17 September 2013, bank sentral AS (The Fed) akan mengumumkan kepastian rencana tapering off atau penghentian stimulus. The Fed siap menarik dananya dari pasar internasional secara bertahap sebesar US$ 80 miliar per penarikan.

Jika hal ini terjadi, maka rencana ini yang memicu migrasi besar-besaran dollar AS dari pasar keuangan global, termasuk dari Indonesia. Dolar AS “pulang kampung” tersedot spekulasi rencana The Fed itu.

Ironisnya, pada saat bersamaan, suplai US$ ke Indonesia terus menyusut. Per kuartal II-2013, defisit transaksi berjalan masih US$ 9,8 miliar, sementara cadangan devisa kian menipis dan tersisa US$ 92,7 miliar.

Menurut data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) hingga akhir Juli 2013, dana asing yang masuk Indonesia mencapai Rp 1.640 triliun atau setara US$ 164 miliar. Sedangkan di Surat Berharga Negara (SBN) per 22 Agustus 2013 mencapai Rp 287,5 triliun atau setara dengan US$ 28 miliar. Jadi total dana asing yang mengendap US$192 miliar

Bayangkan, apabila rencana The Fed benar-benar terlaksana, dana asing yang US$ 192 miliar itu tiba-tiba serentak keluar dari Indonesia, bagaimana? Sedangkan dalam tiga bulan terakhir, dana asing yang keluar (capital outflow) mencapai US$ 23,5 miliar.

Menurut pengamat pasar modal FE Universitas Pancasila Agus.S Irfani, bursa Indonesia sangat berbahaya jika kebijakan pemerintah AS untuk menarik dana nya dari negara emerging market salah satunya Indonesia. Pasalnya, bursa Indonesia masih didominasi oleh investor asing. "Investor asing di pasar bursa Indonesia mencapai 67%. Jadi, kalau dana asing ditarik dari Indonesia maka bursa akan bergejolak sehingga nantinya akan krisis kapitalisasi," ujarnya, Sabtu.

Bahkan dia memperkirakan IHSG akan berada di level 3.200-3.500. Menurut Agus, semua itu terjadi karena fundamental ekonomi di pasar bursa Indonesia masih lemah. Hal itu ditambah dengan minimnya investor lokal yang ikut berinvestasi di saham. "Saat ini investor lokal baru dikisaran 360 ribu dari total investor mencapai 2 juta. Sementara investor asing lebih banyak investasi jangka pendek (profit taking)," tuturnya.

Menurut dia, salah satu cara agar fundamental bursa saham Indonesia kuat adalah dengan meningkatkan investor lokal. Sama seperti yang dilakukan oleh China, Jepang dan Korea. Karena, di negara-negara tersebut sangat kuat peran investor lokalnya sehingga keadaan pasar bursa di negara-negara tersebut terjaga. "Peran pemerintah adalah mengedukasi masyarakat agar mau berinvestasi," ucapnya.

Selain meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal, OJK juga perlu membuat aturan mengenai investor asing agar tidak gampang pergi dari Indonesia. "Misalnya dengan holding periode. Artinya dana asing yang ada di Indonesia harus diikat, paling tidak selama 1 bulan. Agar tidak gampang keluar. Akan tetapi kebijakan itu baru bisa ditetapkan ketika keadaan sudah membaik," pungkasnya.

Pengamat pasar modal FEUI Budi Frensidy mengungkapkan, kalau Amerika Serikat sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sehingga pengaruh AS sangat besar bagi negara-negara lain, hal ini juga termasuk pengaruh dari perusahaan-perusahaan dan investornya. Sehingga pergerakan kembalinya dana ke Amerika akan berpengaruh juga pada pergerakan indeks saham termasuk Indonesia.

"Fundamental ekonomi Indonesia sesungguhnya amat rapuh akibat terlalu banyak menelan dana asing bersifat jangka pendek (hot money) yang masuk pasar finansial. Dana asing di pasar modal itu bisa membuat jantung perekonomian Indonesia berhenti mendadak. Maka guncanglah ekonomi kita," ujarnya.

Lebih jauh lagi Budi memaparkan kalau satu tahun terakhir, sekitar US$ 50 miliar hot money masuk ke pasar finansial lokal. Rezim devisa bebas yang dianut Indonesia membuat dana asing begitu mudah keluar masuk investasi Indonesia.

Singkat kata, menurut dia, dolar banyak keluar, sementara pemasukan minim. Tak heran rupiah terus melemah dan kini berada di kisaran Rp 11.300 per dollar AS. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas ke posisi 4.195,09.

Menurut Budi, agar fundamental bursa saham Indonesia kuat adalah dengan menggenjot investor lokal. Dengan memperbanyak investor lokal,akan menjaga fundamental pasar bursa dalam negeri.

Menurut analis Trust Sekuritas Reza Priyambada, adanya rencana penarikan dana asing terutama Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan ada koreksi di pasar. Dia berharap pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan jika terjadi demikian.

“Harapannya koreksi tidak terlalu banyak, dikisaran 3.950-4.100 tapi semua itu tergantung pelaku oasar. Kalau mereka over react, kemungkinan busa lebih dalam. Apalagi jika melihat dana asing akan keluar”, ujarnya.

Namun, dia belum bisa menganalisa lebih dalam karena belum mendapatkan data riil mengenai dana asing yang akan keluar. Namun, dia memperkirakan dampaknya akan sementara, karena dana asing khususnya AS ditarik untuk membangun ekonomi negaranya.

“Kalau dana mereka ditarik lalu ekonomi AS dan Eropa membaik, pasti akan berpengaruh kepada ekspor kita yang akan mereka serap. Setelah ekonominya bagus, otomatis mereka yang memiliki dana banyak akan kembali lagi ke Indonesia untuk berinvestasi”, ujarnya.

Selain itu, memang pelaku pasar mengharapkan ekonomi AS dan Eropa segera pulih agar secapatnya bisa melakukan ekspansi lagi ke Indonesia. Namun, melihat kondisi yang ada saat ini di pasar, dia memperkirakan pada 2014 nanti baru akan mulai pulih.

“Saat ini memang tidak ada sentimen ke pasar, tetapi yang bisa dilakukan pelaku pasar adalah menunggu adanya ekspansi pihak luar ke Indonesia yang akan memperbaiki neraca perdagangan”, jelasnya.

Menurut dia, OJK tidak dapat mengintervensi pasar jika terjadi koreksi lagi. Sehingga Reza menyatakan disaat pasar masih dengan kondisi rawan seperti saat ini, OJK harus terus melakukan edukasinya kepada masyarakat. Karena diakui dia hal ini membantu menenangkan pelaku pasar untuk tidak panik.

“Mereka (OJK) harus lebih intensif lagi memberikan edukasi ke masyarakat, selain itu diharapkan pelaku pasar jangan mennjadi panik ketika asing menarik dananya. Memang jika kepanikan terjadi otomatis indeks akan terrus lagi”, jelas dia.

Diakui dia, kapitalisasi pasar juga akan merosot jika pelaku pasar panik dan tanpa pikir panjang melakukan aksi jual. Namun dia berharap hingga akhir tahun kapitalisasi pasar kembali normal dan dapat mencapai Rp6.000 triliun.

“Jika melihat kondisi kemarin, ketika indeks turun drastis dalam 1-2 hari, itu karena memang adanya defisit pada neraca kita, selain itu rupiah juga parah. Sehingga pelaku pasar melihat makro ekonomi kita memang buruk”, ujarnya. nurul/lia/bari/iwan