Aliran Dana Panas

Senin, 02/09/2013

Oleh : Faisal Basri

Ekonom FEUI

Ada satu pos di neraca pembayaran dengan namanet errors & omissions (NEO) atau selisih perhitungan bersih. Pos ini bukan merupakan transaksi, melainkan sebagai penampung kesalahan pencatatan dan selisih perbedaan penghitungan. Kesalahan pencatatan rasanya tak signifikan, sehingga bisa dikatakan sebagian besar NEO mencerminkan selisih perhitungan.

Selisih perhitungan muncul karena berbagai sebab. Misalnya, ekspor dalam dokumen PEB (pemberitahuan ekspor barang) tercatat US$100 juta, tetapi aliran dana yang masuk ke Indonesia hanya US$75 juta. Selisih US$25 juta dicatat di NEO dengan tanda negatif.Sebaliknya, jika ada aliran dana masuk tetapi tak jelas asal usulnya, maka besarnya dana masuk itu dicatat di NEO dengan tanda positif (plus).

Contoh lain, warga Indonesia membeli dollar AS di pasar valuta asing ataumoney changer untuk tujuan yang tidak diketahui. Uang itu disimpan disafe deposit box atau di “bawah bantal”. Maka dollar berkurang di pasar dengan jumlah yang dicatat di NEO dengan tanda negartif (minus).

Indonesia beberapa kali mengalami NEO positif. Artinya, ada dana tak jelas yang masuk, bisa bermotifkan pencucian uang, bisa juga motif lain.

Sejak tahun 2008 NEO selalu negatif (minus). Ini menandakan dana bersih (neto) yang tidak jelas juntrungannya lebih banyak menyedot cadangan devisa ataunet capital outflow. Dalam kajian pelarian modal NEO kerap dijadikan sebagaiproxy-nya.

Sejak tahun 2008 NEO berfluktuasi. Terendah tahun 2008 sebesar –US$238 juta dan tertinggi tahun 2011 sebesar –US$3,4 miliar. Tahun 2012 turun menjadi US$0,5 miliar. Namun, selama semester I-2013 naik kembali cukup tajam menjadi –US$1,3 miliar. Hal inilah yang menambah tekanan pada neraca pembayaran dan pemburukan nilai rupiah.

Selama kurun waktu 2008-semester I-2013, akumulasi NEO mencapai US$9,9 miliar. Harta kekayaan pejabat dan warga Indonesia lainnya dalam dollar berkontribusi terhadap akumulasi NEO yang nilainya lumayan besar, lebih dari 10 persen cadangan devisa. Jika para pejabat dan warga Indonesia lainnya yang beternak dollar menjual dolarnya, maka kontribusinya terhadap NEO akan positif, juga positif terhadap cadangan devisa dan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, semakin banyak orang, ekonom sekalipun, membandingkan keadaan sekarang dengan krisis tahun 1998. Bayang-bayang masa krisis yang kini paling menyembul sangat boleh jadi adalah defisit transaksi berjalan (current account) yang sudah berlangsung selama tujuh triwulan berturut-turut dan mencapai puncak pada triwulan II-2013 ketika defisit membubung jadi US$9,8 miliar atau setara 4,4% dari produk domestik bruto (PDB).

Besaran defisit ini merupakan rekor baru. Pada masa menjelang krisis 1998 pun defisit transaksi berjalan tak pernah separah itu. Sekalipun defisit tersebut merupakan masalah struktural sebelum krisis karena hampir selalu kita mengalaminya, tak pernah menembus 4 persen PDB.

Neraca transaksi berjalan ibarat benteng pertahanan paling ampuh dan menjadi sumber kekuatan utama dalam menghadapi gejolak eksternal. Ini merupakan salah satu indikator yang mencerminkan tingkat kesehatan perekonomian. Struktur perekonomian yang melemah dan pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas lambat laun akan menggerogoti current account dan merongrong keseimbangan eksternal.