Bank Windu Matangkan Rencana Right Issue

Incar Kepemilikan Modal Rp1 Triliun

Senin, 02/09/2013

NERACA

Jakarta- Manajemen PT Bank Windu Kentjana Internasional Tbk (MRCO) mengaku akan segera merealisasikan rencana perseroan untuk melakukan right issues atau penerbitan saham baru. Dengan langkah ini perseroan mengharapkan dapat memperkuat modal kerja untuk memenuhi modal inti senilai Rp1 triliun sebagai Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) II sesuai peraturan Bank Indonesia.“Kita akan menuju BUKU II, penambahan modal paling tidak sekitar Desember -Januari tahun depan. Strateginya, kalau kita sudah perusahaan terbuka maka yang paling transparan, right issues.” kata Direktur Utama Bank Windu Kentjana Internasional Tbk, Luianto Sudarma di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, perseroan masih membutuhkan dana sekitar Rp200 miliar dari dana kas yang ada saat ini sebesar Rp800 miliar. Oleh karena itu, proses penambahan modal ini diperkirakan sudah dapat dilakukan pada Desember 2013 dengan melihat kinerja akhir tahun.

Ditargetkan, perseroan dapat memperoleh laba bersih sebesar Rp123 miliar dari laba bersih sebelumnya Rp120 miliar.“Kontribusi laba bersih disebabkan oleh pertumbuhan kredit pada 2013 akan mencapai Rp5,5 triliun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,5 triliun, Desember akan kita kaji lagi, namun sejauh ini dana yang kita butuhkan segitu,” jelasnya.

Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 7%, sambung dia, belum akan mempengaruhi pertumbuhan kredit tahun ini. Selain itu, pertumbuhan kredit yang ditargetkan perseroan terbilang konservatif. “Target kredit bank Windu sangat konservatif. Kebijakan BI rate sendiri hanya akan berpengaruh setelah empat bulan saja jadi efeknya terasa pada 2014,” ucapnya.

Karena itu, pihaknya tidak merevisi target pertumbuhan kredit pada tahun ini sebesar Rp5,5 triliun. Namun dengan kenaikan BI rate, kata dia, otomatis juga akan menaikkan suku bunga kredit dan deposito perseroan. “Kenaikan suku bunga kredit sekitar 1%-1,5%, berkisar antara 11%-12,5%. Sementara bunga simpanan dari 8% kemungkinan menjadi 8,5%. Kami akan umumkan Senin depan.” paparnya.

Meski dinaikkannya suku bunga kredit, dia meyakini, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) akan dapat ditekan karena kenaikan kredit tersebut cukup konservatif dengan besaran kenaikan BI rate. Selain itu, sambung dia, bank Windu bergerak di sektor usaha kecil dan menengah serta fokus pada upaya melakukan manajemen risiko. “NPL awal tahun dipatok sebesar 1%-1,5%. Kami perkirakan akhir tahun akan turun menjadi 1,2%,” imbuhnya. (lia)