Depresiasi Rupiah dan Fundamen Ekonomi RI

Oleh: Hidayat Banjar, Pengamat Sosial

Senin, 02/09/2013

Di era kesejagatan (globalisasi) agaknya hampir tak ada peristiwa yang berdiri sendiri tanpa keterhubungan dengan lainnya begitu juga dampaknya. Demikianlah peristiwa depresi melemahnya rupiah terhadap dolar AS (Amerika Serikat) kait-mengait dengan banyak hal.

Bagi eksportir, menguatnya dolar tentu menguntungkan. Namun bagi importir, jelas akan sangat merugikan. Masalahnya, kondisi ekspor-impor kita tidak seimbang. Hal inilah yang membuat banyak kalangan uring-uringan.

Ada sedikitnya 11 komoditi pangan yang diimpor, meliputi: beras, jagung, kedelai, biji gandum, tepung terigu, gula pasir, daging sapi dan daging ayam, garam, singkong dan kentang.

Satu dolar AS yang melampaui Rp 11 ribu akan diikuti dengan kenaikan harga-harga komoditi. Mau tidak mau para importir akan menyesuaikan harga impor dengan penjualan. Sampai di pengecer tentu akan lebih mahal lagi.

Harga daging sapi kini berada di kisaran Rp 100 ribu. Ikutannya, harga daging ayam kampung dan bebek pun ikut terdongkrak. Ayam kampung perkilonya Rp 52 ribu dan bebek Rp 48 ribu. Apakah hal ini tidak menggelisahkan?

Belum Gawat

Namun demikian Menteri Keungan menganggap adanya pelemahan rupiah terhadap dolar AS hingga Rp 11 ribu per dolar belum masuk situasi gawat. Bagi menkue saat ini bukanlah waktu yang baik bagi perekonomian Indonesia. Apabila keadaan baik-baik saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar berada di level Rp 9.600. Namun, saat ini bukan berarti harus panik. Karena dia menganggap dulu pernah terjadi dolar mencapai Rp 12.600. Seperti pada dahulu pada 2008 rupiah yang pernah melemah hingga Rp 12.600, namun situasinya tetap kondusif. Rupiah hingga kini masih dalam level wajar dan tak berbahaya.

Menurutnya situasi ekonomi yang sedang genting seperti sekarang masih dianggapnya perekonomian sekarang ini lebih baik daripada 1998.karena menganggap, kondisi perbankannya sudah tak sehat. Kredit bermasalah (NPL) saat itu melonjak tinggi jauh dibandingkan saat ini, yang mana kondisi perekonomian lebih baik daripada saat itu dan perbankan sehat semua.

Ganggu Stabilitas

Depresiasi rupiah yang terjadi saat ini berpotensi mengganggu stabilitas nasional. Selain itu juga merongrong keseimbangan neraca perdagangan. Karena bisa dipastikan penguatan nilai tukar dolar AS akan mendongkrak harga bahan pangan di dalam negeri. Karena memang belasan komoditi kebutuhan pokok masih diimpor

Depresiasi rupiah saat ini, menghadirkan dilema serius bagi pemerintah. Disini pemerintah harus memilih satu di antara dua opsi yang tersedia, yakni fokus menjaga keseimbangan neraca perdagangan, atau all out menjaga stabilitas.

Neraca perdagangan, mendapatkan tambahan faktor pengganggu. Kalau selama ini gelembung nilai impor BBM (Bahan Bakar Minyak) nyaris menjadi satu-satunya faktor perusak keseimbangan, pertumbuhan nilai impor bahan pangan kini mulai ikut merongrong neraca perdagangan.

Namun, demi stabilitas nasional, ketersediaan dua kelompok komoditas strategis ini harus selalu terjaga alias tidak boleh kurang. Bahkan, persoalannya bukan sekadar stok yang mencukupi, tetapi juga menyangkut harga yang relatif terjangkau bagi rakyat.melihat tahun 2012, nilai impor bahan pangan mencapai Rp 125 triliun. Lonjakannya relatif tinggi karena tahun 2011 impor pangan di kisaran Rp 90 triliun. Dengan menguatnya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, harga bahan pangan impor pun otomatis naik. Ini akanmenimbulkan ketidaknyamanan bagi rakyat kebanyakan yang berpenghasilan pas-pasan.

Memburuk

Rupiah melemah karena faktor fundamental ekonomi yang memburuk sepanjang tahun 2013. Hancurnya fundamental, merupakan imbas dari kebijakan pemerintah selama 8 tahun terakhir. Sedikitnya ada tiga hal yang memburuk pada delapan tahun terakhir.

Pertama, defisit perdagangan, di mana impor yang lebih besar dari ekspor.Terutama impor migas dan pangan, sementara ekspor menurun dikarenakan penurunan harga komoditi pada tingkat internasional. Defisit perdagangan ini akan berlangsung sepanjang 2013, yang menyebabkan permintaan dolar semakin tinggi untuk membiayai impor.

Kedua , defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan dikarenakan aliran uang keluar untuk membiayai impor dan utang – baik pemerintah maupun swasta – jatuh tempo serta pelarian keuntungan perusahaan ke luar negeri.

Sementara itu, tidak ada lagi pemasukan dalam bentuk dolar yang memadai, penanaman modal langsung juga menurun. Investasi portopolio lainnya yang tidak dapat mengimbangi aliran modal keluar.

Ketiga, defisit fiskal yang membengkak akibat penurunan pertumbuhan ekonomi, daya beli menurun, yang menyebabkan peneriman pajak menurun. APBN yang terancam ambruk menimbulkan persepsi negatif pasar keuangan, surat utang pemerintah semakin tidak laku karena dianggap tidak kredible dan korup.

Ketiga hal tersebut tidak akan dapat diatasi dalam jangka pendek, dikarenakan merupakan akumulasi masalah yang ditimbulkan oleh buruknya kinerja ekonomi pemerintahan selama 8 tahun terakhir.

Langkah BI

Langkah Bank Indonesia (BI) mengumumkan beberapa kebijakan untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah, tidak serta merta dapat menguatkan rupiah. Sebelumnya, tenor yang tersedia adalah satu pekan, dua pekan, dan satu bulan. Hal ini dapat membantu penempatan devisa di dalam negeri oleh bank umum, ketimbang menyimpannya di luar negeri.

Disinini BI akan bertindak sebagai rekanan alias counterparty dalam transaksi forex swap. Nantinya, transaksi swap yang selama ini berlangsung antarbank akan pula melibatkan BI.

BI pun bakal meringankan ketentuan pembelian valuta asing bagi eksportir yang sudah melaporkan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Selain itu, untuk menyerap ekses likuiditas rupiah, BI pekan depan (maksudnya mulai Senin, 26/8) menerbitkan sertifikat deposito BI atau SDBI.

Akankah langkah-langkah tersebut dapat menguatkan, atau paling tidak mempertahankan rupiah tidak bertambah melorot, kita lihat saja hasilnya. analisadaily.com