BEI Klaim BI Rate Naik Jadi Sentimen Positif

NERACA

Jakarta – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan acuan suku bunga bank atau BI Rate sebesar 50 basis point menjadi 7% dengan alasan menyelamatkan nilai tukar rupiah, tidak hanya mendapatkan kritikan tajam dari pelaku ekonomi tetapi sebaliknya mendapatkan respon positif dari pelaku pasar di pasar modal.

Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Hoesen mengatakan, kenaikan BI Rate menjadi 7% mendapatkan respon positif dari pelaku pasar, “Kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi tujuh persen merupakan langkah positif, dan direspon dengan baik oleh para pelaku pasar,\"ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Hoesen, banyaknya investor asing yang sedang menarik dananya dari pasar saham dapat dijadikan peluang bagi pemodal domestik untuk memperbanyak porsi saham.\"Inikan merupakan peluang bagi investor domestik untuk masuk ke pasar, investor domestik bisa membeli saham agar menjadi mayoritas di pasar modal. Tapi, kita tidak bisa memaksa untuk membeli,\" kata dia.

Sebelumnya, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo pernah bilang, potensi kenaikan BI Rate hingga akhir tahun bakal mengancam pergerakan indeks BEI dan diyakini hanya akan menjadi sentimen negatif, “Spekulasi tentang BI rate akan terus naik, tentunya membuat kondisi IHSG menjadi melemah,”ujarnya.

Dia menyatakan, saat ini kondisi IHSG memang dalam keadaan tren menurun. Belum lagi ditambah dengan faktor luar yaitu mengenai laporan dari The Fed. Maka bila defisit semakin melebar, tentunya kondisi pasar dalam keadaan waspada, “Kondisi IHSG yang melemah akan berimbas kepada saham-saham di semua sektor tak terkecuali sektor pertambangan ataupun infrastruktur,”tandasnya.

Sementara Kepala Ekonom Bank Mandiri, Destri Damayanti mengatakan, keputusan pemerintah menaikkan BI Rate merupakan salah satu cara meredam gejolak pasar keuangan domestik, “Keputusan yang tepat, pasar menunggu \'good news\' dari Bank Indonesia,\" kata Destri.

Karena itu, dirinya memperkirakan secara fundamental nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp10.500-Rp11.000 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar rupiah yang stabil terhadap dolar AS akan dinilai positif oleh investor sehingga dana asing dapat kembali ke Indonesia.

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Eugenia Mardanugraha menegaskan, kebijakan BI menaikan BI Rate bukan langkah jitu menyelamatkan rupiah dan sebaliknya akan menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan suku bunga pinjaman rendah kepada perbankan. Dengan begitu bisa menimbulkan banyak kredit macet (NPL). (bani)

Related posts