Menunggu Angka Inflasi, IHSG Bergerak Konsolidasi

Senin, 02/09/2013

NERACA

Jakarta – Bila diawal perdagangan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jum’at akhir pekan dibuka turun 4,33 poin atau 0,11% ke posisi 4.099,26. Namun pelemahan tersebut mampu diselamatkan aksi beli pelaku pasar yang menahan indeks BEI terkoreksi. Alhasil, mengakhiri perdagangan akhir pekan kemarin, IHSG ditutup menguat 91,496 poin (2,23%) ke level 4.195,089. Sementara Indeks LQ45 melompat 21,053 poin (3,10%) ke level 701,066.

Kata analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono, penguatan indeks BEI dipicu aksi beli investor dan didorong sentimen positif kenaikan BI Rate menjadi 7%, “IHSG menguat signifikan didorong sentimen positif dari kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga, serta kembali menguatnya bursa regional Asia,”ujarnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Purwoko menambahkan, kurs rupiah juga bergerak pada kisaran yang lebih stabil, sementara imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) tenor 10 tahun untuk pertama kalinya turun dalam sepekan sebesar 14 basis poin (bps) menjadi 8,73%.

Sementara dari faktor eksternal, kenaikan bursa saham di kawasan regional didorong meredanya ketegangan di Suriah dan juga pertumbuhan ekonomi Amerika pada kuartal II 2013 yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, “Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal II 2013 tumbuh 2,5% atau melebihi ekspektasi yang sebesar 2,2%. Selain itu ada juga data tunjangan pengangguran pekan lalu yang turun,”kata Purwoko.

Berikutnya, indeks BEI Senin awal pekan diproyeksikan akan bergerak konsolidasi seiring sikap wait and see palaku pasar terhadap angka inflasi yang akan di rilis Badan Pusat Statistik dan perkembangan stimulus di AS.

Pada perdagangan akhir pekan kemarin, saham-saham unggulan yang masih murah langsung jadi incaran investor. Seluruh indeks sektoral akhirnya kompak menguat, dipimpin oleh sektor industri dasar yang melaju hingga lebih dari lima persen. Dana asing kembali masuk ke lantai bursa. Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 454,45 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 202.049 kali pada volume 7,322 miliar lembar saham senilai Rp 7,135 triliun. Sebanyak 210 saham naik, sisanya 67 saham turun, dan 77 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan akhir pekan dengan bergerak variatif. Bursa saham China dan Hong Kong berhasil naik tipis.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Unilever (UNVR) naik Rp 2.850 ke Rp 31.200, HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 2.000 ke Rp 65.500, Indocement (INTP) naik Rp 1.600 ke Rp 19.700, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 1.550 ke Rp 19.750.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Tower Bersama (TBIG) turun Rp 500 ke Rp 5.200, Bank Mega (MEGA) turun Rp 250 ke Rp 1.700, Adira Finance (ADMF) turun Rp 250 ke Rp 7.600, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 200 ke Rp 15.800.

Pada perdagangan sesi pertama, indeks BEI juga ditutup menguat 38,321 poin (0,93%) ke level 4.141,914. Sementara Indeks LQ45 menguat 6,438 poin (0,95%) ke level 686,451. Investor asing mulai melirik saham-saham murah. Maraknya aksi beli ini membuat indeks bisa melenggang positif.

Delapan dari sepuluh sektor industri di lantai bursa berhasil menguat, rata-rata penguatannya lebih dari dua persen. Dua sektor masih kena koreksi dan jadi penghambat laju indeks, yaitu sektor finansial dan infrastruktur. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 122.024 kali pada volume 2,664 miliar lembar saham senilai Rp 3,084 triliun. Sebanyak 150 saham naik, sisanya 87 saham turun, dan 73 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia masih bergerak mixed hingga sesi pertama. Pelaku pasar regional masih berhati-hati gara-gara sentimen konflik di Suriah. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) naik Rp 1.750 ke Rp 65.250, Astra Agro (AALI) naik Rp 1.200 ke Rp 19.600, Indocement (INTP) naik Rp 550 ke Rp 18.650, dan Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 525 ke Rp 4.900.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 600 ke Rp 29.900, Bank Mega (MEGA) turun Rp 250 ke Rp 1.700, Adira Finance (ADMF) turun Rp 250 ke Rp 7.600, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 200 ke Rp 15.800.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 4,33 poin atau 0,11% ke posisi 4.099,26. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 1,10 poin (0,16%) ke level 678,91, “Indeks BEI dibuka bergerak melemah pada Jumat, beberapa investor mencoba mengambil keuntungan sesaat setelah pada perdagangan sebelumnya (Kamis, 29/8), indeks BEI menguat 1,92%," kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada.

Meski demikian, pelemahan indeks BEI cenderung terbatas seiring dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi tujuh persen dan Fasilitas Simpanan BI (FasBI) menjadi 5,25%."Ruang kenaikan indeks BEI masih terbuka seiring dengan langkah BI itu," katanya.

Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng di buka melemah 64,43 poin (0,30%) ke level 21.640,35, indeks Nikkei-225 turun 56,46 poin (0,42%) ke level 13.411,75, dan Straits Times melemah 9,23 poin (0,27%) ke posisi 3.030,16. (bani)