Infrastruktur Buruk, Daya Saing Indonesia Merosot

Sabtu, 07/09/2013

Belum lama ini, World Economic Forum (WEF) menerbitkan laporan tahunan The Global Competitiveness Report 2012–2013. Seperti halnya laporan tahun-tahun sebelumnya, laporan tahunan ini menyajikan data yang komprehensif mengenai Indeks Daya Saing Global beserta unsur-unsur pembentuknya. Ada 144 negara yang masuk dalam laporan tahun ini.

Ada enam tambahan negara yang masuk daftar, yaitu Seychelles, Sierra Leone, Guinea, Gabon, Liberia dan Lybia. Ada empat negara lainnya yang tidak dianalisis untuk laporan tahun 2012 karena masalah politik dan keamanan, yaitu Tunisia dan Suriah, Belize, dan Angola. Data untuk mengukur indeks daya saing global tersebut berasal dari survei opini eksekutif di setiap negara dan data sekunder yang diperoleh dari lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia, yang berasal dari kantor statistik setiap negara.

WEF 2012-2013 menempatkan Indonesia di ranking 50 dari 144 negara. Peringkat itu melemah dari posisi 46 pada 2011. Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Infrastruktur Rakhmat Gobel mengungkapkan, salah satu penyebab penurunan peringkat daya saing Indonesia adalah masih banyaknya masalah infrastruktur di seluruh Indonesia. Di antaranya adalah masalah sektor yang menghubungkan sentra industri ke pelabuhan, masalah listrik yang belum sampai ke daerah-daerah, maupun pengadaan air bersih.

Rakhmat mengatakan, kalau pengusaha tidak segera didorong, daya saing Indonesia akan semakin hilang dan impor pun akan semakin tinggi. Dia mencontohkan, pengusaha daerah tidak dilibatkan secara langsung dalam Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang diluncurkan pemerintah sejak tahun 2011. Jadi, orang daerah seolah hanya penonton.

Semua dari pusat yang masuk, hanya sedikit pengusaha di daerah yang dilibatkan. Sebetulnya, kata presiden komisaris Grup Panasonic Gobel tu, harapan para pengusaha adalah proyek itu adalah bagian dari pembinaan pengusaha lokal. “Ini proyek pemerintah untuk membina membangun pengusaha lokal untuk menjadi pengusaha nasional yang akhirnya global. Tapi, kalau infrastruktur tidak dijalankan dan tidak ada terobosan maka daya saing kita akan lemah,” kata Rakhmat.

Dibanding negara-negara ASEAN, Indonesia menempati peringkat ke-4 setelah Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Pada 2012, negara yang paling kompetitif adalah Swiss yang mempertahankan peringkat pertama dari hampir seluruh negara di dunia sejak tahun 2009. Peringkat ke-2 adalah Singapura, disusul oleh Finlandia, Swedia, Belanda, Jerman, AS, Inggris, disusul dua negara Asia lain, yaitu Hong Kong dan Jepang. Hong Kong tahun ini berhasil menggusur Denmark dari sepuluh negara paling kompetitif di dunia.

Menurut Rakhmat, secara khusus peringkat infrastruktur Indonesia juga masih rendah dibandingkan dengan negara lain. Dari 100 negara yang disurvei WEF, Indonesia berada pada peringkat 78. “Keadaan itu melemahkan daya saing untuk menarik investasi, dan infrastruktur yang buruk juga menyebabkan ekonomi biaya tinggi,” kata dia.

Dia menambahkan, selama ini yang terjadi adalah kurang adanya koordinasi. Masing-masing bekerja secara sektoral. Kondisi infrastruktur di Indonesia masih buruk dan tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Padahal, infrastruktur menjadi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Masih kata putra Gobel ini, sebenarnya, peningkatan stok infrastruktur sebesar 1% mampu mendorong peningkatan PDB sebesar 1%. Sebaliknya, anggaran pembangunan infrastruktur hanya mencapai 5% dari PDB. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan India yang mencapai 7% PDB dan China hampir 10% dari PDB.(saksono/rin)