Upah Pekerja NAik, Laba CSPA Anjlok 20,48%

Jumat, 30/08/2013

NERACA

Jakarta – PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSPA) membukukan laba bersih anjlok 20,48% menjadi Rp 32,08 miliar akibat kenaikan upah pekerja. Padahal pada periode semester pertama tahun lalu, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp40,35 miliar.Sementara penjualan perseroan meningkat 28,9% menjadi Rp3,08 triliun, dibandingkan penjualan pada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,39 triliun. Beban penjualan perseroan juga naik menjadi Rp230,14 miliar, sementara tahun lalu Rp164,18 miliar.

Kenaikan beban penjualan yang menekan laba usaha perseroan sebanyak 9,4% menjadi Rp80,5 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp88,85 miliar. Sehingga dengan kondisi keuangan perseroan seperti ini, perseroan memprediksi akan alami penurunan laba bersih sebesar 4,87% menjadi Rp63,07 miliar.

Menurut Sekretaris Perusahaan Catur Sentosa Adiprana Tbk, Idris H Widjajakusuma, kenaikan upah membuat perseroan merubah strategi untuk dapat mengatasi melambungnya beban keuangan perseroan. Hingga akhir tahun perseroan berharap dapat meraih laba Rp60 miliar rupiah. Padahal pada tahun 2012, perseroan berhasil memperoleh laba bersih Rp 63,07 miliar.

“Sehingga dengan adanya kondisi kenaikan upah dan bahan bakar, kami akan lebih fokus mengejar penjualan produk yang bermargin tinggi di semester dua tahun ini seperti produk impor, namun penjualan atas produk impor ini hanya memberikan kontribusi 10% dari total penjualan tahun ini”, jelas dia di Jakarta (29/8).

Selain masalah tersebut, masih ada masalah mengenai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh angka 12.000. Hal ini dinilai akan semakin memperberat kinerja perseroan pada semester kedua tahun ini. Kenaikan beban upah terlihat pada kinerja keuangan perseroan di semester satu yang naik hingga 46,37% menjadi Rp101,11 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp69,78 miliar.

“Dengan adanya tekanan dalam kinerja keuangan, perseroan memutuskan untuk tidak melakukan ekspansi secara agresif. Kami tidak berencana untuk melakukan penambahan gerai Mitra 10 pada 2013 ini”, ujar dia.

Hal ini disebabkan unutk membuka sebuah gerai dibutuhkan investasi yang tidak sedikit, sekitar Rp30-40 miliar. Selain itu pada 2012 lalu perseroan sudah memiliki 20 gerai yang tersebar di wilayah Indonesia.

Sementara itu, perseroan juga telah menyiapkan rencana jangka panjang agar mendapatkan margin laba bersih yang lebih besar. Hingga semester pertama tahun ini, pendapatan perseroan masih ditopang oleh bisnis distribusi bahan bangunan sebesar 74% sedangkan ritel hanya menyumbang 26%.