IHSG Menguat, Pelaku Pasar Bisa Spekulasi Beli

Jumat, 30/08/2013

NERACA

Jakarta – Kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik hingga penutupan pada perdagangan Kamis (29/8) di level 4.103,59 cukup membuat pelaku pasar berani melakukan aksi spekulasi beli. Hal ini didorong dana asing yang tidak terlalu banyak keluar dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Setelah naik 1,9% atau 77,1 poin, investor asing yang melakukan net sell Rp85 miliar jumlah lebih kecil dibandingkan pekan lalu yang mencapai triliunan dalam satu hari perdagangan. Volume perdagangan mencapai 5,4 miliar saham senilai Rp6,6 triliun. Penguatan indeks seiring 199 saham yang menguat, 67 saham melemah dan 84 saham stagnan. Level tertinggi hari ini di 4.103,59 dan terendah di 4.026,85.

Menurut Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo, kenaikan IHSG yang cukup tinggi memang ada dua kemungkinan yaitu buyback atau fund besar lokal yang mengucurkan dana.

Dia menilai, penguatan kembali IHSG belum bisa dipastikan bertahan lama karena sentimen positif juga tidak terlalu bagus, “Belum tahu hingga kapan karena jika melihat saham perbankan saja masih cukup tertekan. Tidak adanya tekanan jual yang dilakukan asing menjadikan IHSG menguat. Kalau melihat kondisi ini secara teknikal tren IHSG menurun sudah selesai,”kata dia di Jakarta, Kamis (29/8).

Dia menilai perdagangan Rabu (28/8) kemarin, dengan posisi terendah di level 3.835 merupakan buttom untuk jangka pendek. Sehingga jika menginginkan kondisi zona hijau bertahan lama, IHSG harus bisa melalui 4.239 untuk jangka menengah. “Jika sudah melewati level tersebut berarti masa kritis sudah lewat, ada kemungkinan bisa menyentuh level 5.000 lagi hingga akhir tahun,”, ujar dia.

Namun hingga saat ini yang menjadi pertanyaan adalah kondisi IHSG saat ini, apakah memang kondisi sebenarnya atau hanya rekayasa akibat adanya aksi buyback atau fund lokal yang mengucurkan dananya cukup deras, hingga IHSG dapat masuk zona hijau lagi. Ini yang belum bisa ditebak karena memang IHSG masih berada diposisi rawan terkoreksi lagi.

Jika pada perdagangna sesi pertama, dia mengatakan, posisi berada diposisi sell on strength, namun pada penutupan perdagangan berubah ke posisi speculative buy. Perdagangan harian menjadi pilihan yang tepat dengan kondisi saat ini.

Sementara pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy menyatakan, kebijakan BI menaikan BI Rate menahan keluarnya dolar dan mendorong rupiah menguat membuat kekhawatiran pelaku pasar menurun dan terlihat dengan pergerakan IHSG yang berangsur-angsur naik, “Selain itu, beberapa BUMN yang melakukan buyback ataupun fund besar yang kucurkan dana untuk membeli saham membuat IHSG bergerak bagus,”kata dia.

Namun bahwa kenaikan IHSG dengan kondisi minim sentimen positif tidak berarti adanya goreng-gorengan saham. Menurut dia, indikasi goreng-goreng saham harus dilihat dari volumenya. Pasalnya, jika naiknya sedikit dan terjadi pada saham-saham emiten yang memang tidak likuid ada kemungkinan terjadi kecurangan itu. (nurul)