Multipolar Klaim Kinerja Tidak Terpengaruh - Dampak Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta- Manajemen PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) mengaku pelemahan nilai tukar rupiah atas mata uang dolar tidak berdampak signifikan terhadap kinerja perseroan. Meskipun, 90% dari biaya operasional untuk pembelian barang (pengeluaran) dalam bentuk mata uang dolar. “Kalau masih di kisaran Rp10.000-Rp10.500 transaksi justru diuntungkan. Namun, kalau sudah di atas 11.000 ada kekhawatiran consumer akan menahan belanjanya.” kata Wakil Presiden Direktur MLPT, Wellianto Halim di Jakarta, Kamis (29/8).

Meski demikian, sambung dia, pihaknya optimistis melemahnya nilai tukar rupiah tidak akan berlangsung lama seiring kebijakan yang diambil pemerintah. Selain itu, sekitar 60%-70% transaksi pembelian (pendapatan) perseroan juga dalam bentuk mata uang dolar. Karena itu, pihaknya optimistis perseroan dapat mempertahankan kinerja yang positif ke depan.

Menurut dia, secara rata-rata pertumbuhan teknologi meningkat sekitar 13% setiap tahun. Selain itu, perseroan juga fokus melakukan pengembangan usaha untuk meningkatkan kinerja sekaligus memenuhi permintaan pasar. Hingga semester pertama 2013, pihaknya mencatat pendapatan bersih konsolidasi sebesar Rp16,8 miliar, atau naik 42% dari Rp11,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Hasil ini diperoleh dari meningkatnya permintaan pasar akan solusi teknologi informasi antara lain dari sektor perbankan, telekomunikasi dan ritel. Sementara, laba yang diatribusikan pada entitas induk meningkat menjadi Rp20,3 miliar per 30 Juni 2013 atau meningkat dibandingkan Rp12 miliar pada 30 Juni 2012.

Presiden Direktur MLPT Harijono Suwarno mengatakan, perseroan akan segera membangun data center di wilayah Cikarang dan Karawaci. Pembangunan unit data center tersebut dimaksudkan untuk mendukung peningkatan kapabilitas penyediaan data infomasi teknologi perseroan. “Pada tahap awal pembangunan data center akan dilakukan di Cikarang. Target operasionalnya akhir 2014.” ucapnya.

Menurut dia, untuk pengembangan ini perseroan menginvestasikan dana sebesar US$100 juta. Selain kas internal, perseroan juga masih terus menjajaki beberapa perbankan lokal maupun asing untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut. “Sementara dari equity. Untuk pinjaman kita terbuka, baik bank lokal maupun luar dan masih kita jajaki.” ujarnya.

Saat ini perseroan telah memiliki data center seluas 500 hingga 600 meter persegi di wilayah Karawaci, Tangerang dan telah mencapai kapasitas yang optimal. Dengan potensi pasar di Indonesia juga terbilang masih sangat besar, pembangunan unit data center kedua di Cikarang ini diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan tersebut.

Selain pembangunan data center, perseroan juga tengah memproses pengembangan e-money. Rencananya, perseroan akan meluncurkannya pada paruh kedua tahun ini. Bahkan, untuk pengembangan e-money ini perseroan telah mengantongi 5-6 klien. “Akan launch tahun ini, namun saat ini masih dalam study requirement, persisinya bagaimana dan juga permasalahan harga. Ada sekitar 5-6 customer.” jelasnya.(lia)

Related posts