Gapura Prima Agendakan Buyback Saham

Jumat, 30/08/2013

NERACA

Jakarta – Jika emiten properti seperti PT Intiland Development Tbk (DILD) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) tidak akan melakukan pembelian saham kembali atau buyback, sebaliknya PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) berencana melakukan buyback. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (29/8).

Kata Sekretaris Perusahaan PT Perdana Gapuraprima Tbk, Rosihan Saad, langkah buyback itu mengingat kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan. Akan tetapi perseroan belum dapat menjelaskan lebih detil mengenai buyback itu. "Masih dibicarakan minggu depan,”ujarnya.

Pada perdagangan saham Kamis kemarin, saham GPRA berada di level Rp141 per saham atau naik 3,67%. Saham GPRA di level tertinggi Rp141 per saham dan level terendah Rp130 per saham. Nilai transaksi perdagangan saham mencapai Rp256,41 juta. Frekuensi perdagangan saham sekitar 109 kali.

Sementara OJK telah memberikan lampu hijau pada perusahaan plat merah yang ingin melakukan buy back. Proses selanjutnya, yakni tergantung dana masing-masing perusahaan, “Saya hanya menyediakan aturannya. Pokoknya Tergantung kocek masing-masing,”kata ketua OJK Muliaman D Hadad.

Dia menuturkan, OJK belum memantau perusahaan mana saja yang melakukan buy back. Meski demikian, kebijakan tersebut memang tergantung dari aksi perusahaan sendiri. “Kita terus sosialisasi ke para emiten, ya kemarin kita juga panggilin jadi takut ada yang belum paham, udah kita selesaikan," ujar Muliaman.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito membantah, bila buy back saham yang dilakukan oleh perusahaan BUMN akan merugikan negara, termasuk emitan BUMN itu sendiri, “Hal itu tidak akan terjadi, bahkan langkah itu akan baik mendorong IHSG untuk menguat dan juga baik bagi perusahaan BUMN yang sudah melantai di pasar modal,”tegasnya.

Menurutnya, sejauh ini banyak pemberitaan yang menggambarkan adanya ketidakpahaman tentang kebijakan buy back saham. Pada akhirnya banyak yang melakukan kesalahan karena tidak memahami secara komprehensif kebijakan yang diharapkan dapat mengangkat kembali kinerja IHSG, “Banyak pihak tak pahami buy back saham dengan baik sehingga komentar diluar koridor. Buy back saham itu hanya dilakukan oleh emiten atas saham emiten bersangkutan. Setiap manajemen melihat harga saham di pasar lebih rendah dari riil pasti mereka putuskan buy back, nanti ketika butuh modal mereka akan jual lagi, “paparnya. (bani)