Mandiri Masih Ragu Lakukan Buyback - Menunggu Harga Saham Turun

NERACA

Jakarta – Setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyetujui PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham, perseroan masih menunggu harga sahamnya dibawah nilai buku (book value). Hingga penutupan perdagangan Kamis (29/8), saham BMRI berada di level 6.950.

Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin mengakui, pihaknya telah mengajukan permintaan izin buyback saham dan telah disetujui OJK. Namun, pihaknya tidak mau langsung melakukan buyback karena masih menunggu hingga harga sahamnya dibawah book value,”Saat ini tim Bank Mandiri sedang memantau kondisi market dan ketika harga saham perseroan di bawah hitungan, maka kami langsung melakukan buyback. Secara teori seluruh investor support kalau harga saham di bawah book value,”kata dia di Jakarta, Kamis (29/8).

Dia juga menambahkan, pihaknya tidak mau jika setelah melakukan buyback harga sahamnya justru turun lagi. Sehingga dengan kondisi sahamnya yang masih berbanding seimbang, 50 banding 50, perseroan belum akan melakukan buyback.“Kita memang masih diposisi menunggu waktu yang tepat, misalnya harga saham di level 12.000 dan itu berarti masih mencerminkan 2 kali book value. Saat ini masih 1,5 kali book value, sehingga kita buyback, tapi kalau di atas bookvalue kita tidak buyback”, jelas dia.

Sementara PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) yang sudah mantap melakukan buyback, telah menunjuk PT Danareksa dan PT Mandiri Sekuritas untuk mengkaji aksi korporasi perseroan, “Kita masih lihat perkembangan market, dalam satu atau dua hari ini kita lihat lagi keadaannya. Jika turun jauh kita buyback tapi kalau naik kita tidak jadi buyback,”kata Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto.

Saat ini rencana tersebut sudah masuk dalam kajian tim manajemen dan termasuk penjamin emisi. Soal pendaaan untuk buyback, perseroan masih mengandalkan dana kas yang diklaim masih cukup kuat, “Kas kami masih kuat, per semester pertama ada Rp3 triliunan, itu cukup. Kami telah siapkan Rp 200 sampai 500 miliar untuk buyback,”tegasnya

Pekan lalu OJK mengeluarkan peraturan OJK Nomor 02/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad mengatakan, perusahaan dapat membeli kembali sahamnya sampai batas maksimal 20% dari modal disetor tanpa persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Hal ini diberlakukan untuk mempermudah emiten yang tidak ingin sahamnya semakin merosot.

Sebagian BUMN yang telah melakukan RUPS telah mengatur mekanisme buyback. Namun beberapa yang belum RUPS, telah disetujui Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk melakukan buyback sahamnya. Kebijakan hal ini, kata Dahlan tidak akan jalan sendiri karena akan akan berada dalam koordinasi kebijakan pemerintah secara makro. (nurul)

BERITA TERKAIT

Ancaman Covid-19 - Reksa Dana Terproteksi Marak Diterbitkan

NERACA Jakarta – Meskipun kondisi pasar modal saham lesu, namun minat penerbitan produk investasi di pasar masih ramai. Berdasarkan siaran…

Jaga Stabilitas Harga Sahan - Telkom Buyback Saham Rp 1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Melaksanakan anjuran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk memperbaiki ekonomi dan melakukan stabilisasi harga saham…

Dukung Physical Distancing - Sisternet-Siberkreasi Lakukan Kelas Edukasi Online

NERACA Jakarta - Mewabahnya COVID-19 di Indonesia tidak menghalangi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) melalui Sisternet untuk terus melanjutkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Beban Keuangan Membengkak - Perolehan Laba Adi Sarana Turun 23,06%

NERACA Jakarta – Di balik agresifnya ekspansi bisnis PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) menambah armada baru, namun hal tersebut…

Penjualan Delta Djakarta Melorot 7,38%

NERACA Jakarta – Emiten produsen minuman alkohol, PT Delta Djakarta Tbk (DLTA) membukukan laba bersih sebesar Rp317,81 miliar, melorot 6,01%…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Saraswanti Oversubscribe 19,94 kali

NERACA Jakarta – Di tengah badai penyebaran Covid-19 yang masih, minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal masih tinggi.…