Pertimbangan Memilih Wakil Rakyat

Oleh : Umar Natuna, Pemerhati Sosial dan Politik.

Jumat, 30/08/2013

Komisi Pemilihan Umum ( KPU) telah mengeluarkan Daftar Calon Tetap (DCT) wakil rakyat yang akan dipilih dalam pemilu 2014 mendatang. Untuk anggota DPR-RI ada 6.608 caleg yang akan bertarung. Sementara yang akan duduk di Senayan ada sebanyak 560 orang. Sedangkan DCT untuk provinsi Kepri berjumlah 512 orang. Sementara yang akan terpilih untuk duduk di DPRD Provinsi, Kabuaten /Kota tak lebih dari 100 orang saja. Jika kita mencermati angka DCT dengan jumlah orang yang akan duduk atau terpilih tentulah sangat tidak berimbang. Terlalu banyak calon jika dibandingkan keperluan. Itu artinya, banyak DCT yang akan gugur alias tidak akan terpilih dari pada yang terpilih.

Inilah yang menjadi persoalan. Dimana kita sebagai pemilih dihadapkan pada persoalan harus memilih. Sementara untuk memilih bukanlah persoalan gampang. Apalagi memilih orang yang akan duduk di DPR-RI dan DPRD Provinsi serta Kabupaten/kota. Sebab kalau kita salah pilih, maka lima tahun kedepan kita akan berada dalam suatu kondisi yang serba salah; mandeg, statis, vakum dan tidak berkeadaban. Karena mereka yang mempunyai kebijakan anggaran, legislasi, dan pengawasan tersebut tidak akan berperan sebagaimana yang kita harapkan. Mereka hanya akan datang, duduk, dengar dan duit. Atau sebaliknya, mereka hanya membuat kebijakan yang menguntungkan diri dan kroninya. Sementara para DCT akan terus mengkampanyekan dirinya dengan berbagai cara agar ia dianggap paling pantas dan layak dipilih.

Apa pertimbangkan kita dalam memilih wakil rakyat 2014 mendatang? Tidak gampang menjawabnya, selain karena masing-masing kita sebagai pemilih sudah memiliki anggapan-anggapan sendiri-sendiri. Juga dikarenakan memang tidak standar, kualifikasi dan kapasitas seseorang yang layak untuk dipilih jadi wakil rakyat. KPU sama sekali tidak memberikan rambu-rambu, semua diserahkan kepada pemilih. Bagi mereka yang berafiliasi dengan Partai, maka pertimbangan Partailah yang akan didahulukan dalam menentukan pilihan. Tidak menjadi persoalan, kalau pun calonnya kurang baik yang penting ia berasal dari Partai-ku. Bagi seorang pengusaha maka ia akan memilih seseorang yang kira-kira mau memperjuangkan kepentingan usahanya, tidak persoal, apakah ia layak atau tidak. Bagi rakyat kecil, yang penting siapa yang akan memberi uang yang lebih banyak, maka itulah yang akan dipilih. Tidak berpikir apakah ia akan mampu mengakomodiri aspirasi dan perbaikan nasibnya nanti. Karena yang ada dalam pikirannya, inilah saatnya kita untuk dapat menikmati uang dengan gampang, setelah itu kita tidak mungkin lagi. Karena mereka yang terpilih akan terus memperjuangkan kepentingan pribadi mereka.

Sementara itu situasi bangsa, negara dan masyarakat berada dalam kondisi terpuruk. Nilai rupiah terus mengalami pelemahan. Harga-harga barang terus mengalami kenaikan. Daya beli masyarakat terus terjun bebas. Ketergantungan dengan dunia luar terus mendera kita. Kita hanya sebagai boneka luar dalam politik dan perekonomian. Dalam konteks budaya kita mengalami keterjajahan budaya yang luar biasa. Berbagai acara, kegiatan dan pola hidup dari dunia luar kita kita mamah semuanya. Maka tidak heran jika MUI menolak acara konteks Miss World banyak yang tidak setuju. Karena kita memang sudah terjajah secara budaya. Dalam konteks produk makanan, pakaian dan gaya hidup kita belum merasa menjadi “orang” kalau belum memakan, minum dan berpakaian sebagaimana dilakukan dunia luar, terutama Barat. Maka narkoba, perselingkuhan dan kawin cerai serta lainnya terus merebak menjadi pilihan gaya hidup sebagian masyarakat kita. Akibatnya terjadilah berbagai krisis sosial, kemanusiaan dan nasionalisme.

Dalam suasana yang demikian, maka pertimbangan kita dalam memilih wakil rakyat tentunya tidak didasarkan pada politik uang, dinasti atau figur semata. Namun, didasarkan atas pertimbangan nasib bangsa, daerah, dan masa depan masyarakat yang masih tertindas dalam soal ekonomi, sosial dan kebodohan. Sebagai pemilih yang cerdas dan mandiri, kita mestinya memilih wakil rakyat yang dapat mengangkat derajat bangsa dan negara dari keterjajahan politik, ekonomi dan budaya. Kita mestinya, memilih wakil rakyat yang maun mendengar, memperhatikan dan bersama-sama memperbaiki nasib rakyat. Bukan mereka yang membeli suara, menjual citra diri dan sholeh secara instans. Kita mestinya tidak tertipu oleh citra diri yang dibangun melalui media, kesholehan instans dan keramah tamahan yang bersifat pura-pura.

Mengingat wakil rakyat adalah wakil kita, maka dalam memilihnya kita paling tidak berpegang pada kriteria tertentu. Pertama, ia mestinya seiman. Yakni keimanan yang dinamis, bukan statis dan buka pula pasif. Hal ini penting sebab dalam Islam, salah satu tujuan bersyariat (maqasyid syariah) adalah menjaga dan menyelamatkan iman kita. Karena itu kita sangat berkepentingan terhadap wakil rakyat mampu menjaga dan menyelamatkan iman kita. Karena mereka memiliki hak anggaran dan legislasi. Jangan sampai kebijakan anggaran dan legislasi justru menghancurkan iman umatnya.Kedua, mereka yang berpikir merdeka, mandiri dan kuat nasionalismenya. Sebab kita saat ini dihadapkan pada keterjajahan ekonomi, politik dan budaya. Jika dalam hal ini kita lengah, maka kita akan menjadi bangsa budak di kemudian hari. Oleh karenanya, kita memerlukan wakil rakyat yang mandiri, merdeka dan berjiwa nasionalisme yang kuat.

Ketiga, mereka yang dekat dengan rakyat. Dekat dalam arti mau memahami dan membantu penyelesaian masalah-masalah besar dikalangan orang kecil. Selama ini wakil rakyat hanya dekat dengan masalah yang dihadapi orang besar seperti proyek, bansos, dan pembagian kekuasaan. Kedepan kita memerlukan wakil rakyat yang dekat masalah besar dikalangan orang kecil seperti kemiskinan, keadilan, kebodohan dan keterbelakangan. Kedekatannya bukan karena mau dipilih saja, melainkan selama ini memang ia dekat dan komitmen untuk perubahan dan perbaikan nasib rakyat kecil.

Keempat, yang kita pilih adalah mereka yang negarawan, bukan mereka yang akan mencari pekerjaan atau penghidupan di DPR/DPRD. Seorang negarawan ia mesti terpanggil untuk mengayomi, melindungi dan mengambil resiko yang dihadapi masyarakat dan negaranya. Bukan orang lari dari persoalan yang dihadapi rakyatnya. Bukan orang untuk melanggengkan kekuasan pribadi dan dinastinya. Bukan pula orang menjajakan diri, bahwa ia baik dan pantas dipilih. Bukan pula orang ingin memuluskan agenda proyeknya. Kelima, yang memiliki integritas dan pendidikan yang jelas jenjang dan alurnya. Tidak jarang kita jumpai calon wakil rakyat yang tak jelas riwayat pendidikannya. Tiba-tiba bergelar DR, MM, Msi, S.Sos dan seterusnya tanpa kita tahu kapan dan dimana ia Kuliah S1 dan S2-nya. Karena itu, kita minta KPU dan Baswaslu untuk memvalidasi dan memverikasi soal status pendidikan dan ijazah yang mereka miliki. Hal ini penting, sebab selama ini keberadaan pendidikan yang tak jelas telah menghancurkan dunia pendidikan kita.

Keenam, pilihlah mereka yang memiliki kontribusi dan pengabdian yang jelas dan terukur dalam masyarakat. Bukan mereka tiba-tiba menjadi dermawan, tiba-tiba sangat sholeh, tiba-tiba sangat aktif dalam kegiatan masyarakat. Pilihlah mereka yang telah lulus seleksi alam dalam kiprah kehidupan masyarakat.

Itulah beberapa kriteria yang mestinya menjadi panduan kita dalam memilih wakil rakyat kita.Hal ini tidak mudah, karena itu kita perlu jihad sosial dalam politik. Jihad dari politik kualitas rendah menuju politik kualitas tinggi. Tanpa itu, demokrasi hanya akan melahirkan wakil dan pemimpin yang buruk. Demokrasi hanya akan menjadi orang berkualitas direndahkan oleh mereka yang tidak berkualitas. Itulah pilihan sejarah; jika kita ingin keluar dari kehancuran dan keburukan demokrasi. Atau kita lakukan revolusi dengan memosisikan diri sebagai golput (golongan yang tidak memilih sama sekali) yang berimbas matinya demokrasi sekular ini. Wallahualam Bisyawab. haluankepri.com