Dua Bank BUMN Siap Kucurkan KUR

Selamatkan Industri Mikro Kecil

Kamis, 29/08/2013

NERACA

Jakarta - Kalangan perbankan memprediksi, untuk menyelamatkan industri tahu dan tempe yang terancam bangkrut, diperlukan dana sebesar Rp1,5 triliun akibat kenaikan harga bahan baku kedelai dalam beberapa waktu terakhir. Dua bank milik pemerintah, PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, mengaku siap mengucurkan kredit guna membantu pengusaha mikro kecil tersebut.

Managing Director Commercial & Business Banking Bank Mandiri, Sunarso, mengatakan bahwa kebutuhan kedelai Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakopti) diperkirakan sekitar 120 ribu ton per bulan. Apabila harga kedelai berkisar Rp8.000-Rp8.500 per kilogram, maka total omzet mencapai rata-rata Rp2,5 triliun. Dari omzet tersebut, kata Sunarso, diperkirakan kebutuhan kredit untuk pelaku usaha agar bisa mempertahankan usahanya sekitar Rp1,5 triliun.

"Pada dasarnya ini bukan jumlah yang besar. Tapi, ini akan terpecahkan dengan skema kredit dan plafon yang ada, yakni melalui Kredit Usaha Rakyat atau KUR," kata dia di Jakarta, Rabu (28/8). Senada, Direktur Bisnis dan UMKM BRI, Djarot Kusumayakti, menuturkan pihaknya menyadari saat ini para pengusaha mikro kecil, yaitu perajin tahu dan tempe sedang mengalami kesulitan.

BRI, lanjut Djarot, menyatakan diri siap untuk membantu para perajin tersebut melalui skema kredit yang sudah ada yakni KUR. "Kami tidak memiliki batasan anggaran untuk KUR, berapa pun yang mereka butuhkan kami siap," tegasnya. Dia menegaskan, likuiditas perbankan saat ini masih sangat cukup, dan hal itu didukung oleh komitmen pemerintah dalam hal penjaminan KUR berikut banyaknya jumlah perajin tahu dan tempe di Indonesia.

"Tidak ada batas, pokoknya sebanyak perajin yang membutuhkan kami akan siapkan," tambah Djarot. Menurut dia, skema KUR merupakan skema kredit yang sangat fleksibel dan mudah diakses oleh pelaku usaha mikro. Diperkirakan kebutuhan kredit perajin tahu-tempe berkisar Rp1 juta-Rp20 juta. Artinya, KUR mikro masih sangat bisa menyerap kebutuhan para perajin tahu-tempe.

Diminta “berkorban”

Di tempat terpisah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menginginkan agar sektor perbankan di dalam negeri agar dapat berkorban dalam rangka untuk memulihkan kondisi perekonomian domestik yang kini sedang melemah. "Dari sisi moneter, perbankan diharapkan dapat sedikit berkorban," pinta Ketua Umum Kadin, Suryo Bambang Sulisto, dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR, di Jakarta, kemarin.

Menurut Suryo, pihaknya meminta agar sektor perbankan bersedia berkorban antara lain dengan menaikkan suku bunga deposito tanpa menaikkan suku bunga kredit. Dia juga mengingatkan, pihak perbankan yang beroperasi di Indonesia kerap menikmati keuntungan yang besar.

"Ekonomi nasional sedang sakit. Bila obatnya ternyata harus terasa sakit, ya, tidak mengapa. Perbankan bisa berkorban dengan mengecilkan keuntungannya," keluh Suryo. Dia juga menyarankan kepada pelaku usaha yang masih mampu agar meningkatkan ekspor sehingga bisa diberikan kemudahan kredit oleh perbankan.

Kemudahan tersebut, ujar dia, antara lain adalah dengan diberikan kemudahan prosedur dan insentif antara lain dengan diberikannya pinjaman lunak untuk modal kerja. Kadin sendiri juga mengusulkan pendirian adanya pusat pengelolaan untuk membantu para pengusaha terutama yang masih memiliki sejumlah kesukaran seperti untuk izin usaha. [ardi/rin]