KKP Sebut Penangkapan Ikan di WPP Tak Merata

Keanekaragaman Hayati Laut Indonesia Terbesar di Dunia

Kamis, 29/08/2013

NERACA

Jakarta – Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, dalam 5 tahun terakhir telah terjadi perubahan cukup signifikan terhadap potensi laut dunia. Bahkan Laporan Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2012 menunjukkan produksi ikan dunia dari kegiatan penangkapan di laut maupun diperairan umum cenderung stagnan dalam 5 (lima) tahun terakhir, yaitu dari 90,0 juta ton pada tahun 2006 menjadi 93,5 juta ton pada tahun 2011. Indonesia, sebut KKP, juga mengalami hal serupa. Potensi lestari sumberdaya perikanan tangkap laut Indonesia adalah sekitar 6,5 juta ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan mencapai 5,71 juta ton pada tahun 2011 (77,38%).

“Dengan pemanfaatan sumber daya perikanan laut tersebut, harus diakui bahwa di beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) tertentu seperti Laut Jawa, telah terjadi lebih tangkap atau over fishing. Sementara di perairan lainnya seperti Laut Cina Selatan, Arafura dan lain sebagainya, potensi ikannya belum dimanfaatkan secara optimal,” papar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C. Sutardjo pada Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dalam Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan, di Universitas Diponegoro Semarang Jawa Tengah, Selasa (27/8).

Data KKP juga menyebut, dasar laut Indonesia sangat kompleks dan tidak ada negara lain yang mempunyai topografi dasar laut begitu beragam seperti Indonesia. Hampir segala bentuk topografi dasar laut dapat dijumpai, seperti paparan dangkal, terumbu karang, lereng curam maupun landai, gunung api bawah laut, palung laut dalam, basin atau pasu yang terkurung dan lain sebagainya.

“Karakteristik ini menjadikan Lautan Indonesia merupakan wilayah Marine Mega-Biodiversity terbesar di dunia, memiliki 8.500 species ikan, 555 species rumput laut dan 950 species biota terumbu karang,” ujar Sharif.

Sharif menegaskan, laut Indonesia pada dasarnya menyimpan berbagai sumberdaya alam yang dapat dijadikan modal pembangunan nasional. Karena itu, berbagai kegiatan ekonomi yang berbasis kelautan dapat dikembangkan, dalam rangka membangun masyarakat Indonesia yang sejahtera. Kondisi ini merupakan anugrah yang sangat besar bagi pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan. Indonesia merupakan negara maritime dengan luas lautan mencapai 5,8 juta km2 yang terdiri dari perairan teritorial, perairan laut 12 mil dan perairan ZEE Indonesia.

Indonesia juga memiliki 17.504 buah pulau dengan panjang garis pantai 104.000 km. “Karakteristik arus laut di Indonesia juga khas. Dari Samudera Pasifik melewati kepulauan Nusantara menuju Samudera Hindia merupakan indikator muncul dan lenyapnya El-nino dan La-nina. Indikator ini mempengaruhi perubahan iklim global, dan berdampak pada kemarau panjang, banjir, gagal panen, kebakaran hutan serta naik turunnya produksi perikanan,” jelasnya.

Potensi Perikanan

Dijelaskan, disisi lain dalam beberapa tahun terakhir, produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan lebih tinggi dibandingkan produksi perikanan tangkap, Produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan cukup pesat, yaitu dari 47,3 juta ton menjadi 62,7 juta ton. Potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar, apabila memasukan potensi budidaya air tawar seperti kolam (541.100 ha), budidaya diperairan umum (158.125 ha) dan mina-padi (1,54 juta ha).

Di samping itu, potensi perikanan budidaya payau (tambak) mencapai 2,96 juta hektar dan baru dimanfaatkan seluas 682.857 hektar (23,04%) serta potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektar dengan tingkat pemanfaatan yang relatif masih rendah, yaitu sekitar 117.649 hektar atau 0,94 persen.

“Produksi perikanan memang tumbuh sangat positif. Tercatat, ekspor hasil perikanan telah mengarah pada produksi bernilai tambah, dengan pertumbuhan pada periode 2011 – 2012 sebesar 11,62 persen. Sedangkan nilai impor periode yang sama mengalami penurunan sebesar 15,43 persen. Dengan demikian, neraca perdagangan perikanan pada tahun 2012 mengalami surplus sebesar US$ 3,52 milyar,” jelasnya.

Blue Economy

Menurut Sharif, pembangunan kelautan dan perikanan selama ini telah membawa hasil menggembirakan.Namun dengan perubahan tatanan global yang berkembang dinamis, menuntut adanya percepatan pembangunan kelautan dan perikanan. Guna mendorong percepatan pembangunan sektor Kelautan dan Perikanan, dan menjamin pembangunan sektor kelautan dan perikanan berlangsung secara berkelanjutan, diperlukan pendekatan Blue Economy dalam pembangunan menjadi sangat penting dan strategis. Blue Economy merupakan model ekonomi baru untuk mendorong pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dengan kerangka pikir seperti cara kerja ekosistem.

“Paradigma Ekonomi Biru telah mengajak kita belajar dari alam, sehinggapada akhirnya akan menjamin bahwa suatu pembangunan yang dijalankan tidak hanya akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga menciptakan lebih banyak lapangan kerja sekaligus menjamin terjadinya keberlanjutan,” jelasnya.

Sharif menjelaskan, penerapan konsep Ekonomi Biru akan terus dikaji dan disempurnakan. Diantaranya, tanggal 26 November 2012 dilaksanakan workshop dengan thema “Blue Economy, Menuju Pembangunan Kelautan dan Perikanan Berkelanjutan”.