Diklaim Belum Masuki Krisis Tidak Pengaruhi Pasar

IHSG Kembali Rontok 3,17%

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta – Berbagai macam cara dilakukan pemerintah untuk meredam kepanikan pelaku pasar modal lantaran terus anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dalam sepekan kemarin dan juga nilai tukar rupiah terhadap dolar tembus Rp 11.000. Salah satu cara yang dilakukan pemerintah adalah memberikan statmen optimisme jika kondisi ekonomi saat ini belum krisis.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, ekonomi Indonesia belum masuk masa krisis seperti era 1998 atau 2008 dulu. "Dalam kondisi ekonomi yang tidak biasa ini, ekonomi Indonesia belum krisis tapi kita harus mewaspadai gejolak pasar keuangan dan nilai tukar," kata Chatib.

Menurutnya, pelemahan IHSG maupun rupiah saat ini masih merupakan dampak penghentian stimulus fiskal dari bank sentral Amerika Serikat ke pasar. Apalagi gonjang ganjing kondisi bursa saham India dan Thailand juga signifikan. Apa yang disampaikan Chatib Basri, rupanya dinilai banyak analis tidak memberikan dampak positif ataupun meredam kkhawatiran pelaku pasar.

Bahkan sebaliknya, mengakhiri perdagangan Selasa(27/8) kemarin, IHSG ditutup anjlok 152 poin ke level 3.967,842 atau berkurang hingga 3,71%. Indeks LQ45 juga tercatat negatif dengan kehilangan 26 poin ke tingkat 651,872. Pelemahan cukup dalam dialami sektor saham properti hingga terkoreksi 7,01% ke level 339,95, sektor saham aneka industri melemah 5,39% ke level 995,26 dan sektor saham industri dasar melemah 4,93% ke level 423,39. Total volume perdagangan saham sekitar 5,65 miliar saham dengan nilai transaksi perdagangan saham Rp5,66 triliun.

Menurut analis Trust Securities Reza Priyambada, pernyataan Menteri Keuangan tersebut tidak cukup membantu menenangkan karena indeks memang masih cukup “nyaman” berada di zona merah. “Saat ini indeks masih nyaman di zona merah, jika dana asing keluar saya belum bisa sebutkan target akan berada diposisi berapa, namun kemarin 4.120 tembus, 4.060 tembus. Dan sekarang masih ada target di 3.886-3.944,”ujar dia.

Kembali Terkoreksi

Sementara itu, Direktur CIMB Principal Asset Management, Fajar Hidayat mengungkapkan, sejak periode 22 Mei hingga 22 Agustus telah menunjukan indeks sudah terkoreksi hingga 20% dengan asing menarik dana hingga Rp320 triliun.

Menurut dia, beberapa analis memperkirakan jika asing melakukan penarikan dana lagi, indeks akan ke level 3.500-3.600 dan membuat market lebih buruk dari kondisi India. Hal senada juga disampaikan, Kepala riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menyatakan bahwa yang ditunggu pelaku pasar adalah detail dari paket 4 kebijakan pemerintah bukannya pernyataan atau himbauan saja.

Menurut dia, meskipun terlambat, detail paket 4 kebijakan tersebut akan membantu menenangkan pasar, “Memang pemerintah hobinya berlambat-lambat tapi memang detail ini ditunggu pelaku pasar untuk melihat apakah akan memberi sentimen positih bagi indeks. Ini menjadi masalah kepercayaan diri pasar,”kata dia.

Hingga saat ini, dia belum bisa menyatakan level buttom indeks yang sedang meraba-raba posisinya. Kemarin sudah dicoba untuk diposisikan sebagai buttom namun gagal dan hingga level 3.990 masih ada support, “Kemungkinan bisa dikisaran 3.700-3.850 dan di level ini baru ada support lagi. Kondisi sekarang juga merefleksikan pelaku pasar yang kehabisan kesabaran karena rupiah sempat menguat tetapi sekejap kemudian alami pelemahan lagi”, jelas dia.

Diakui dia, perekonomian Amerika Serikat (AS), negara-negara Eropa dan Asia sudah mulai membaik. Hal ini disebabkan rentetan perbaikan ekonomi AS yang memberi stimulus bagi ekonomi negara lain. Namun, hanya Indonesia sendiri yang mengalami pelemahan. Sehingga dia khawatir jika koreksi terjadi hingga Senin depan, diperkirakan indeks akan semakin kacau. Dia juga melihat bahwa indeks hang Seng Hongkong sudah terlihat kena dampak ini, “Kita sendiri yang kurang antisipasi dan tidak tanggap menghadapi masalah ekonomi yang akan datang. Padahal seharusnya kebijakan-kebijakan pemerintah dapat meredam kekhawairan. Ini karena pemerintah yang senang berlambat-lambat”, ujarnya.

Pelaku Spekulan

Sebaliknya, analis saham PT Aspirasi Indonesia Research Institute Yanuar Rizky menilai, terus melemahnya indeks saham di pasar modal tidak lain karena spekulasi atas rumor di pasar keuangan.

Selain itu, ada 'pemain-pemain' di pasar modal yang memang sengaja melemahkan IHSG untuk bisa mengerek dolar."Jangan ditafsirkan jika IHSG turun karena rupiah melemah, justru sebaliknya. Penurunan saham dijadikan alat untuk mengerek dolar AS. Kurs melambung karena sahamnya digoreng sampai ke bawah," kata Yanuar.

Dia menjelaskan, pelemahan IHSG tidak lagi dikaitkan dengan sentimen ekonomi global maupun dalam negeri. Menurutnya, volatilitas di pasar saham memang biasa terjadi. Justru, kata dia, gejolak IHSG yang terjadi saat ini lebih karena spekulan-spekulan dan pemain-pemain saham yang ingin mengeruk keuntungan dari pelemahan rupiah dan anjloknya indeks saham."Pemain di pasar modal sudah sangat tahu kondisi ekonomi akan begini. Semua sudah siap di posisinya masing-masing. Pemain-pemain kan sengaja membuat kondisi seperti ini untuk cari untung sebesar-besarnya," jelasnya.

Yanuar menambahkan, seharusnya otoritas terkait perlu turun tangan untuk bisa mencegah spekulan atau pemain yang hanya mengambil keuntungan atas kondisi ini."Masa OJK, bursa, BI hanya bisa melihat ini di permukaan saja. Ini sebenarnya ada play maker bukan semata-mata kondisi ekonomi global atau dalam negeri. Cek dong di lapangan," kata Yanuar. (nurul)