Cadangan Batu Bara Menipis, Perlu Dilakukan Pengembangan Teknologi

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta - Krisis energi kerap melanda industri dalam negeri. Pasalnya, cadangan batu bara dalam negeri kian menipis. Untuk itu diperlukan langkah strategis untuk mengoptimalisasi cadangan yang tersisa.

“Cadangan batu bara kita yang sudah diketahui tinggal 28 miliar kilo ton. Volume itu hanya bisa memenuhi kebutuhan energi kita hanya sampai 50 tahun. Makanya, kami mengajak para investor batu bara untuk menanam modalnya lebih banyak untuk mengembangkan teknologi. Agar batu bara yang tersedia dapat digunakan seefektif mungkin,” jelas Sekretaris Jenderal Global Coal Summit 2013, Pandu Sjahrir, di Jakarta, Selasa (27/8).

Dengan pengembangan teknologi eksplorasi batu bara, maka peningkatan efisiensi sumber energi tersebut dapat didorong. Sebab dengan teknologi yang mutakhir maka keberadaan batubara dapat dibuat produksi turunannya. Jika selama ini hanya kalorinya saja yang bisa dimanfaatkan maka dengan memaksimalkan efisiensi batu bara dapat juga dijadikan gas.

“Yang paling penting multiplier effect dengan pengembangan teknologi untuk batu bara. Salah satunya selama ini saja industri batubara bisa menyerap satu juta tenaga kerja. Jika perkembangan teknologinya digenjot maka penyerapannya akan semakin lebih besar. Terlepas dari itu juga akan mengahasilkan produk-produk turunan,” papar Pandu.

Dia melanjutkan dalam skema penanaman modal untuk pengembangan teknologi eksplorasi batu bara para investor harus memilliki keberanian. Karena multiplier effect yang ditimbulkan melalui pengembangan teknologi itu memiliki nilai return mencapai 15%. Artinya dengan angka sebesar itu ia berharap semestinya para investor mau melangkah lebih jauh dan tidak takut pada risiko.

“Sekarang kita sudah punya dua power plan dengan hasil transmisi mencapai 24 kilo ton. Itu bagus karena nilai return-nya sudah mencapai 8%. Jika para investor juga mau menanam investasi untuk pengembangan teknologinya return bisa mencapai 15%. Jadi kenapa mesti takut sama risiko,” kata Pandu.

Kemudian Pandu juga menekankan bahwa hasil eksplorasi batu bara dalam negeri semestinya dapat dipergunakan untuk industri dalam negeri secara keseluruhan. Pasalnya, selama ini kebutuhan batubara dalam negeri masih dipasok dalam kisaran 60 hingga 80 juta ton. Sedangkan jumlah tersebut bisa dibilang masih kurang.

Lebih lanjut Pandu mengatakan selama ini kebutuhan industri dalam negeri sebagiannya masih memanfaatkan solar sebagai modal produksinya. Padahal batu bara jauh lebih efektif dan murah dibanding harga solar. Jika hal ini terus berlangsung dia khawatir pertumbuhan ekonomi dalam negeri juga akan terus turun.

“Pertumbuhan ekonomi kita bisa terus turun sampai di bawah 5% kalau pasokan batubara untuk dalam negeri masih minim. Harusnya kita bisa melihat Cina yang sangat menjaga pasokan batu bara untuk industri dalam negerinya. Seluruh batu bara dalam negeri di Cina hanya dipasok untuk negerinya sendiri. Bahkan China juga mengkonsumsi yang impor,” tegas Pandu.

Kemudian Pandu mengungkapkan jumlah ekspor batubara dalam negeri terbilang sangat tinggi. Dari seluruh total produksi yang ada sekitar 75% atau 380 juta tonnya untuk ekspor. Selain itu, Indonesia juga memasok seperempat kebutuhan batubara dunia. “Jumlah itu sangat besar. Semestinya kita harus lebih peduli pada industri dalam negeri terlebih dahulu,” tukasnya. [lulus]