Industri Maritim Butuh Investasi Lebih Besar

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta - Masa depan industri bahari Indonesia masih cerah dan menggairahkan mengingat dua pertiga wilayah Indonesia berupa laut dengan potensi dan prospek yang sangat luar biasa. Maka dari itu, butuh banyak lagi menarik investor baik lokal maupun international untuk mau berinvestasi pada industri maritim di Indonesia.

“Melihat kondisi negara yang dua pertiganya laut prospek dan potensi untuk mengembangkan industri maritime sangat besar di Indonesia. Untuk itu, harus mampu menjaring lebih banyak lagi investor domestik maupun International agar ikut serta memajukan industri maritim nasional,” kata Tjahjono Roesdianto, Ketua Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia (IPERINDO), saat Konferensi Pers Pameran Maritim Indonesia atau Indonesia Maritime Expo (IME) 2013 di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Jakarta, Selasa (27/8).

Pertumbuhan industri maritim berada di angka 6,3% dan tahun ini ditargetkan naik menjadi 6,4%, dengan kondisi ada sekitar 12 ribu kapal dan memiliki 230 industri galangan kapal, namun begitu di Indonesia belum ada pabrik yang mampu membuat komponen untuk membuat kapal. Dan sejauh ini komponen harus impor dari luar.

Hampir seluruh komponen pembuatan kapal harus impor dari luar, sedangkan dengan kondisi ekonomi dan melemahnya rupiah. Untuk para pelaku bisnis maritim terseok-seok. “Dengan jumlah kapal berbendera Indonesia yang mencapai 12 ribu unit, seharusnya juga disokong oleh industri komponen kapal yang memadai. Namun saat ini hal itu belum bisa dicapai,” ujarnya.

Sejauh ini, nilai impor komponen kapal selama 2 sampai 3 tahun belakangan mencapai US$50 sampai 60 juta dolar dengan komponen paling mahal untuk mesin kapal karena spesifiknya mesin kapal. Tingginya nilai impor selama kurun waktu itu karena adanya kegairahan pembangunan kapal untuk memenuhi kebutuhan pasokan dalam negeri seperti untuk Kementerian Perhubungan dan TNI. Jika melihat kondisi ekonomi dan melemahnya rupiah saat ini, angka belanja komponen pasti akan meningkat.

“Di tengah situasi melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar saat ini diakuinya cukup memberatkan pengusaha galangan kapal. Perusahaan mau tidak mau harus menerapkan strategi agar tetap bisa bertahan dari kondisi nilai rupiah yang fluktuatif tersebut,” jelasnya.

Maka dari itu, kita bisa mulai membangun industri komponen dalam negeri, untuk mengatasi fkluktuasi itu. Caranya,dengan bisa mengajak para investor baik nasional maupun international untuk bisa berinvestasi untuk membangun pabrik komponen di Indonesia. “Intinya harus menjaring investor untuk bisa berinvestasi baik investor nasional maupun international,” tegasnya.

Pagelaran IME

Sebanyak 144 perusahaan maritim international dari 25 negara akan ikut andil dalam pagelaran Indonesia Maritime Expo (IME), yang akan diselenggrakan pada 5 - 7 September 2013, di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Denga mengangkat tema “The Gateway to Indonesia Rising Maritime Market” atau Gerbang Menuju Pasar Bahari Indonesia yang Berkembang.

“Pameran IME akan digelar di Indonesia, September besok yang akan diikuti 144 perusahaan maritim, dari 25 negara,” kata Yeow Hui Leng, Senior Project Director, IME, di Hotel Intercontinental Mid Plaza, Jakarta, Selasa.

Menurut Carmelita Hartato, Ketua, Indonesia National Shipowners Association (INSA) Pameran IME 2013, merupakan gerbang perkembangan industri maritim di Indonesia. “Dari ajang seperti IME ini kita bisa mengenal dan membangun komunikasi dengan investor industri maritim international untuk bisa berinvestasi di Indonesia, serta menunjukan potensi bahari nasional kepada negara lain” katanya.

Karena memang, lanjut Carmelita prospek industri maritim Indonesia kedepan masih sangat menjanjikan. Ini terlihat dari lima tahun terakhir dimana pertumbuhannya mencapai 6,3 persen per tahun seiring dengan pemberlakuan asas cabotage. “Target tahun ini diperkirakan naik, tumbuh menjadi 6,4 persen,” imbuhnya.

Dalam 3 tahun kedepan, sambungnya, industri maritim membutuhkan 325 unit kapal offshore, 80 kapal pengeboran dengan investasi rata-rata US$20 juta per unit. Kebutuhan kapal ini menjadi peluang investor nasional dan internasional dan perusahaan pelayaran nasional juga siap bekerjasama. “Setiap tahunnya, Indonesia membutuhkan kurang lebih 1000 kapal, kondisi ini jelas membutuhkan lebih banyak investor baik nasional maupun international,” jelasnya.

Sedangkan menurut Afrida Sustan Roesdianto, Kasubdit Industri Bangunan Lepas pantai & Komponen Direktorat Industri Mariti, Kedirgantaraan & Alat Pertahanan, Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Tekhnologi Tinggi, Kementrian Perindustrian, mengatakan, Ajang event maritime memang harus sering dilakukan untuk mempromosikan industri maritime Indonesia.