Pasar Menunggu Tindakan Cepat Otoritas - IHSG Mendekati Bottom

NERACA

Jakarta- Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih akan berlanjut sampai dengan titik terendahnya di level 3.700. Hal tersebut ditengarai sentimen negatif yang belum dapat memulihkan kepercayaan pasar. “Di bawah level 4.000 bukan karena fundamental, tapi karena sentimen psikologis, percaya atau tidaknya investor.” kata Direktur CIMB Principal Asset Management Fajar R Hidayat di Jakarta, Selasa (27/8).

Menurut dia, jika pergerakan rupiah sudah stabil dan normal, diproyeksikan IHSG tidak terlalu fluktuatif dan akan mulai menguat. Namun, dalam jangka pendek IHSG dimungkinkan menembus level 3.700-3.500 atau mendekati level terendahnya. Selain itu, pelaku pasar juga tengah memperhitungkan seberapa besar tingkat inflasi pada Agustus. “Inflasi masih dicari peaknya, Agustus diprediksi masih akan tinggi. Setelah itu orang akan lihat yield obligasi. ” jelasnya.

Apabila yield obligasi menunjukkan tren turun, sambung dia, maka akan memberikan peluang bagi investor untuk masuk ke pasar. Pasalnya, dari awal tahun sampai dengan sekarang Yield Surat Utang Negara (SUN) telah mengalami kenaikan 300 basis poin sehingga menjadi 8% dalam tenor 10 tahun. Yang jelas, kata dia, untuk saat ini pasar juga tengah menunggu kepastian terkait kebijakan yang dikeluarkan seperti mengurangi defisit transaksi berjalan. Bukan dengan paket kebijakan stimulus baru pemerintah. “Pelaku pasar lebih menyukai kebijakan yang berefek jangka cepat, di antaranya kita fokus ke current account deficit karena currency akan mengikuti.” ujarnya.

Meski demikian, dengan kondisi saat ini yang hampir mengarah pada titik maksimal koreksi, kata dia IHSG memiliki peluang untuk mengalami penguatan. Utamanya, setelah dipastikannya rencana pengetatan ekonomi Amerika Serikat (AS) pada pertengahan September ini. Namun, sampai dengan akhir tahun, dia diprediksikan IHSG akan berada pada level support 4.500 dan resistance di 4.700.

Lebih lanjut dia mengatakan, pada saat IHSG dalam tren bearish merupakan saat yang tepat untuk stock picking. Salah satu alternatifnya dengan masuk pada saham-saham IDX 30. Saat ini return IDX30 terbilang lebih baik dibanding indeks lainnya. Meskipun dalam tren penurunan IHSG seperti ini, sebagian besar indeks yang tercatat di bursa memang minus.

Namun tercatat hanya IDX 30 yang minusnya paling kecil hanya sekitar 7,07%, dibandingkan dengan return indeks LQ45, KOMPAS100, dan BISNIS-27 yang returnnya saat ini masing-masing sebesar 7,78%, 7,83, dan 9,14%. Selain itu, IDX30 diisi jajaran saham-saham blue chips seperti, PT Unilever Tbk (UNVR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan lainnya. Tetapi, saham-saham yang berada di sektor properti mengalami penurunan yang cukup tinggi. “Saham-saham properti rata-rata turun 50%-60%, sementara saham blue chip hanya sekitar 20%. Kami optimis, meski turun saat ini, saham blue chip akan lebih cepat rebound,” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Pasar Properti Masih Tertekan - Intiland Pilih Kerjasama Kembangkan Proyek Maja

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan properti di Maja, Banten, seperti yang sudah dilakukan PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) menjadi daya…

Dunia Usaha - Pasar Masih Potensial, Pertumbuhan Industri Kacamata Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri kacamata di dalam negeri melalui peningkatan investasi. Di samping itu juga…

Redam Kepanikan Pelaku Pasar - BEI Pastikan Sudah Miliki Protokol Krisis

NERACA Jakarta – Menjelang penetapan pemengangan pemilu presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei mendatang, memberikan situasi politik…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Anggarkan Capex Rp 1,6 Triliun - Adi Sarana Beli 6.500 Unit Armada Baru

NERACA Jakarta - Danai penambahan armada baru guna menunjang bisnisnya, PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mengalokasikan belanja modal tahun…

BTEK Bidik Private Placement Rp 509,05 Miliar

Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) bakal menggelar aksi korporasi penambahan modal tanpa hak…

Tower Bersama Cetak Pendapatan Rp 1,13 Triliun

NERACA Jakarta - Kuartal pertama 2019, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mencatatkan pendapatan dan EBITDA masing-masing sebesar Rp1,13 triliun…