Emiten Properti Belum "Ngebet" Buyback Saham

Masih Kaji Untung dan Rugi

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta – Kebijakan baru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan peraturan baru terkait buyback saham maksimal hingga 20% dari modal disetor tanpa persetujuan RUPS mendapatkan respon positif dari emiten ditengah anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan.

Aksi korporasi melakukan buyback saham tidak hanya dilakukan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tetapi juga perusahaan swasta. Sebut saja, PT Intiland Development Tbk (DILD). Perusahaan properti ini masih mengkaji buyback akan dampak untung ruginya terhadap perseroan.

Executive Director Capital and invesment Management PT Intiland Development, Archied Noto Pradono mengatakan, pihaknya masih mengkaji buyback saham, “Kita masih kaji untuk buyback saham, tetapi untuk saat ini masih akan optimalisasi kinerja,”katanya di Jakarta, Selasa (27/8).

Dia menuturkan, pelemahan saham properti ini hanya bersifat sementara. Selain itu, perseroan juga menganggap penurunan saham tidak hanya dialami sektor properti melainkan juga hampir diseluruh sektor saham di pasar modal.“Penurunan harga saham tidak terjadi kepada Intiland saja. Tetapi semua saham terlihat mengalami penurunan. Namun, perseroan yakin harga saham akan menguat lagi seiring kinerja perseroan yang positif,”tegasnya.

Keyakinan harga saham akan kembali menguat menjadi alasan, jika perseroan belum berencana melakukan buyback dalam waktu dekat dan masih analisa untung-ruginya bagi perusahaan. Selain itu ditengah melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), perseroan masih mengkaji kenaikan harga jual properti miliknya dan akan terus mengamati sejauh mana pelemahan ini terjadi.

Hal ini disebabkan, karena hampir 40% bahan properti Intiland diimpor dan melakukan pembelian dengan dolar. Sehingga margin perseroan, kata Archied Noto Pradono akan tergerus dengan kondisi rupiah yang melemah,”Untuk menaikan harga, tidak hanya terkait dengan nilai tukar rupiah saja tapi juga beberapa komponen lainnya. Memang sekitar 30-40% bahan baku kita diimpor dan kebanyakan untuk proyek yang agak mewah menggunakan komponen dari luar sehingga terpengaruh terhadap kenaikan ini,”tandasnya.

Namun, lanjutnya, jika dollar naik 20% belum tentu pula perseroan juga menaikan harga 20%. Pasalnya, tidak semua komponen dari luar, seperti tanah, pasir dan perkerja dibayar dengan rupiah. Meskipun sedang terjadi pelemahan rupiah dan saham sektor properti menurun, dia menegaskan, tidak melemahkan kinerja perseroan yang tetap melakukan pembangunan dan proyek yang tengah berjalan.

Selain itu, bahan baku yang diperlukan telah dipesan dengan sistem kontrak sebelum terjadinya pelemahan ini, sehingga untuk menaikan harga masih dikaji perseroa, “Selain itu, kami tetap melanjutkan berbagai proyek yang sudah berjalan maupun yang baru direncanakan karena melihat minat masyarakat akan properti masih tinggi terutama di kalangan masyarakat menengah ke atas”, ujarnya.

Ciputra Development

Masih dikajinya buyback saham, hal yang sama juga dilakukan PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Apalagi, dalam kurun waktu sepuluh hari terakhir saham CTRA sudah turun 24%. Oleh karena itu, bulan depan perseroan bakal mengkaji langkah buy back seperti yang diimbau OJK kepada emiten-emiten BUMN.

Direktur Keuangan PT Ciputra Development Tbk, Tulus Santosa mengungkapkan, harga tersebut sedang mengalami undervalue, namun menurutnya hingga saat ini perseroan belum berencana untuk melakukan buy back seperti wacana OJK, “Kami belum ada rencana buy back, baru diwacanakan, kita masih lihat pasar dan timing-nya,\" ungkapnya.

Menurutnya, aksi buy back tersebut tidak menjadi jaminan membuat harga saham lebih stabil dan bisa jadi setelah buy back tapi harga sahamnya tetap turun karena animo sentimen negatif di pasar masih deras, “Kita tunggu waktu yang tepat, hal itu kan susah diprediksi, setelah buy back tetap turun, nanti dimarahin shareholders,\"kata Tulus. (nurul)