RAPBN 2004 Pemicu Krisis?

Rabu, 28/08/2013

Sungguh memilukan nasib RAPBN 2014 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR bertepatan HUT ke-68 Kemerdekaan RI. Meski pemerintah telah mengklaim banyak kemajuan yang dicapai, tetapi dari sisi pengelolaan anggaran negara masih belum banyak mengalami perubahan.

Anggaran negara ternyata belum mampu menjadi alat politik untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Bahkan RAPBN 2014, sulit untuk bisa menyelesaikan masalah pengangguran, kemiskinan hingga kemerosotan industri. Nilai rupiah dan indeks saham pun kini menghadapi tren penurunan cukup dalam, usai paparan anggaran negara tersebut.

Adalah asumsi makro ekonomi yang dinilai kurang rasional adalah, penetapan angka inflasi 2014 yang diprediksi 4,5% dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 9.750, ternyata mendapat respon negatif dari pelaku pasar.

Nilai tukar rupiah dilanda turbulensi hingga mengalami depresiasi hebat, hingga menembus level Rp 11.000 per dolar AS. Kurs rupiah semakin menjauh dari asumsi yang dipatok pada RAPBN 2014 yakni Rp 9.750 per US$. Sama halnya dengan rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terjerembab hingga di bawah level 4.000 (27/8).

Faktor utama buruknya dua indikator kunci di pasar tersebut merupakan imbas dari kian membengkaknya defisit neraca perdagangan yang besar. Nilai ekspor nasional menurun, di sisi lain impor melonjak. Sektor manufaktur yang rapuh, yang didominasi ekspor bahan mentah, dan impor yang didominasi bahan modal dan konsumsi, membuat neraca perdagangan nasional mencatat defisit yang sangat besar. Selama semester pertama tahun ini, defisit neraca perdagangan mencapai US$ 3,3 miliar.

Pengalaman menunjukkan bahwa sektor industri sangat menentukan daya tahan perekonomian sebuah negara. Bagaimanapun, industri manufaktur yang kuat, membuat ekonomi negara akan mampu bertahan dari turbulensi. Nilai tukar mata uang dan indeks harga saham, dua elemen dalam perekonomian yang sangat dipengaruhi persepsi pasar, menjadi tidak signifikan menghadapi sektor manufaktur yang solid.

Dari berbagai pengalaman selama ini, reaksi pasar yang negatif, yang terlihat dari pergerakan rupiah terhadap dolar AS dan IHSG, membuat perekonomian Indonesia sangat rentan. Tak jarang, persepsi negatif yang berlebihan, mengabaikan fundamental ekonomi yang sesungguhnya, dan sangat berpotensi membuat perekonomian masuk ke jurang krisis.

Karena itu, Indonesia tidak perlu malu dan perlu belajar dari pengalaman China. Proses pemulihan dan penguatan ekonomi dengan memanfaatkan peluang depresiasi mata uang patut jadi perhatian. Depresiasi rupiah yang terjadi saat ini, seharusnya bisa memberi dampak positif bagi perekonomian. Sebab, produk dalam negeri berkesempatan memperbesar volume dan nilai ekspor, serta berkesempatan melakukan penetrasi ke pasar dalam negeri secara lebih luas.

Namun, kita melihat peluang untuk memanfaatkan dari depresiasi tersebut belum optimal. Penyebabnya antara lain, sikap kebergantungan pada produk impor telanjur mendalam, sehingga sekian lama mematikan produksi dalam negeri. Lihat saja banyak produk pangan dan barang konsumsi terus menerus diimpor ke negeri ini.

Sementara empat paket kebijakan ekonomi yang diumumkan pemerintah itu hanya terasa tidak lebih sebagai ’’pemadam kebakaran’’, ketimbang mengobati penyakit kronisnya yaitu defisit transaksi berjalan. Pemerintah sebenarnya sudah tahu permasalahannya sejak lama, namun enggan merumuskannya melalui operasional kebijakan, hingga menunggu perekonomian Indonesia menuju krisis yang lebih parah.

Secara jangka panjang, untuk mengurangi kerentanan ekonomi nasional terhadap krisis, harus ada perubahan mendasar strategi industrialisasi, khususnya pembangunan pada sektor dasar seperti pertanian dan energi. Selain itu, kredibilitas komunikasi politik para menteri ekonomi perlu ditingkatkan lagi kualitasnya.