Perkuat Daya Saing, Industri Kertas Butuh Dukungan Pemerintah

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta – Ketatnya pasar pulp dan kertas di kawasan Asia, terutama China tak mengurangi besarnya prospek bisnis sektor kehutanan tersebut. Namun, pemerintah harus bisa memberi insentif untuk memperkuat daya saing industri pulp dan kertas nasional.

Menurut Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan Rahmin, pasar Asia, China mengalami tren peningkatan. Meski demikian, persaingan semakin kompetitif seiring dengan meningkatnya pasokan pulp dan kertas produksi dalam negerinya.

“Pertumbuhan produksi pulp China tumbuh luar biasa, kapasitas produksi dalam negerinya terus meningkat membuat persaingan pasar pulp semakin ketat,” kata Kusnan di Jakarta, kemarin.

Dia memperkirakan, China akan memimpin pertumbuhan kebutuhan pulp dunia sekitar 7,7% untuk tahun 2011 sampai 2016, sementara utuk Eropa Barat, Eropa Timur, Amerika Latin, Amerika Utara, Australia, Asia dan Afrika hanya di bawah 3,4% untuk periode yang sama.

Pada tahun 2012 kapasitas produksi industri pulp China masih 27,2 juta ton per tahun. Namun terhitung mulai 2016, kapasitas produksinya akan bertambah sebanyak 7,1 juta ton per tahun. Lonjakan kapasitas produksi tersebut didukung oleh kebijakan pemerintah China yang sangat ramah terhadap pengembangan industri ini.

Kusnan menambahkan, untuk persaingan kertas di dunia, China masih mendominasi jika dilihat dari prediksi pertumbuhan CAGR (Compounded Annual Growth Rate) sebesar 2,6% untuk 2013 sampai 2017. Pertumbuhan ini merespon kebutuhan kertas di China yang sangat besar sekitar 55% dibandingkan negara-negara lain di dunia seperti ASEAN dan Jepang yang hanya 11% serta India 13%. “Sebenarnya ini peluang bagi Indonesia untuk masuk pasar China lebih agresif lagi,” jelas Dia.

Pemerintah China, sambung Kusnan, bahkan melimpahkan kewenangan perizinan pembangunan pabrik pulp untuk kapasitas hingga 100.000 ton per tahun ke tingkat Bupati/Walikota. Saat ini 71 dari 117 proyek industri pulp baru di China memiliki kapasitas 100.000 ton per tahun.

Kusnan menyebut, selain kemudahan perizinan industri, pemerintah China juga memberi kemudahan regulasi untuk pemanfaatan bahan baku kayu. Di negara tersebut, pemegang konsesi pengelolaan hutan tanaman tidak dibebani berbagai ketentuan tambahan untuk memanfatkan panen kayu yang diproduksi.

Kusnan mengungkap, daya saing produk pulp dan kertas Indonesia harus terus dipertahankan agar terus menembus pasar China. Dia berharap pemerintah memberi dukungan penuh mengingat industri pulp dan kertas menyerap banyak tenaga kerja, memberi devisa dan mendukung pengelolaan hutan lestari.

Salah satu bentuk dukungan yang sangat diharapkan adalah dalam menghadapi kampanye hitam yang diluncurkan LSM asing. Kusnan berharap, pemerintah bisa lebih tegas berkampanye kepada dunia internasional bahwa industri pulp dan kertas dan pengelolaan hutan tanaman yang menjadi sumber bahan baku, tidak merusak hutan seperti yang dituduhkan.

“Kami juga berharap ada kemudahan perizinan, apalagi di tengah situasi lemahnya perekonomian global yang mulai memengaruhi ekonomi Indonesia saat ini,” tandasnya.

Jika daya saing produk pulp dan kertas Indonesia bisa dipertahankan, Kusnan yakin produk Indonesia bisa bertarung dengan produksi dari negara lain. Apalagi, permintaan pulp dan kertas di Asia terus meningkat.

Apalagi, Indonesia memiliki keunggulan iklim yang membuat pohon sebagai bahan baku pulp, bisa dipanen dalam waktu 5-6 tahun. Selain itu, posisi strategis Indonesia yang dekat dengan pasar Asia juga memberi keuntungan soal biaya transportasi. “Indonesia juga memiliki tenaga kerja yang terampil yang bisa mendukung pengelolaan hutan dan industri pulp secara berkelanjutan,” ujar Kusnan.