Indeks Anjlok, Peluang Investor Lokal Borong Saham

NERACA

Yogyakarta- Kembali rontoknya pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga terpental dari level 4.000, momentum tepat bagi para investor unuk meningkatkan pembelian saham karena harganya yang sudah terdiskon. Langkah ini pulalah yang kini mulai marak dilakukan perusahaan BUMN atau swasta untuk buyback saham.

Hal senada juga disampaikan Kepala Pusat Informasi Pasar Modal (PIPM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Irfan Noor Riza, merosotnya IHSG merupakan kesempatan bagus bagi investor lokal di daerah untuk melakukan peningkatkan pembelian saham karena secara umum mengalami penurunan harga, “Sebenarnya ini juga bisa dipandang positif bagi para investor baru khususnya investor lokal untuk memborong saham,\"ujar dia di Yogyakarta kemarin.

Dia mengatakan, seiring dengan turunnya nilai tukar rupiah banyak saham-saham berfundamental bagus yang harganya turun dan sangat layak untuk dibeli. Hal itu juga disebabkan banyaknya aksi jual serta \"profit taking\" (ambil untung)oleh investor asing.

Menurut dia, nilai penurunan harga saham terjadi pada hampir semua sektor dengan nilai rata-rata turun mencapai 5 hingga 10%, “Saham hampir semua sektor turun. Kecuali ada beberapa saham sektor pertambangan, perbankan dan jasa yang justru naik. Ini sebenarnya dapat menjadi angin segar bagi investor lokal,\"ungkap dia.

Dengan meningkatnya aksi beli saham, menurut dia, sebaliknya diharapkan dapat juga memulihkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali setelah selama sepekan lalu mengalami pelemahan 398,83 poin (8,73%), meskipun juga akan didukung dengan stimulus kebijakan dari pemerintah.

Sementara itu, dia mengatakan, dengan fenomena penurunan rata-rata harga saham tersebut, jumlah investor juga dinilai mengalami peningkatan meskipun rata-rata masih berinvestasi di pasar ritel,”Dengan sentimen positif tersebut jumlah investor diperkirakan akan mengalami pertumbuhan 85 hingga 100%,\"katanya.

Tercatat jumlah investor di DIY per Juni 2013 mencapai 5.544 orang. Sementara pada Juli 2013 telah mencapai 5.629 orang. Sementara nilai transaksi saham rata-rata masih berkisar Rp230 miliar--Rp240 miliar per bulan.

Sebagai informasi, mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa ditutup anjlok 152 poin atau 3,71% ke level 3.967,842. Indeks LQ45 juga tercatat negatif dengan kehilangan 26 poin ke tingkat 651,872. Pelemahan juga terjadi hampir di seluruh bursa regional. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

DPRD Siap Bahas Tiga Raperda - Pemkot Sukabumi Berencana Dirikan Televisi Lokal

DPRD Siap Bahas Tiga Raperda Pemkot Sukabumi Berencana Dirikan Televisi Lokal NERACA Sukabumi - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota…

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kawasan Industri Kendal Serap 50 Investor dan 5.000 Naker

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memberikan apresiasi kepada Kawasan Industri Kendal (KIK) yang telah mampu menarik 50 investor dengan target…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…