Potensi Ekonomi di Cianjur Redup

NERACA

Cianjur – Banyak potensi ekonomi di Kabupaten Cianjur hingga kini belum mampu dioptimalkan sehingga banyak peluang untuk mensejahterakan masyarakatnya yang hilang. Kondisi itu diperparah lagi dengan kurang responsif pemda dan DPRD Cianjur terhadap potensi itu.

“Dalam 20 tahun terakhir ini, Pemda Cianjur tidak bisa mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi daerahnya. Begitu pula DPRD setempat, masih selalu dalam posisi menanggapi usulan saja. Bahkan cenderung tak menguasai masalah. Akibatnya, potensi yang ada tidak bisa diberdayakan secara maksimal,” ungkap Sekretaris Bale Niaga Cianjur (Cianjur Trade Center), Harry Sastrakusumah dalam acara Diskusi Terbatas Bidang Ekuin (Ekonomi, Keuangan dan Industri) di Kantor Harian Ekonomi Neraca Biro Jawa Barat, Jl. Otista Bojongherang Cianjur, awal pekan kemarin.

Diskusi terbatas yang dipandu Kepala Biro HE Neraca Jabar, Bonbon Saefudin itu, dihadiri sejumlah pelaku ekonomi di Cianjur, perbankan, Dekopinda, Kopti, Kadinda dan pemerhati sosial dan LSM di Cianjur. Acara tersebut, merupakan kegiatan rutin HE Neraca Biro Jawa Barat..

Tingkatkan PAD

Ketua Kopti (Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia) Cab. Cianjur, Hugo Siswaya sependapat dengan Sekretaris BNC. Dia mengungkapkan, semua potensi yang ada di Cianjur itu merupakan potensi besar bagi peningkatan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan kesejahateraan masyarakat itu sendiri.

Dia contohkan tentang keberadaan para perajin tahu dan tempe di Ciajur yang dinilainya cukup potensial dan memerlukan perhatian untuk diberdayakan lebih maksimal.

Diungkapkan, jumlah perajin tahu-tempe di Cianjur yang berjumlah sekitar 209 orang itu membutuhkan bahan baku kedele sekitar 350 ton/bulan. Penyerapan tenaga kerja mencapai di atas 500 orang. Kemudian perputaran uang dari hasil penjualan produksi mereka bisa mencapai Rp 115 juta per hari.

“Jika kita bisa melakukan intervensi terhadap mereka dalam bentuk pembinaan manajerial dan teknis produksi, saya pastikan potensi perputaran hasil jual mereka akan meningkat lagi. Namun sayangnya, kondisi itu belum terlaksana dengan maksimal,”papar Hugo seraya menambahkan, hal sama terjadi di pelaku usaha lainnya seperti, manisan, pertambangan, pertanian dan pariwisata.

BERITA TERKAIT

Nilai Tambah dalam Ekonomi dan Industri

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Lama sudah kita menenggelamkan diri dalam persoalan ekonomi. Kegiatan dan proses…

Pengaruh Pilkada 2018 ke Ekonomi

  NERACA   Jakarta - Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menyoroti pengaruh pemilu kepala daerah…

Media Asing Soroti Kebijakan Polkam dan Ekonomi RI

NERACA Jakarta - Hasil riset yang dilakukan oleh Indonesia Indicator (I2) menyebutkan, kinerja Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang telah melewati…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Anggota DPRD Komisi X Berikan Mosam Ke Sukabumi

Anggota DPRD Komisi X Berikan Mosam Ke Sukabumi NERACA Sukabumi - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi X dari…

Anggota DPRD Komisi X Berikan Mosam Ke Sukabumi

Anggota DPRD Komisi X Berikan Mosam Ke Sukabumi NERACA Sukabumi - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Komisi X dari…

2018, LPDB Siapkan Rp100 M Untuk Bisnis Start Up

2018, LPDB Siapkan Rp100 M Untuk Bisnis Start Up NERACA Jakarta - Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengungkapkan…