Analis: Beli Saham Untuk Hedging Kurang Tepat

Selasa, 27/08/2013

NERACA

Jakarta – Pembelian saham untuk membantu menaikan indeks dinilai kurang tepat saat ini. Terutama asuransi yang berniat membeli saham-saham bluechip yang bertujuan hedging. Jika melihat perdagangan di pasar saham pekan lalu hinga Senin (26/7) dapat dilihat bagaimana penurunan indeks membuat pelaku pasar khawatir, terutama asing yang melakukan aksi jual hingga triliunan rupiah.

Menurut analis PT Dana Reksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo, saat ini melakukan pembelian kurang tepat terutama bagi asuransi untuk melakukan hedging. Sebab dia menilai, saat indeks terkoreksi cukup dalam melakukan buyback juga tak kunjung meredam kekhawatiran pasar,”Asuransi lakukan pembelian saham saat ini kurang tepat, karena tekanan terhadap indeks yang menyebabkan masih diposisi rawan koreksi. Meskipun tujuannya melakukan pembelian saham bluechip untuk hedging,”ujar dia di Jakarta, Senin (26/8).

Sehingga dia menghimbau, sebaiknya menunggu hingga di level lebih rendah lagi yang diprediksi akan terjadi pada bulan September mendatang. Namun, jika banyak analis memperkirakan level terendah berada diposisi 3.800-3.900 dia menyatakan terlalu dini jika menilai indeks akan ke level tersebut.

Diakuinya, saat ini saham-saham bluechip sudah cukup murah, tetapi menurut dia jika berada diposisi investor ataupun pihak yang akan berinvestasi di saham, dia akan menunggu hingga level terendah terjadi. Hal ini karena jika melakukan pembelian dengan harga saham rendah, otomatis akan memberi return yang lebih banyak lagi nantinya, “Sebaiknya pihak yang menginginkan saham-saham bluechip menunggu, kalaupun ingin tetap melakukan pembelian, sebaiknya secara akumulatif. Misalnya memiliki dana besar, calon investor dapat membelikan 10% terlebih dulu”, jelas dia.

Sementara itu, anjuran Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk melakukan buyback saham bagi emiten plat merah juga tidak berpengaruh besar terhadap indeks yang awalnya disinyalir akan menaikan IHSG. Hal ini disebabkan saham-saham bluechip dan IHSG masih cukup besar dipengaruhi dana asing.

Menurut dia yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah memperbaiki kondisi ekspor dan impor Indonesia serta menciptakan kondisi neraca perdagangan yang terjaga. “Jika sudah dijaga nantinya kondisi ekonomi akan berangsur-angsur membaik dan membuat asing tertarik lagi untuk masuk ke saham Indonesia”, ujar dia.

Dia juga menyatakan bahwa dibutuhkan kerjasama antara BKPM, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan yang harus berperan aktif dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Hal ini tidak lain karena kondisi pasar modal yang tidak dapat diintervensi oleh pemerintah, sehingga perbaikan kondisi ekonomilah yang akan menjadi sentimen positif bagi pasar modal. (nurul)