Analis: Beli Saham Untuk Hedging Kurang Tepat

NERACA

Jakarta – Pembelian saham untuk membantu menaikan indeks dinilai kurang tepat saat ini. Terutama asuransi yang berniat membeli saham-saham bluechip yang bertujuan hedging. Jika melihat perdagangan di pasar saham pekan lalu hinga Senin (26/7) dapat dilihat bagaimana penurunan indeks membuat pelaku pasar khawatir, terutama asing yang melakukan aksi jual hingga triliunan rupiah.

Menurut analis PT Dana Reksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo, saat ini melakukan pembelian kurang tepat terutama bagi asuransi untuk melakukan hedging. Sebab dia menilai, saat indeks terkoreksi cukup dalam melakukan buyback juga tak kunjung meredam kekhawatiran pasar,”Asuransi lakukan pembelian saham saat ini kurang tepat, karena tekanan terhadap indeks yang menyebabkan masih diposisi rawan koreksi. Meskipun tujuannya melakukan pembelian saham bluechip untuk hedging,”ujar dia di Jakarta, Senin (26/8).

Sehingga dia menghimbau, sebaiknya menunggu hingga di level lebih rendah lagi yang diprediksi akan terjadi pada bulan September mendatang. Namun, jika banyak analis memperkirakan level terendah berada diposisi 3.800-3.900 dia menyatakan terlalu dini jika menilai indeks akan ke level tersebut.

Diakuinya, saat ini saham-saham bluechip sudah cukup murah, tetapi menurut dia jika berada diposisi investor ataupun pihak yang akan berinvestasi di saham, dia akan menunggu hingga level terendah terjadi. Hal ini karena jika melakukan pembelian dengan harga saham rendah, otomatis akan memberi return yang lebih banyak lagi nantinya, “Sebaiknya pihak yang menginginkan saham-saham bluechip menunggu, kalaupun ingin tetap melakukan pembelian, sebaiknya secara akumulatif. Misalnya memiliki dana besar, calon investor dapat membelikan 10% terlebih dulu”, jelas dia.

Sementara itu, anjuran Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk melakukan buyback saham bagi emiten plat merah juga tidak berpengaruh besar terhadap indeks yang awalnya disinyalir akan menaikan IHSG. Hal ini disebabkan saham-saham bluechip dan IHSG masih cukup besar dipengaruhi dana asing.

Menurut dia yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah memperbaiki kondisi ekspor dan impor Indonesia serta menciptakan kondisi neraca perdagangan yang terjaga. “Jika sudah dijaga nantinya kondisi ekonomi akan berangsur-angsur membaik dan membuat asing tertarik lagi untuk masuk ke saham Indonesia”, ujar dia.

Dia juga menyatakan bahwa dibutuhkan kerjasama antara BKPM, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan yang harus berperan aktif dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Hal ini tidak lain karena kondisi pasar modal yang tidak dapat diintervensi oleh pemerintah, sehingga perbaikan kondisi ekonomilah yang akan menjadi sentimen positif bagi pasar modal. (nurul)

BERITA TERKAIT

PII Jamin Proyek SPAM Di Bandar Lampung - Butuh Rp250 triliun untuk Sarana Air Minum

      NERACA   Lampung – PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero) / PT PII melaksanakan penandatanganan penjaminan proyek yang…

BTPN Syariah Bakal Lepas Saham 10% - Gelar IPO di Kuartal Tiga 2018

NERACA Jakarta – Perkuat likuiditas dalam mendanai ekspansi bisnisnya, PT BTPN Syariah dalam waktu bakal melakukan penawaran saham perdana alias…

Bank Panin Tambah Porsi Saham Jadi 42,54% - Rights Issue Panin Dubai Syariah

NERACA Jakarta - Jelang rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) alias rights issue, PT Bank Panin…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Presdir Hero Supermarket Mengundurkan Diri

Presiden Direktur Stephane Deutsch PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengundurkan diri. Pengumuman pengunduran diri tersebut disampaikan HERO dalam siaran persnya…

Tunas Baru Lampung Rilis Obligasi Rp 1 Triliun

Lunasi utang, PT Tunas Baru Lampung (TBLA) akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I Tunas Baru Lampung tahap I tahun 2018 dengan…

Jakarta Garden City Raih PMSEA 2018

NERACA Jakarta -- Perumahan skala kota (township) Jakarta Garden City (JGC) seluas 370 hektar, yang dikembangkan PT Mitra Sindo Sukses,…