Pelemahan Rupiah Resahkan Pengusaha Tahu Tempe

Bulog Segera Intervensi Pasar

Selasa, 27/08/2013

NERACA

Jakarta – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) telah berimbas kemana-mana. Tak terkecuali bagi dunia usaha berbahan baku kedelai yaitu tahu tempe. Pasalnya, sebagian besar bahan baku kedelai masih mengandalkan impor. Data Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa impor kedelai pada 2013 diperkirakan mencapai 800.000 ton. Dengan asumsi produksi kedelai lokal 1,5 juta ton sementara kebutuhan 2,3 juta ton.

Para pengrajin tahu tempe pun merasa resah dengan nilai kurs yang melemah dan membuat harga impor kedelai menjadi mahal. Keresahan terjadi di Industri tahu dan tempe di Desa Bantengan, Galur, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pada daerah tersebut mempunyai 25 perajin tahu dan tempe, namun kini hanya lima perajin yang masih berproduksi. Sekitar 20 perajin lainnya memilih tidak berproduksi sementara hingga harga kedelai kembali normal.

Harga kedelai impor semula Rp7.500 per kilogram kini menjadi Rp9.000 membuat sejumlah perajin tahu dan tempe di Gunung Kidul, DIY, terpaksa mengurangi produksi mereka. Selain itu, sejumlah perajin juga memangkas tenaga kerja karena tidak sanggup membayar upah. Mereka kewalahan menyiasati biaya produksi yang melonjak seiring dengan kenaikan harga kedelai.

Tidak hanya di DIY, tetapi keresahan juga dari pembuat tahu di RT 004/RW 004, Kelurahan Mampang, Kecamatan Pancoran Mas, Depok. Pengrajin yang bernama Bowo mengatakan, dirinya sudah satu bulan menghentikan produksi tahu. Hal itu dilakukan sejak harga kedelai terus melambung tinggi.

Sebelumnya, harga kedelai hanya sekitar Rp6.500 per kg. Harga kedelai tersebut naik menjadi Rp8.000 per kg saat bulan Ramadan. Namun bukannya turun, harga kedelai semakin membengkak menjadi Rp8.700 per kg pasca Lebaran. "Kalau gini saya rugi terus, lebih baik tutup dulu," kata Bowo.

Bowo mengaku pesimis jika harga kedelai bisa turun kembali. Untuk itu dia berharap agar harga tahu bisa dinaikkan sehingga bisa menutupi biaya produksi. Namun kenaikan harga tahu tersebut selalu diprotes konsumen.

Akibat berhentinya kegiatan produksi, Bowo juga terpaksa merumahkan lima pekerjanya. "Saya tidak tahu kapan akan berproduksi lagi, nunggu kesepakatan dengan yang lain dulu (rekan satu paguyuban perajin tahu)," ujarnya.

Intervensi Pasar

Di tempat terpisah, Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa pemerintah melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) akan mengintervensi pasar untuk mengendalikan harga kedelai agar tetap stabil. "Untuk harga pangan di pasar khususnya harga kedelai, Bulog sudah menjalankan keputusan presiden, yaitu melakukan impor kedelai dengan tujuan mengintervensi pasar agar harga kedelai tetap stabil," kata Hatta di Gedung BPPT Jakarta, Senin.

Menurut dia, adanya intervensi Bulog untuk mengendalikan harga di pasar akan membuat harga kedelai kembali stabil karena dapat membatasi munculnya spekulan yang mencoba mengambil keuntungan di pasar. "Dengan pengendalian harga ini, orang tidak berani berspekulasi. Bila tidak dikendalikan, setiap saat orang bisa impor kalau memang harganya tinggi," ujarnya.

Hatta mengatakan upaya-upaya pemerintah untuk menstabilkan harga pangan di pasar sudah mulai berjalan, terutama di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian. Dia juga menyampaikan pemerintah juga sudah mengubah kebijakan perdagangan di pasar agar lebih terkendali. "Kami sudah mengubah kebijakan untuk tidak lagi menggunakan sistem kuota karena ini akan menimbulkan distorsi. Kami mau membuka itu dengan pendekatan yang lebih relaks dengan tetap menjaga kestabilan harga," katanya.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah berupaya menjaga agar suplainya tidak terganggu yang dapat menyebabkan kenaikan harga. “Dengan pendekatan lebih terbuka maka kita harapkan harga kedelai akan stabil," lanjutnya.

Sebelumnya, pemerintah didesak untuk segera menambah pasokan kedelai dalam negeri dari impor karena harga di tingkat perajin sudah melonjak hingga level Rp8.700 per kilogram. Ketua Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Gakopti) Aip Syarifudin mengatakan hingga saat ini harga kedelai di tingkat perajin sudah berada pada level Rp8.700 per kilogram.

Harga tersebut jauh melebihi target pemerintah sesuai Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 37/2013 Pasal 2 tentang Harga Jual Perajin (HJP) kedelai yang ditetapkan sebesar Rp7.700 per kilogram yang berlaku hingga 31 Agustus 2013. "Saat ini perajin tempe dan tahu sudah menjerit. Harga kedelai menanjak dari Rp7.700 per kilogram pada bulan lalu menjadi Rp8.700 per kilogram saat ini. Kami meminta pemerintah segera bertindak,” kata Aip.

Dia berpendapat kenaikan harga kedelai tersebut dipicu oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan dan pasokan kedelai nasional. Perajin tahu dan tempe, menurut dia, membutuhkan setidaknya 132.000 ton kedelai per bulan atau 1,6 juta ton per tahun, sedangkan produksi dalam negeri hanya mencapai 600.000 ton. Oleh karena itu, kata dia, impor menjadi satu-satunya solusi jangka pendek untuk menambah pasokan kedelai dalam negeri guna mencukupi kebutuhan para perajin tahu dan tempe.