Target Pajak Semakin Sulit Dicapai

NERACA

Jakarta – Belum genap dua minggu, Presiden SBY mengumumkan target pajak yang hendak dicapai pada 2014, yaitu Rp1.310,2 triliun. Target pajak tersebut meningkat cukup signifikan dibanding target pendapatan pajak pada APBN-P 2013 sebesar 1.148,4 triliun. Seminggu kemudian, Presiden mengumumkan terdapat empat paket kebijakan ekonomi Pemerintah dalam merespon pelemahan Rupiah dan IHSG.

Salah satu dari empat paket tersebut adalah memperbaiki defisit transaksi berjalan. Caranya adalah dengan mendorong ekspor dan memberikan keringanan pajak kepada industri yang padat karya, padat modal, dan 30% hasil produksinya berorientasi ekspor. Dengan pemberian insentif tersebut dan banyak insentif lain yang diberikan Pemerintah, maka target penerimaan pajak akan semakin sulit dicapai.

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Kismantoro Petrus mengaku pekerjaan Ditjen Pajak akan semakin berat. “Target pajak semakin berat,” kata Kismantoro kepada Neraca, Senin (26/8).

Lebih-lebih dengan tidak diamininya permintaan Ditjen Pajak dalam penambahan pegawai pajak. Target penerimaan pajak sebesar Rp1.310,2 triliun pada 2014 tersebut adalah target yang dibuat dengan asumsi terdapat penambahan pegawai pajak sebanyak 5.000 orang. Namun kenyataannya tidak demikian.

“Butuh sebetulnya 30 ribu pegawai, tapi ya bolehlah 5 ribu, tapi yang disetujui MenPAN (Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara) hanya 2 ribu. Ini seperti panen padi, tidak semakin banyak panennya kalau orangnya sedikit,” jelas Kismantoro.

Kismantoro mengakui, dengan banyaknya insentif pajak yang diberikan Pemerintah, pasti akan menurunkan kemungkinan pencapaian target. Namun begitu, Kismantoro berjanji bahwa Ditjen Pajak akan mengejar seluruh potensi pajak yang ada, termasuk Pajak Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Pajak UKM itu, diharapkan yang tadinya belum bayar, dengan adanya kemudahan ini jadi bayar,” ujar Kismantoro.

Untuk diketahui, target penerimaan perpajakan pada 2014 sebagian besar didapat dari pendapatan pajak dalam negeri sebesar Rp1.256,3 triliun dan sisanya dari pendapatan pajak perdagangan internasional sebesar Rp53,9 triliun. Pendapatan pajak dalam negeri dipecah ke dalam lima sumber, yaitu pendapatan Pajak Penghasilan (PPh) sebesar Rp591,6 triliun, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPN dan PPnBM) Rp518,9 triliun, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar Rp25,5 triliun, Pendapatan Cukai sebesar Rp114,3 triliun, dan pendapatan pajak lainnya sebesar Rp6 triliun. [iqbal]

BERITA TERKAIT

Penyebaran Hoax Saat Pilkada Diklaim Sulit Dibasmi

Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq menilai penyebaran berita-berita bohong dan palsu yang menjurus fitnah (hoax) dalam kontestasi Pilkada 2018 sulit…

Struktur Baru Pajak Otomotif Paling Cepat Tuntas Triwulan I

Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengharapkan struktur pajak baru bagi industri otomotif untuk mendorong produksi kendaraan jenis sedan dapat selesai paling…

Masyarakat Semakin Senang Belanjakan Uang Untuk Jalan Jalan - Fasilitas Makin Mudah dan Murah

Riset Inventures Indonesia melansir, masyarakat semakin senang membelanjakan uang mereka untuk jalan-jalan. Toh, akses masyarakat untuk mendapatkan fasilitas jalan-jalan lebih…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

BNI Sosialisasikan BNI Yap di Java Jazz

  NERACA Jakarta - Untuk memanjakan para penggemar musik jazz Indonesia serta menyosialisasikan alat pembayaran baru pada pagelaran musik Jakarta…