Siasati Volatilitas, Siloam Ubah Strategi IPO

Turunkan Harga Rp9.000-Rp9.500

Selasa, 27/08/2013

NERACA

Jakarta-Volatilitas pasar saham dalam negeri dan regional juga menjadi pertimbangan PT Siloam International Hospital untuk melakukan stabilisasi saham dalam pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). Manajemen perseroan menyesuaikan kisaran harga IPO menjadi Rp9.000-Rp9.500 persaham. Dengan kapitalisasi pasar Rp10,4 triliun-Rp11,0 triliun. Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (26/8).

Disebutkan, hal itu dilakukan setelah berkonsultasi dengan international selling agents dan penjamin emisi perseroan. Penyesuaian terhadap kisaran harga ini terutama mencerminkan kondisi pasar modal Indonesia dan regional. Selain itu, Siloam juga memutuskan untuk menyesuaikan jumlah saham baru yang akan ditawarkan melalui IPO menjadi sebanyak-banyaknya 156.1 juta saham.

PT Nilam Biru bersinar, anak perusahaan PT Lippo Karawaci Tbk setelah melakukan konsultasi dengan siloam, international selling agent and joint lead domestic underwriters juga memutuskan untuk mengurangi jumlah saham untuk opsi penjatahan lebih (over allotment option) yang disediakan bagi agen stabilisasi dalam IPO ini dari 23.250.000 saham menjadi 5.900.000 saham.

Dana yang diperoleh dari hasil IPO juga disesuaikan, yaitu sekitar 39% akan digunakan untuk pembelian peralatan medis, perluasan rumah sakit, dan pembangunan rumah sakit baru. Sekitar 35% digunakan untuk pembayaran sebagian dana yang diperoleh perseroan dari lippo Karawaci terkait dengan pembangunan dan pengembangan rumah sakit perseroan. Sementara 26% lainnya untuk membiayai akuisisi rumah sakit, operator rumah sakit dan perusahaan healthcare yang dapat mendukung kinerja operasional perseroan.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dinilai banyak kalangan akan mempengaruhi pelaksanaan IPO perusahaan. Salah satunya, analis saham dari PT Buana Capital, Alfred Nainggolan. Dia mengatakan, sentimen negatif yang membawa pelemahan indeks akan mempengaruhi perusahaan-perusahaan yang akan melaksanakan IPO maupun yang sedang dalam proses untuk IPO.

Pihak perusahaan, kata dia, akan berpikir dua kali untuk melaksanakan IPO di tengah cukup besarnya tekanan dana asing yang keluar. Kondisi ini juga akan berpengaruh terhadap dana yang akan diperoleh perusahaan dalam IPO. “Investor akan lebih mempertimbangkan saham-saham lama yang murah dibandingkan penawaran saham baru,” ujarnya.

Pesimisme pelaku pasar terhadap kebijakan stimulus The Fed, ancaman inflasi yang masing tinggi, menurut dia, menjadi perhatian sentimen saat ini. Terlebih dengan pasar Amerika Serikat yang saat ini mencatatkan pertumbuhan positif sehingga mengindikasikan bahwa investor asing masih akan menarik dana-dananya dari negara-negara emerging market seperti Indonesia.

Sementara itu, Direktur Utama PT Andalan Artha Advisindo Securities, Andri Rukminto sebelumnya mengatakan, untuk menyiasati kondisi pasar yang fluktuatif, perusahaan sekuritas yang meng-handle IPO calon emiten memiliki beberapa strategi jitu, khususnya opsi stabilisasi harga atau pemberian pemanis (sweetener). Hal tersebut dianggap dapat dilakukan untuk menambah minat investor terhadap saham IPO yang ditawarkan, “Kami biasanya akan menawarkan kepada calon emiten tiga hal ketika kondisi pasar sedang fluktuatif,” jelasnya.

Stabilisasi harga ataupun menurunkan porsi saham yang dilepas ke publik, juga untuk memastikan sahamnya dapat terserap seluruhnya, “Kami juga baru berani melanjutkan rencana IPO ketika penawaran investor sudah 80% dari jumlah total saham yang dilepas,” ucapnya. (lia)

.