Menguji Efektifitas Dan Daya Tahan Buyback Saham

Jurus Meredam Fluktuasi Saham

Selasa, 27/08/2013

NERACA

Jakarta –Pembelian saham-saham bluechips yang telah terdiskon, ditengah terkoreksi tajamnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam sepekan kemarin menjadi peluang emas bagi investor ritel ataupun industri asuransi untuk meraup untung dari investasi saham. Langkah ini pulalah yang telah dilakukan PT Jamsostek dengan memborong saham-saham bluechips.

Dirut PT Jamsostek Elvyn G. Masassya mengatakan, saat ini adalah momentum yang tepat untuk membeli saham yang kini berharga murah, khususnya saham bluechips. PT Jamsostek telah menggelontorkan dana investasi mencapai triliunan rupiah untuk beli saham blue chip di pasar modal.

Dia menjelaskan, langkah Jamsostek ini ditempuh untuk me-rebuilding atau memulihkan harga saham-saham blue chip sedang turun. Pasalnya, harga saham yang terseok-seok merupakan momentum tepat untuk membeli saham. Disamping itu, aksi korporasi ini juga memulihkan pelemahan indeks BEI lantaran dipicu aksi jual.

Aksi pembelian saham yang dilakukan PT Jamsostek mendapatkan respon positif dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan bahkan menginsutruksikan agar BUMN segera melalukan buyback saham, “Ada beberapa BUMN yang akan lakukan buyback, seperti PT Bukit Asam Tbk dan PT Semen Indonesia Tbk. Namun, tergantung mereka," kata Sekretaris Kementerian BUMN Imam A. Putro.

Bahkan untuk memuluskan buyback saham yang bakal dilakukan emiten lainnya, Otoritas Jasa Keuangan melakukan relaksasi dengan menerbitkan peraturan baru tentang buyback Nomor 02/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan.

Relaksasi Aturan

Disebutkan dalam aturan baru tersebut, OJK memberi batasan maksimal pembelian saham hingga 20% dari modal disetor tanpa persetujuan RUPS. Kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad, peraturan baru ini dibuat untuk menanggulangi kondisi yang semakin parah, sehingga peraturan baru tersebut dapat memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam melakukan pembelian kembali sahamnya.“Aturan baru buyback saham dimaksudkan guna mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan serta memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam melakukan pembelian kembali sahamnya,”tandasnya.

Melihat keluwesan aturan baru tentang buyback saham, beberapa emiten menyambut positif dan menyampaikan niatnya melakukan aksi korporasi tersebut. Sebut saja, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang tengah mempalajari ketentuan tentang aturan buyback saham.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri Tbk., Nizon Napitupulu, mengatakan pihaknya tengah mempelajari ketentuan tentang buyback saham,”Karena Bank Mandiri adalah bank, maka kita juga harus lihat ketentuan peraturan Bank Indonesia terkait, selain ketentuan OJK," tuturnya.

Menurut dia, walaupun OJK sudah memperbolehkannya, namun perusahaan masih mempelajari ketentuan, khususnya perbankan terkait dengan aksi korporasi tersebut, “Sebab ada ketentuan lain yang mesti kita lihat dahulu," imbuhnya.

Pada perdagangan saham Senin awal pekan kemarin, harga saham Bank Mandiri melemah 150 poin (2,03%) ke Rp7.250 dengan volume perdagangan 20,798 juta lembar saham senilai Rp151,29 miliar.

Respon Pasar

Hal yang sama juga dilakukan PT Wiajaya Karya Tbk, dimana perseroan berpeluang perseroan melakukan buy back. Sedangkan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) masih terus melakukan kajian secara internal terkait buyback. Seketaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto mengatakan, perseroan saat ini sedang mempelajari peraturan OJK yang memperbolehkan melakukan buyback dan tim manajemen juga terus memantau pergerakan IHSG, “Kita punya ketentuan batas penurunannya dan saat ini sedang dikaji oleh Direktur Keuangan. Kalau terus menurun kita lakukan buyback, kalau naik kembali kita tidak buyback,"ujar dia.

Disebutkan, perseroan sudah menyiapkan dana sebesar Rp 500 miliar jika langkah buyback dilakukan. Senin awal pekan kemarin harga saham PT Semen Indonesia Tbk mengalami penurunan 500 poin atau 3,72% menjadi Rp12.950 per saham. Padahal, saat pembukaan hari ini saham SMGR berada di level Rp13.250.

Namun tidak semua BUMN serta merta melakukan buyback, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) justru belum berniat melakukan buyback saham. Alasannya, perseroan mempunyai stategi sendiri untuk melakukan buyback saham. Paling tidak, kata Dirut Telkom Arief Yahya, ketika pihaknya melakukan buyback, harga saham Telkom berada di bawah Rp10.000.“Sekarang harga saham kita masih di atas Rp10.000. Saya punya angka psikologis. Paling tidak kalau sudah di bawah Rp10.000 direktur keuangan harus saya panggil itu. Kemarin kita turun 6%, tapi tidak bisa lakukan apa-apa karena ini pengaruh global, ada juga isu capital outflow, dan juga posisi dolar,”ungkapnya.

Analis PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo A.Joe mengatakan, langkah buy back dapat mengangkat harga saham. Meski demikian, emiten dapat melakukan buy back minimal 25%, misalkan dari jumlah saham yang beredar di pasar sekitar 40%, “Kalau buyback saham hanya sekitar 5%-10% dinilai tak terlalu pengaruh,”ujar dia.

Dia mengakui, memang buy back itu dapat mengurangi jumlah saham di pasar tetapi kondisi bursa saham fluktuaktif diharapkan dapat mengendalikan harga saham. Menurutnya, semakin likuid maka harga saham sulit dikendalikan dan dengan masa seperti ini pelaku pasar ingin sahamnya tetap, dan berharap tidak turun tajam. Kemudian setelah bursa saham stabil, emiten diharapkan dapat menjual kembali sahamnya ke publik.

Sementara itu, Kepala Riset PT Universal Broker Securities, Satrio Utomo mengatakan, pelaku pasar harus melihat apakah krisis ini hanya temporer saja atau berlangsung lama. "Kalau krisis ini lama maka buy back tidak efektif karena itu menghabiskan kas perseroan," ujar Satrio. (bani)