Perangi Spekulan, DPR Tantang BI Keluarkan Aturan

Selasa, 27/08/2013

NERACA

Jakarta - Wakil Ketua Komisi XI DPR, Harry Azhar Azis mengatakan, untuk mengatasi aksi spekulan yang terus bermain di tengah melemahnya nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir, Bank Indonesia (BI) harus segera membuat aturan agar dapat menutup ruang gerak para spekulan. “BI harus membuat rumusan aturan untuk transaksi valas di atas US$200 juta yang mewajibkan adanya aktivitas ekonomi, jika peraturan itu tidak ada maka transaksi itu tidak diperbolehkan, maka BI perlu memonitoring aksi-aksi yang di luar aturan,” ungkap Harry Azhar di Jakarta, Senin (26/8).

Selain itu, dia juga meminta agar ruang spekulasi harus terindikasi secara konkret oleh pemerintah dan BI. Selain itu, pemerintah mesti mempertegas peraturan kepada pengusaha-pengusaha, misalnya penerapan Devisa Hasil Ekspor (DHE). “Karena sampai sekarang baru 50% pengusaha yang memarkirkan hasil ekspornya di perbankan nasional. Sementara yang lainnya masih lebih senang menyimpan dolarnya di luar negeri, bisa tidak BI menerapkan Peraturan Bank Indonesia (PBI),” katanya, seraya menantang BI.

Menurut dia, minimnya DHE yang masuk ke Indonesia diakibatkan oleh lemahnya koordinasi antar kementerian dan lembaga (K/L). Dia mencontohkan DHE Migas dengan Kementerian ESDM serta impor pangan dengan kementerian Pertanian (Kementan). “Masing-masing kementerian ini lebih banyak memikirkan kamarnya masing-masing,” tegasnya.

Selain itu, Harry Azhar mengatakan spekulan rupiah akan tetap mencari peluang yang bisa digunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi walaupun hal itu berdampak anjloknya rupiah. “Mereka bisa mencari peluang baru yaitu pasar ilegal atau pasar gelap rupiah (rupiah black market). Bila perlu pemerintah mencabut izin perusahaan mereka, sebab mereka ini yang bermodal besar dan punya perusahaan besar,” papar dia.

Sebelumnya, Ketua umum Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) Muhammad Idrus menampik dugaan bahwa pedagang valas merupakan spekulan atas pelemahan rupiah yang terjadi. “Kami bukan spekulan, pedagang valas itu mempunyai dua bentuk usaha yaitu menjual traveler cheque dan jual beli Bank Note,” ujarnya, Minggu.

Lebih lanjut Idrus menjelaskan, terkait pelemahan rupiah terhadap dollar AS ini pedagang valas berhasil meningkatkan volume transaksinya, hal ini terjadi karena terdapat perubahan spread yang tadinya 20 sekarang menjadi 50. “Volume transaksi meningkat hingga 50% sejak rupiah melemah ya sekitar satu minggu lah. Namun, selain keuntungan, pedagang valas juga bisa merugi jika tidak berhati-hati dalam menjaga ketersediaan valas yang dimiliki,” imbuh dia.

Selain itu, dia juga mengatakan seharusnya masyarakat mendukung setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah. “Kami juga mengajak masyarakat untuk tidak ikut-ikutan untuk membeli dolar AS. Kami harap kita semua bisa sama sama untuk membantu menguatkan rupiah terhadap dolar AS,” tuturnya. [sylke]