Pameran Pembangunan Dijadikan Sebagai Ajang Bisnis

Kabupaten Kuningan

Selasa, 27/08/2013

Kuningan – Pameran pembangunan yang digelar secara seremoni dan agenda tahunan Hari Jadi Kuningan tidak inovatif, bahkan dua tahun terakhir ini disinyalir kuat hanya dijadikan sebagai ajang bisnis perumahan dan mengabaikan kepentingan masyarakat umum.

Sejumlah elemen protes atas kebijakan Pemkab yang seolah salah kaprah dalam menentukan sikap. Jelas-jelas pameran itu bertujuan selain menghibur masyarakat, yakni untuk mempromosikan produk-produk unggulan Kabupaten Kuningan yang harus diketahui oleh masyarakat umum, khususnya penduduk asli Kuningan.

Akan tetapi, di tahun ini lokasi pameran pembangunan kembali digelar di areal perumahan baru, yakni di Perumahan Abdi Negara (Korpri), lokasinya pun jauh dari pemukiman warga. Lokasi tersebut merupakan kawasan hutan yang disulap menjadi wahana perumahan. Fasilitas umum yang ada, baru ada jalan baru, sedangkan diseputar lokasi masih dikelilingi hutan belantara yang jauh dari pemukiman.

“Kenapa memilih lokasinya yang nyumput (tersembunyi), di Perumahan Abdi Negara itu belum ada satu angkot-pun (angkutan kota) yang melintas kesana. Kalau mau ke pameran warga harus naik ojeg, ditambah pemukimannya jauh. Ini sebenarnya pameran untuk rakyat umum apa untuk PNS?,” ujar Pri Maladi, Ketua Kampak Kuningan kepada Harian Ekonomi Neraca, Minggu (25/8).

Anggaran untuk pameran tersebut dipastikan besar dan sudah seharusnya dilakukan secara manfaat, dan berdampak pada kepentingan rakyat umum. “Tapi yang Saya perhatikan, ini hanya seremonial dan mubadzir, hanya buang-buang anggaran. Seharusnya setiap tahun ada salah satu produk unggulan yang dipamerkan dan menjadi ikon Kuningan,” paparnya.

Senada yang dikatakan Ketua F-Tekad, Mang Ewo, bisnis perumahan disinyalir kuat lebih diutamakan dalam pameran pembangunan tersebut. Sudah dua tahun berturut-turut, Pemkab ada ‘main mata’ dengan salah satu pengusaha perumahan tapi sayangnya mengenyampingkan tujuan utama dari pameran pembangunan itu sendiri, ditambah di tahun ini lokasinya lebih parah dibanding tahun sebelumnya.

“Tidak seharusnya sebuah agenda yang dimaksudkan untuk dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, justru diselenggarakan di suatu lokasi yang susah dijangkau. Masih banyak lapangan desa yang berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk, kenapa tidak dilakukan,” tanya Ewo.

Ini sudah jelas tujuannya untuk mempromosikan lokasi baru. Tidak ada salahnya, tapi menurut Ewo, akan lebih beretika lagi kalau promosi perumahan bukan dalam agenda pameran pembangunan. Pasalnya, pameran pembangunan itu harus benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat Kuningan. “Masih banyak ruang publik yang lebih layak dijadikan lokasi pameran pembangunan, dan yang bersahabat dengan masyarakat dari berbagai tingkatan,” tandasnya.

Sementara itu, yang harus menjadi catatan Pemkab Kuningan, ikon yang ditonjolkan setiap tahun adalah sebuah produk masyarakat Kuningan, bukan produk perumahan yang notaben adalah produk pengusaha besar. Melalui pameran sebuah produk hasil seleksi itu bisa difasilitasi pemasarannya menjadi produk unggulan Kuningan dan tentunya berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat.