Semen Indonesia Masih Kaji Buyback Saham - Selamatkan Harga Saham

NERACA

Jakarta – Menyusul instruksi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan agar BUMN melakukan buyback saham terhadap saham dipasar yang sudah terdiskon, disambut baik PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Hanya saja perseroan masih terus melakukan kajian secara internal terkait pembelian saham kembali atau buyback.

Seketaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk, Agung Wiharto mengatakan, perseroan saat ini sedang mempelajari peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memperbolehkan melakukan buyback dan tim manajemen juga terus memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), “Kita punya ketentuan batas penurunannya dan saat ini sedang dikaji oleh Direktur Keuangan. Kalau terus menurun kita lakukan buyback, kalau naik kembali kita tidak buyback,\"kata dia di Jakarta, Senin (26/8).

Dia menyebutkan, perseroan sudah menyiapkan dana sebesar Rp 500 miliar yang bersumber dari kas inetrnal jika langkah buyback dilakukan. Diketahui, pada 30 Juni 2013, perseroan memiliki kas sebesar Rp3 triliun. \"Secara fundamental kita siap, kas kita juga saat ini masih kuat,\" ucap dia.

Sebagai informasi, Senin awal pekan kemarin harga saham PT Semen Indonesia Tbk mengalami penurunan 500 poin atau 3,72% menjadi Rp12.950 per saham. Padahal, saat pembukaan hari ini saham SMGR berada di level Rp13.250.

Sebelumnya, OJK merilis peraturan baru Nomor 02/POJK.04/2013 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan oleh emiten atau Perusahaan Publik dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi secara Signifikan. Disebutkan dalam aturan baru tersebut, OJK memberi batasan maksimal pembelian saham hingga 20% dari modal disetor tanpa persetujuan RUPS.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad mengatakan, peraturan baru ini dibuat untuk menanggulangi kondisi yang semakin parah, sehingga peraturan baru tersebut dapat memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam melakukan pembelian kembali sahamnya, “Hal ini bertujuan untuk mengurangi dampak pasar yang berfluktuasi secara signifikan serta memberikan kemudahan bagi emiten atau perusahaan publik dalam melakukan pembelian kembali sahamnya,”paparnya.

Analis PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo A.Joe pernah bilang, langkah buy back dapat mengangkat harga saham. Meski demikian, emiten dapat melakukan buy back minimal 25%, misalkan dari jumlah saham yang beredar di pasar sekitar 40%, “Kalau buyback saham hanya sekitar 5%-10% dinilai tak terlalu pengaruh,”jelas dia. (bani)

BERITA TERKAIT

Mahaka Media Klaim Sentimen Positif Pasar - Harga Saham Melesat Tajam

NERACA Jakarta – Keluar masuknya saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) dari suspensi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat kekhawatiran…

Marka Jalan di Kota Sukabumi Masih Kurang

Marka Jalan di Kota Sukabumi Masih Kurang NERACA Sukabumi - Di kota Sukabumi kelengkapan marka jalan ternyata masih kurang, rata-rata…

Kampanye Negatif Masih Jadi Tantangan Energi Terbarukan

  NERACA   Tangerang - Kampanye negatif berkait isu lingkungan masih menjadi tantangan utama pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…