Pentingnya RUU Kesehatan Jiwa - oleh : Ika Virginaputri Ayyudyah

Terlepas dari segala kontroversi di balik pelaksanaannya, Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang digagas oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, layak kita apresiasi sebagai salah satu bentuk usaha pemerintah dalam meningkatkan kualitas kehidupan rakyat.

Program pemeriksaan dan berobat gratis itu memang mempermudah warga Jakarta mengakses fasilitas kesehatan yang selama ini terkenal mahal. Tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, Jokowi juga berencana menyiapkan tenaga psikolog di puskesmas-puskesmas sebagai upaya menjaga kesehatan mental penduduk ibukota.

Selama ini, kesehatan mental bukanlah sebuah hal yang mendapat perhatian pemerintah. Bahwa negara saat ini masih belum melindungi, mempromosikan dan memenuhi hak-hak orang dengan masalah kejiwaan.

Walau Indonesia mempunyai Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas lewat Undang-Undang 19/2011, tapi orang dengan masalah kejiwaan masih rentan terhadap tindak kekerasan dan diskriminasi. Penghinaan, pengurungan, hingga penyiksaan fisik adalah beberapa contoh. Hal itulah yang mendasari Komisi IX – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menggodok Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan Jiwa.

RUU Kesehatan Jiwa bertujuan untuk menjamin setiap orang dengan masalah kejiwaan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, serta perlindungan hukum dan sosial yang memadai. Dan dengan adanya aturan yang jelas akan membantu terciptanya sistem layanan kesehatan jiwa yang baik dan menyeluruh.

Indonesia termasuk dalam 25% negara di dunia yang belum memiliki UU Kesehatan Jiwa. Kita tertinggal dari negara-negara Asia lain seperti Jepang, Cina dan Korea. Srilanka bahkan langsung mengesahkan UU Kesehatan Jiwa sesaat setelah terjadinya bencana tsunami di negara itu pada tahun 2004. Dan mengingat Indonesia rawan bencana dan konflik yang bisa mengakibatkan masalah kejiwaan bagi penduduknya, maka RUU Kesehatan Jiwa sangat penting untuk segera disahkan.

Mengingat pertambahan penduduk di Indonesia akan memunculkan persaingan, membuat interaksi sosial semakin rumit, serta mengakibatkan stress. Sehingga tak heran kalau akhirnya terjadi peningkatan jumlah masalah kejiwaan.

Menurut data Kementerian Kesehatan, penderita gangguan jiwa di seluruh Indonesia berkisar satu juta orang, sedangkan golongan sedang mencapai 19 juta. Beberapa psikolog bahkan percaya bahwa tawuran pelajar yang tak jarang berujung pada kematian juga termasuk sebagai salah satu dampak masalah kejiwaan. Sayangnya, layanan kesehatan jiwa di negara kita masih terbilang rendah.

Sesuai data, dari sekitar 9000 puskesmas yang ada di Indonesia, hanya seribu yang memiliki unit kesehatan jiwa. Indonesia juga hanya memiliki 30 rumah sakit jiwa. Belum lagi keterbatasan tenaga ahli di fasilitas tersebut. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah Indonesia. Selain meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan kesehatan jiwa, harus ada peningkatan kesadaran juga dari masyarakat akan pentingnya pencegahan dan pengobatan masalah kejiwaan.

Semoga rencana Jokowi dalam menyehatkan kejiwaan rakyat Jakarta bisa menginspirasi kepala daerah lain di Indonesia. Tubuh yang sehat berasal dari pikiran yang sehat pula. Dengan penduduk yang sehat, maka negara pun bisa memiliki pembangunan yang sehat pula. pedomannews.com

BERITA TERKAIT

Asuransi Kesehatan Kembali Merugi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Hingga akhir tahun 2018 lalu defisit…

Bidik Pasar Milenial - Erha Luncurkan E-commerce Produk Kesehatan Kulit

Boomingnya industri e-commerce di dalam negeri, dimanfaatkan Erha sebagai klinik kesehatan kulit untuk mendongkrak penjualan. Apalagi, saat ini belum banyak…

ALMI: RUU Sisnas Iptek Surutkan Semangat Peneliti

ALMI: RUU Sisnas Iptek Surutkan Semangat Peneliti NERACA Jakarta - Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Prof Jamaluddin Jompa mengatakan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mengkritisi Upaya Membuka Pasar Baru Dunia

Oleh: Pril Huseno Forum “Seminar Perdagangan Nasional dan Dialog Gerakan Ekspor Nasional” yang digagas Kadin, Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia dan…

Efektivitas Sistem Pendidikan Link & Match

Oleh : Untung Juanto ST. MM, Pemerhati Produktivitas SDM Debat calon Wakil Presiden pada tanggal 17 Maret 2019 antara KH…

Waspadai Hoax yang Ancam Suksesnya Pemilu

  Oleh: Ariffudin Ahsan dan Akbar Zuliandi, Pemerhati Sosial Media   Pemilihan legisliatif dan pemilihan presiden 2019 akan segera dilaksanakan…