Menjaga Momentum Pertumbuhan via Stimulus

Oleh: Desmon Silitonga, Alumnus Pascasarjana FE-UI

Selasa, 27/08/2013

Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia semester I-2013 sebesar 5,92% turun cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2012 yang tumbuh 6,3%. Meski demikian, pemerintah masih mempertahankan pertumbuhan tahun ini di level 6,3%. Namun, di tengah ketidakpastian saat ini, target tersebut tentu cukup berat untuk direalisasikan. Kalau pun tercapai, pemerintah harus all aout, agar pertumbuhan di kuartal III dan IV nanti, minimal tumbuh 6,2%. Ada pun, Bank Indonesia sudah merevisi ke bawah target pertumbuhan Indonesia menjadi 5,8%-6,2% dengan (Tinjauan Kebijakan Moneter, Agustus 2013)

Pelambatan pertumbuhan memang tidak hanya dialami Indonesia saja. Hal ini dapat dilihat dari World Economic Outlook (WEO) yang dirilis oleh International Monetary Fund (IMF) bulan Juli lalu yang juga merupakan revisi WEO yang dirilis pada April lalu. IMF memproyeksikan bahwa pertumbuhan global sepanjang tahun 2013 turun menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%. Selain itu, beberapa negara (kawasan) juga mengalami penurunan, seperti Amerika Serikat dari 1,9% menjadi 1,7%, Cina dari 8,1% menjadi 7,8%, India dari 5,8% menjadi 5,6%, Brazil dari 3% menjadi 2,5%, dan Asean dari 5,9% menjadi 5,6%.

Penurunan pertumbuhan ini setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, pemulihan ekonomi AS yang belum terjadi secara keseluruhan. Saat ini memang sudah ada tanda-tanda positif, seperti tingkat pengangguran yang saat ini sudah berada di level 7,4% yang sempat menyentuh 10% pada Oktober 2009. Adanya tanda-tanda pemulihan ini bahkan membuat otoritas moneter AS berencana akan menarik stimulus moneter yang membuat dollar AS menguat dan pasar saham dan obligasi global mengalami tekanan.

Kedua kontrasksi yang masih terus berlangsung di Eropa, khususnya zona Euro yang diikuti dengan tingkat pengangguran yang tinggi yang sudah mencapai di atas 11%. Besarnya beban utang membuat pemerintah sangat terbatas untuk melancarkan stimulus dan merevitalisasi sektor riil yang terpuruk. Beban makin berat karena masyarakat membatasi komsumsi yang akhirnya memukul sisi penawaran dan menjadi lingkaran setan (vicious cycle) krisis.

Ketiga melambatnya ekonomi Cina yang pada semester I-2013 hanya 7,8%. Padahal, tiga dekade terakhir, ekonomi Cina rata-rata masih mampu tumbuh 9%-10% setahunnya.

Akumulasi ketiga faktor tersebutlah yang mendegrasdasi pertumbuhan global termasuk Indonesia yang ditransmisikan baik melalui jalur perdagangan maupun keuangan.

Melalui jalur perdagangan dapat dilihat dari kinerja ekspor Indonesia yang turun, khususunya dalam dua tahun terakhir. Harga komoditas dunia seperti CPO, batubara, nikel, timah yang masih melemah turut memperburuk kinerja eskpor. Padahal, komoditas tersebut sangat mendominasi ekspor non migas kita. Ke depannya, kinerja ekspor diperkirakan masih akan tertekan, khususnya dampak dari pelambatan ekonomi Cina. Selama ini Cina merupakan mitra dagang terbesar Indonesia yang berkontribusi 14%-15% dari total nilai eskpor. Semester I-2013, ekspor hanya tumbuh 4,2% dari periode yang sama tahun lalu 4,8%.

Di sisi impor pun mengalami penurunan. Hal ini memang tidak terlepas dari turunnya kinerja investasi yang dapat dilihat dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang di semester I-2013 hanya tumbuh 5,2% dari tahun lalu 11,2%. Komponen barang modal merupakan komponen impor yang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Sementara, impor bahan baku/penolong masih tumbuh

Tekanan yang cukup tinggi juga berasal dari jalur keuangan, khususnya di pasar portofolio (saham dan obligasi). Aliran dana asing melalui pasar portofolio selama ini cukup member kontribusi untuk menjaga defisit neraca pembayaran, seiring dengan tren defisit neraca berjalan yang terus terjadi.

Meski demikian, pasar portofolio bersifat stabil dan cukup rentan dengan sentimen yang dapat mendorong terjadinya sudden reversal. Rencana The Fed yang akan menghentikan (tampering off) stimulus moneternya membuat pasar saham dan obligasi terkoreksi cukup dalam akhir-akhir ini. IHSG merosot ke level 4000-4150-an akibat aksi jual investor asing. Yield SUN juga kembali naik, dimana yield SUN tenor 10 tahun kembali menembus di atas 8%. Konsekuensinya rupiah terus terpuruk yang sudah menembus level Rp 10400-10500 per dollar AS.

Stimulus Pemerintah

Untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh setidaknya 5,8%, maka pemerintah harus mampu menjaga daya beli agar komsumsi tetap bergairah, karena komsumsi merupakan motor penggerak pertumbuhan selama ini yang memberikan kontribusi sekitar 55% terhadap produk demestik bruto (PDB). Sepanjang semester 1-2013, komsumsi masih mampu tumbuh sebesar 5,12%.

Meskipun demikian, tingginya inflasi akibat dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Juni lalu serta masih tingginya harga sejumlah bahan pangan, seperti cabe, bawang, dan daging akan menggerus daya beli. Inflasi yang tinggi akan membuat masyarakat mengurangi komsumsi.

Setidaknya inflasi hingga akhir tahun ini diperkirakan akan cukup tinggi, karena masih adanya dampak dari lebaran dan juga natal dan tahun baru. Inflasi di bulan Juli lalu bahkan menembus 3,29% dan menjadi inflasi bulanan tertinggi setelah krisis 1998. Inflasi kalender 2013 sudah mencapai 6,75% dan inflasi tahunan (year on year) telah mencapai 8,1% yang sudah melampaui target inflasi pemerintah sebesar 7,2%.

Dinamika inflasi yang terjadi selama ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, seperti BBM, tetapi akumulasi dari sejumlah variabel. Dan, variabel tersebut lebih bersifat strutktural dan sayangnya pemerintah belum dapat menangani dengan dengan baik, seperti masih buruknya manajeman bahan pangan, tiadanya akselerasi dan realisasi atas diversifikasi energi yang membuat ekonomi tergatung pada BBM yang dampak negatifnya akan selalu membebani neraca berjalan, lambanya pembangunan infrastruktur yang dapat menganggu kelancaran baran dan jasa, struktur kelembangaan yang bersifat koruptif, dan minimnya keberpihakan untuk mengembankan sektor industri, khususnya manufaktur dan industri berbasis bahan baku.

Oleh sebab itu, di tengah situasi yang penuh risiko dan ketidakpastian seperti ini, maka intervensi pemerintah memang sangat dibutuhkan. Salah satunya melalui stimulus yang dalam hal ini diberikan dengan kebijakan insentif fiskal (melalui skema perpajakan). Kiranya stimulus ini berdampak positif untuk merangsang arus investasi untuk memacu produktivitas dan menjaga daya beli yang diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan, setidaknya di kisaran 5,8%. Namun, yang tidak dapat dilupakan, pemerintah harus bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan masalah-masalah strutkural yang ada di dalam perekonomian agar kesinambungan pertumbuhan ekonomi dapat dicapai. analisadaily.com