free hit counter

Paket Kebijakan Ekonomi Untuk Jangka Panjang

Pasar Respon Negatif

Senin, 26/08/2013

NERACA

Jakarta – Keputusan pemerintah mengumumkan empat paket kebijakan untuk menyelamatkan ekonomi terkait pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah mendapatkan apresiasi dari pelaku pasar dan tidak sedikit mendapatkan respon pesimistis.

Meskipun demikian, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengharapkan kebijakan ekonomi dari pemerintah berlaku untuk jangka panjang sehingga dapat meredam gejolak di pasar keuangan dalam negeri, “Paket kebijakan itu penting, artinya pemerintah mementingkan cara bagaimana mengatasi pasar keuangan di dalam negeri. Faktor psikologis seperti ini akan berpengaruh terhadap pasar. Namanya kebijakan, bukan untuk jangka pendek, melainkan jangka panjang," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut dia, paket kebijakan itu memberi kesempatan bagi perusahaan untuk memperbaiki prospek bisnisnya sehingga investor akan menghitung nilai saat mendatang. "Saat orang mau membeli saham di pasar modal, ada nilai saat ini atau present value dan nilai masa depan. Maka, ada investor yang membeli saham meski harganya dinilai mahal," tutur dia.

Gejolak pasar saham yang terjadi seperti saat ini, pihak BEI tetap meyakini bahwa beberapa calon emiten yang merencanakan untuk melantai di bursa pada semester dua 2013 akan terlaksana. Alasannya, pasar modal merupakan tempat mencari pendanaan, keputusan perusahaan masuk ke pasar modal bergantung pada kebutuhan permodalan perusahaan masing-masing.

Sejak Agustus 2013, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah menurun hingga 9,56%. Kalangan analis menilai pelemahan didorong oleh investor asing yang cenderung mengambil posisi lepas saham. Tercatat, pelaku pasar asing membukukan jual bersih sepanjang tahun ini sebesar Rp8,058 triliun.

Kemudian terkait masih melemahnya IHSG akhir pekan kemarin, kata Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, pasar masih menguji keampuhan paket kebijakan pemerintah untuk meredam gejolak rupiah dan bursa saham.

Selanjutnya, penguatan rupiah akhir pekan ini sebagai respons positif pasar atas kebijakan dari istana. Pihak Istana telah mengeluarkan paket tentang empat kebijakan fiskal untuk mengatasi anjloknya nilai tukar rupiah dan IHSG. Sebaliknya, Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menegaskan, terkoreksinya bursa lantaran pelaku pasar menilai kurang jelas paket kebijakan yang diambil pemerintah terkait pelemahan rupiah dan IHSG. “Sementara itu, pergerakan bursa regional cukup payah,”tuturnya.

Hal senada juga disampaikan analis HD Capital Yuganur Wijanarko, pelemahan indeks BEI akhir pekan yang dipicu aksi jual investor karena ketidakpuasan pelaku pasar terhadap paket stimulus pemerintah, “Akibat aksi jual investor ini membuat indeks BEI terkoreksi lagi, “paparnya.

Pada perdagangan saham di BEI akhir pekan kemarin, IHSG ditutup melemah tipis 1,59 (0,04%) ke posisi 4.169,827. Intraday terendah 4.151,511 dan tertinggi 4.239,88. Transaksi investor asing hingga penutupan pasar tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 196,2 miliar di seluruh pasar. Dana asing yang keluar dari lantai bursa tidak sebesar perdagangan sebelumnya.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 166.014 kali pada volume 5,001 miliar lembar saham senilai Rp 5,567 triliun. Sebanyak 123 saham naik, sisanya 135 saham turun, dan 82 saham stagnan. (bani)