Pelemahan Rupiah Perparah Persoalan Pangan

Penilaian Indonesia for Global Justice

Senin, 26/08/2013

NERACA

Jakarta - Indonesia for Global Justice (IGJ) mendesak pemerintah dan DPR untuk tidak berspekulasi dalam menyikapi pelemahan nilai rupiah dengan kaitan masih tingginya ketergantungan Indonesia pada produk pangan impor.

"Pelemahan rupiah akan memperparah persoalan pangan bagi rakyat Indonesia. Hal ini dikarenakan ketergantungan pangan Indonesia terhadap produk impor masih tinggi yang didorong oleh liberalisasi perdagangan WTO di sektor pertanian. Terhitung hingga per april 2013 impor pangan telah mencapai US$, 2,23 Miliar,” tegas Riza Damanik, Direktur Eksekutif IGJ, dalam keterangan resminya, yang dikutip Neraca, Minggu.

Terhitung pada 20-22 Agustus 2013 nilai tukar rupiah mengalami penurunan terhadap mata uang dollar AS hingga mencapai Rp.11.008,-/dollar AS. “Kasus kelangkaan dan naiknya harga beberapa komoditas pangan di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir ini diperkirakan akan menjadi tragedi yang berkepanjangan. Pelemahan rupiah terhadap dollar AS akan mendorong tingginya biaya impor dan berdampak pada naiknya harga pangan impor,” jelas Riza.

Riza menambahkan bahwa nilai defisit perdagangan di sektor pertanian sudah sangat tinggi. “Saat ini, defisit perdagangan di sektor pertanian (pangan, hortikultura, dan peternakan) pada kuartal III 2012 sudah menembus hingga US$ -6,541 Miliar, setara dengan -11,415 Juta Ton, yang masing-masing defisit di pangan sebesar -9,395 Juta ton, hortikultura sebesar -1,319 Juta Ton, dan peternakan sebesar 699,9 ribu ton,” tegas Riza.

Untuk itu IGJ mendesak pemerintah agar meninggalkan impor sebagai solusi untuk menjawab persoalan pangan nasional dan menghentikan liberalisasi pertanian yang didorong oleh WTO secepatnya. Kedaulatan pangan harus segera direalisasikan melalui prioritas anggaran negara yang digunakan untuk meningkatkan produktivitas pangan nasional, khususnya kepada petani dan nelayan.

Pengaruh ke Industri

Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nampaknya juga berdampak terhadap industri gula rafinasi,pasalnya industri gula dalam negeri masih banyak mensuplai bahan baku gula mentah (raw sugar) dari luar negeri pembeliannya memakai dolar.

Hal ini bukan tidak mungkin ikut berpengaruh terhadap industri makanan dan minuman. Sebab gula rafinasi merupakan salah satu bahan baku industri makanan dan minuman.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (APEGTI) M Natsir Mansyur memaparkan kalau gula ini kan bahan baku untuk industri yang berbasis makanan dan minuman, jadi bisa saja mempengaruhi. Kalau impor raw sugar berpengaruh pasti, karena masih ada yang impor, sehingga biaya produksinya nanti juga naik.

Natsir mengatakan, kenaikan harga gula yang bisa terjadi bila rupiah tidak menguat berkisar 20% hingga 30% dari harga saat ini.Namun dia memastikan kenaikan harga tersebut tidak terjadi dalam waktu dekat, mengingat pelemahan ini baru terjadi sekitar 1-2 bulan lalu."Dampaknya tidak sekarang, tetapi 1-3 bulan mendatang baru terasa terhadap harga jual. Ini yang dikhawatirkan nantinya kan malah memberatkan konsumen, jadi dampaknya tidak langsung terasa," tutur Natsir pekan lalu.

Natsir juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap ketidakstabilan harga produk bahan kebutuhan pokok dari industri dalam negeri. Indonesia dinilai rentan akan biaya produksi yang tinggi, sehingga mempengaruhi harga dari produk-produk tersebut.

Sementara itu,Ketua Umum Asosiasi industri Minuman Ringan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo mengungkap kalau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang tidak dirasakan langsung industri minuman ringan dalam negeri.Akan tetapi kondisi ini memunculkan kekhawatiran pelemahan rupiah akan berdampak pada berkurangnya konsumsi masyarakat terhadap minuman ringan siap saji."Sampai saat ini dampaknya belum terasa ke sisi produksi, namun yang jadi pertimbangan apakah pelemahan rupiah ini nantinya akan berpengaruh terhadap daya beli masyarakat. Jadi yang ditakutkan industri itu lebih kepada daya beli," terangnya.

Kemungkinan penurunan daya beli masyarakat ini, menurut Triyono, terjadi bila pelemahan rupiah berlangsung lama dan ditambah dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak sekuat tahun lalu.

Hal ini menjadi tantangan yang dihadapi perekonomian nasional karean perilaku konsumen bisa saja berubah untuk lebih menjaga konsumsinya."Seperti contoh, bisa saja ada perubahan pola dari pada membeli minuman diluar, lebih menghemat dengan membawa minuman sendiri, atau dari pada makan direstoran yang pasti juga harus beli minum, mereka lebih memilih untuk makan dirumah," tutur dia.