BUMN Gotong Royong Buy Back Saham

Jaga Pasar Saham

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta – Mengantisipasi dampak lebih buruk lagi terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kedepan, akhirnya pemerintah menyiapkan paket kebijakan penyelamatan pasar dan salah satunya adalah menyerukan aksi pembelian saham kembali atau buy back saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Cara ini dinilai ampuh, seperti aksi borong saham yang dilakukan PT Jamsostek yang mambu membawa indeks Rabu kembali rebound.

Analis dari Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, aksi buy back saham oleh BUMN dinilai langkah yang tepat karena akan menjadi sentimen positif saat ini. Hanya saja, cara ini harus dilakukan secara bertahap guna mempertahankan pergerakan IHSG agar tetap naik, “Buy back saham oleh BUMN langkah tepat untuk menopang indeks BEI," ujarnya di Jakarta, Kamis (22/8).

Menurutnya, jika semua emiten BUMN tidak bisa melakukan buy back cukup emiten BUMN yang memiliki market cap besar lakukan buyback. Sebut saja, Telkom yang market cap hingga Juli mencapai Rp240 triliun dengan saham publik yang beredar mencapai 20,16 miliar saham, “Dengan market cap sebanyak itu, sekitar 16-20% sahamnya yang di buyback akan membantu IHSG bergerak naik. Dana yang dibutuhkan sekitar Rp40triliun,” ungkapnya.

Dia mengaku yakin, jika semua emiten BUMN melakukan buyback akan sangat membantu. Namun jika tidak, beberapa saham BUMN yang dinilai cukup baik untuk membantu IHSG adalah Telkom, Mandiri, PGAS dan BNI. Kata Reza, pelemahan saham yang terjadi biasanya memang menunjukan kinerja emiten yang kurang baik, namun untuk saat ini pelemahan saham akibat banyaknya sentimen negatif di pasar bursa.

Oleh karena itu, guna mendongkrak indeks BEI saat ini dengan cara BUMN lakukan buyback. Hal ini dirasakan sangat membantu, namun tergantung pada nilai rupiah dan jumlah saham yang dibeli oleh emiten, “Tidak hanya kinerja dan laporan keuangan saja yang mencerminkan suatu emiten bagus dan membuat investor tertarik, melainkan pergerakan sahamnya,” paparnya.

Kapitalisasi Besar

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Universal Broker, Satrio Hutomo, tidak perlu seluruh BUMN melakukan buy back. Cukup BUMN yang punya kapital besar saja yang ikut melakukan buy back. “Cukup misalkan Telkom, BRI, BNI, Semen Gresik. Dengan saham-saham itu saja naik, IHSG bisa terjaga, bisa tinggi dan bisa buat orang untuk tidak terpancing buang saham yang lain,” kata Satrio.

Namun begitu, lanjut Satrio, BUMN yang akan melakukan buy back perlu juga untuk melihat keuangan internalnya. Menurunnya IHSG ini bisa juga menjadi indikator bahwa iklim ekonomi di Indonesia ini memburuk. Jangan sampai nanti BUMN melakukan buy back besar-besaran lalu ketika ekonomi Indonesia lesu lantas tidak mempunyai uang yang cukup untuk menjaga perusahaannya tetap baik, “Kalau kondisi perekonomian benar-benar memburuk untuk jangka panjang, berarti perusahaan memburuk, itu butuh cash juga. BUMN tidak bisa cemplungkan dirinya semuanya. Apalagi, cash perusahaan BUMN terbatas. Dan tidak masuk akalkalau utang untuk beli sahamnya sendiri,”paparnya.

Selain itu, jumlah saham yang dilakukan buy back juga perlu dipertimbangkan,“Jumlah saham beredar di pasar harus tetap dibuat besar. BUMN harus tetap menahan diri, tapi saya kira tidak bisa serap semua. Harus pertahankan sebagian besar di pasar, biar asingnya tidak takut juga,” kata dia. Menurut Satrio, saham yang beredar di pasaran minimal di atas 15%.

Menteri BUMN Dahlan Iskan menegaskan, langkah emiten BUMN melakukan buyback saham agar rebound seperti yang dilakukan sejak Rabu (22/8). Dia menyatakan bahwa proses buyback tersebut melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), “Hal ini disetujui dalam RUPS. Beberapa harus melalui RUPS, namun beberapa lagi RUPSnya sudah dilakukan sehingga dalam RUPS sebelumnya sudah mencantumkan dilakukan buyback,” paparnya.

Dia juga mengakui, dalam memutuskan buyback BUMN selalu dalam garis makro pemerintah. Sehingga dia mengkoordinasikan BUMN yang ada agar tidak jalan sendirian. “BUMN akan berada dalam koordinasi kebijakan pemerintah secara makro. Intinya tidak berjalan sendiri, ikut kesepakatan antara teman-teman yang berada di tim ini," ujar dia.

Selain itu, menurut dia dilakukannya buyback karena tidak ingin ada BUMN yang merugi, karena jika terjadi kerugian akan ditanggung BUMN yang bersangkutan. Sementara, mengenai harga dan banyaknya jumlah saham, SUN, obligasi, dan dana pensiun BUMN harus dalam satu koordinasi. Dia mencontohkan jangan sampai ada dana pensiun yang tiba-tiba cut loss dengan cara melepas saham karena nanti ujung-ujungnya yang akan bertanggung jawab adalah pendiri dan pendiri itu adalah BUMN masing-masing.

Pengamat bursa Alfred Nainggolan pernah bilang, ditengah terkoreksinya indeks BEI, investor lokal diharapkan berani melakukan pembelian saham dan sedangkan BUMN segera melakukan buy back. Merespon kondisi anjloknya kondisi pasar, PT Jamsostek sudah menggelontorkan dana investasi mencapai triliunan rupiah untuk beli saham blue chip di pasar modal.

Direktur Utama Jamsostek Elvyn G. Masassya mengatakan, anjloknya IHSG membuat banyak saham unggulan yang harganya jadi murah. Disebutkan, langkah Jamsostek ini ditempuh untuk me-rebuilding atau memulihkan harga saham-saham blue chip sedang turun dan harga saham yang terseok-seok merupakan momentum tepat untuk membeli saham.