Kemarau, Saatnya Petani Beralih ke Tanaman Umbi-Umbian

Kota Sukabumi

Jumat, 23/08/2013

Sukabumi - Memasuki musim kemarau sebagian para petani di wilayah Kota Sukabumi mulai beralih fungsi tidak menanam padi, melainkan menanam umbi-umbian dan sejenis palawija lainnya yang tidak terlalu membutuhkan air banyak. Pasalnya, jika petani tetap memaksakan menanam padi takutnya nanti akan terjadi gagal panen.

“Kita sudah memberikan himbauan kepada para petani, bahkan sebelum ada himbauan dari kami mereka sudah menanam lebih dulu jenis umbi-umbian ketika musim kemarau melanda”, kata Sekretaris Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi Ate Rahmat, kepada NERACA usai mengikuti acara launching Go Green di Lapang Merdeka Kota Sukabumi, Kamis.

Selain itu, lanjut Ate, saat menghadapi musim kemarau pihaknya melakukan upaya-upaya untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan dengan memberikan ilmu pengetahuan tentang iklim kepada para petani agar tidak terjadi gagal panen. Terlebih saat ini masa panen tidak serentak.

Kata Ate, para petani juga bisa memanfaatkan area-area yang kosong yang bisa ditanami umbi-umbian atau sejenisnya. “Saya yakin setiap rumah atau sawah yang dimiliki masyarakat khususnya petani mempunyai lahan lebih yang bisa dimanfaatkan meskipun tidak besar lahan tersebut”, kata dia.

Bila terjadi kekeringan tentunya berdampak kepada hasil produksi beras di Kota Sukabumi. Berbeda dengan cuaca dan suplai air normal per hektarnya bisa menghasilkan rata-rata di atas enam ton. “Dari 1588 hektar sawah yang ada di kita, setiap tahunnya bisa menghasilkan kurang lebih 15.600 ton beras pada waktu cuaca normal. Namun jika musim kemarau datang jumlahnya akan berkurang,” ungkap Ate.

Ketika ditanya apakah bergantinya sistem tanam dari padi ke umbi-umbian dan palawija berdampak kepada pendapatan para petani, Ate mengatakan, tidak berbeda bahkan dibilang menguntungkan. Selain juga tidak membutuhkan air yang besar. “Sama saja hasil produksi padi dan umbi-umbian serta jenis palawija lainnya, bahkan ada yang bilang lebih menguntungkan”, ujar Ate.

Bahkan, menurut salah satu petani, lanjut Ate, sawahnya saat ini sudah ditanami umbi-umbian dan jenis palawija lainnya. ”Katanya sih saat ini sudah 20% sudah ditanaminya”, kata Ate.

Sementara itu salah satu pengamat ketahanan pangan Kota sukabumi Fajar Laksana mengatakan, masuknya musim kekeringan yang diprediksi akan panjang, para petani ditantang merubah pola pikir mereka, bagaimana dengan musim kemarau yanag melanda saat ini. Salah satunya beralihnya menanam dari padi jenis umbi-umbian atau palawija dan jenis lainnya.

Selain itu, lanjut Fajar, kondisi lahan pertanian yang sudah mengecil di Kota Sukabumi saat ini benar-benar bisa dimanfaatkan para petani. “Petani harus bisa merubah mindsetnya agar lahan sesempit apapun bisa dijadikan lahan pertanian yang ujung-ujungnya bisa menciptakan kesejahteraan petani juga”, jelas Fajar.