Pelemahan Rupiah Picu Kepanikan Asing di Bursa - Capital Outflow Rp 4,371 Triliun

NERACA

Jakarta – Pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar AS dinilai tidak sendiri, sehingga dampak yang terjadi saat ini seperti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak dapat dihindari dan pemerintah harus melakukan langkah yang tepat.

Pada perdagangan Senin (19/8) diketahui IHSG anjlok 5,5% ke level 4.313,5 atau turun 255,1 poin dengan jumlah investor asing net sell mencapai Rp1,7 triliun. Pada perdagangan Selasa (20/80), IHSG melemah 3,2% ke level 4.174,98 setelah turun 138,53 poin, jumlah investor asing net sell mencapai 1,9 triliun.

Pada perdagangan Rabu (21/8), IHSG hanya mampu menguat 1,04% ke level 4.218,44 atau 43,4 poin dan nvestor asing net sell mencapai Rp907 miliar. Perdagangan Kamis (22/8), IHSG kembali tergelincir 1,1% atau 47,03 poin ke level 4.171,41 dengan jumlah investor asing net sell lagi sebesar Rp864 miliar.

Melihat perdagangan selama empat hari yang terus mengalami penurunan hingga 8% lebih dan membuat asing menarik dana hingga Rp 4,371 triliun mencerminkan dampak yang cukup besar akibat sentimen positif yang minim. Saham emiten BUMN yang dinilai memiliki kekuatan juga ikut terpuruk oleh hantaman sentimen negatif ini.

Padahal, pada perdagangan Rabu (21/8) IHSG sempat menguat karena emiten BUMN lakukan buyback sahamn namun pada Kamis (22/8), kembali turun lagi. Meskipun analis banyak memberi seruan untuk lakukan beli saham-saham bagus dengan harga murah, hal ini belum juga meredam kepanikan pelaku pasar.

Menurut Direktur Komunikasi dan Hubungan Internasional Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Gonthor R. Aziz, pelemahan rupiah yang terjadi akan mengakibatkan risiko ketidakstabilan sektor jasa keuangan di Indonesia membesar, “Otoritas mengambil pilihan kebijakan agar masalah tersebut tidak meluas dan berkembang menjadi semakin kompleks dan sulit, “ujarnya.

Sementara ditempat yang sama, Pakar Ekonomi Global Asian Development Bank (ADB) Iwan Jaya Azis menilai bahwa pelemahan rupiah saat ini masih lebih baik dari pada nilai tukar rupee, India sehingga jika pemerintah mengambil kebijakan dengan tepat, rupiah dapat kembali stabil.“Apapun antisipasinya, pelemahan ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa dihindari jika kondisi global memang sedang tidak kondusif. Sehingga dampaknya tidak bisa dihindari karena sekarang setiap negara terkait, jika salah satu sakit yang lain akan tertular,”kata dia.

Sehingga yang terjadi saat ini adalah pertumbuhan ekonomi di negara Asia terus melambat termasuk Indonesia. Dia menilai bahwa faktor utama tidak stabilnya sektor keuangan di Asia adalah melambatnya ekonomi Cina. Sehingga, akhirnya banyak negara yang menunggu pemulihan kondisi ekonomi Amerika dan Eropa bagi perekonomian di negara Asia. Menurut dia, jika ekonomi Amerika membaik, sektor keuangan di Asia termasuk Indonesia akan segera pulih. (nurul)

BERITA TERKAIT

Akademisi Lokal Juga Memiliki Kompetensi yang Baik - Polemik Saksi Ahli WN Asing

Akademisi Lokal Juga Memiliki Kompetensi yang Baik Polemik Saksi Ahli WN Asing NERACA Medan – Penunjukan saksi ahli dari kalangan…

Nusa Raya Incar Kontrak Baru Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) perusahaan jasa konstruksi swasta di Indonesia menargetkan kontrak baru…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…