"Ingin Sebarluaskan Budaya PRIME"

Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Aceh, Supriadi

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Banda Aceh - Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Aceh, Supriadi, mengatakan perseroan ingin membantu Pemerintah Provinsi Aceh dalam memberikan santunan khusus bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan. Sebab selama ini, seluruh masyarakat Aceh yang berpenduduk 4,8 juta jiwa dijamin oleh Program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), termasuk didalamnya kecelakaan lalu lintas jalan. Oleh karena itu, Supriadi sedang menggodok beberapa program kerja.

“Kami tidak lama lagi akan melakukan kerja sama dengan Polda Aceh dan dua rumah sakit besar di sini. Yaitu Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin dan Prince Nayef bin Abdul Aziz Syiah Kuala University Hospital,” ujar Supriadi, kala ditemui di Banda Aceh, Rabu (22/8).

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan keinginan tersebut, selain ingin meningkatkan peran serta perseroan, juga berupaya memberikan pelayanan terbaik melalui konsep PRIME (Proaktif, Ramah, Ikhlas, Mudah dan Empati) kepada korban kecelakaan alat angkutan penumpang umum dan lalu lintas jalan.

Supriadi menjelaskan, setelah kerja sama ini resmi berjalan, apabila ingin mendapat santunan Jasa Raharja masyarakat yang mengalami musibah kecelakaan lalu lintas harus memiliki laporan dari kepolisian serta kelengkapan administrasi dari rumah sakit.

“Jadi ada dua laporan. Dari polisi dan rumah sakit. Itu sudah pakem (aturannya). Selama ini kami hanya bekerjasama dengan RS Bhayangkara. Ketika sudah ada laporan lengkap dari kepolisian dan rumah sakit, maka klaim akan cepat cair,” ungkap bapak dua anak ini.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 36 Tahun 2008 tentang Besaran Santunan. Bagi ahli waris dari korban yang meninggal dunia berhak memperoleh santunan sebesar Rp25 juta. Sedangkan korban yang memerlukan perawatan dan pengobatan berhak memperoleh santunan berupa penggantian biaya perawatan dan pengobatan dokter maksimal Rp10 juta.

Kinerja

Dia pun menjamin, di bawah kepemimpinannya, laporan korban yang meninggal dunia di tempat kejadian perkara (TKP) akibat kecelakaan lalu lintas sudah lengkap maksimal 1x24 jam, dari sebelumnya 3x24 jam. Adapun penyelesaian dokumen, maksimal tujuh hari dari tanggal kecelakaan.

“Tapi di lapangan, kami maksimal lima hari sudah rampung. Pelayanan ini merupakan terjemahan dari konsep PRIME yang menjadi "roh" Jasa Raharja. Kami ingin menyebarluaskan budaya ini di Aceh, sebab kesadaran dan disiplin berlalulintas masih rendah,” jelas pria yang baru menjabat 1,5 bulan sebagai kepala cabang di Tanah Rencong ini.

Terkait kinerja, periode Januari-Juli 2013, laba sebelum pajak Jasa Raharja Aceh sebesar Rp14,4 miliar atau meningkat 59,7% dari periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp8,6 miliar. Kenaikan ini dikarenakan ada pemutihan denda selama empat tahun, dari total lima tahun, berupa sumbangan wajib (SW), kartu dana (KD) serta denda pada Mei-Juli 2013.

Dengan demikian, denda yang harus dibayarkan hanya satu tahun, namun untuk pembayaran pokok tetap lima tahun. Untuk total pendapatan, perseroan mampu mencetak sebesar Rp35,9 miliar pada tujuh bulan pertama tahun ini, naik 78,8% atau Rp28,3 miliar pada Januari-Juli 2012.

Khusus Juli, laba sebelum pajak sebesar Rp3,1 miliar, naik 30,8% dari periode sama 2012 yang hanya Rp955 juta. Begitu pula dengan total pendapatan, di mana Jasa Raharja Aceh memperoleh Rp6,6 miliar atau meningkat 62,1% dari Juli 2012 sebesar Rp4,1 miliar. [ardi]