Rupiah Melemah, Eksportir Ikan Raup Untung

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak serta merta merugikan. Pasalnya para eksportir justru banjir keuntungan. Meski begitu tetap perlu diperhatikan ongkos produksi bagi industri yang berbahan baku impor.

“Rupiah down kalau untuk ekspor malah bagus. Karena mereka dapat mendatangkan rupiah dalam nilai tinggi. Namun bahayany kan ada produksi ekspor yang bahan bakunya impor,” kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Dirjen P2HP KKP) Saut P Hutagalung di kantor KKP, Jakarta, Kamis (22/8).

Keuntungan besar yang dapat diterima oleh para eksportir itu dinilai Saut berasal dari tingginya nilai rupiah terhadap dollar. Artinya para eksportir yang menjual barang produksi dalam bentuk dollar maka jika dirupiahkan nominalnya akan meningkat drastis.

“Jadi perusahaan eksportir sangat diuntungkan dalam situasi ini. Apalagi mereka yang produksinya betul-betul ikan lokal dan untuk kebutuhan ekspor malah bagus ya. Misalnya harga jual ikan yang mereka ekspor senilai US$4 maka kalau dirubah dalam bentuk rupiah bisa menjadi Rp 44.000. Padahal kalau menggunakan kurs yang lama hanya mendapat Rp 36.000. Tapi kalau dari segi volume penjualan ya tidak ada perubahan,” jelas Saut.

Meski begitu Saut tidak menafikan bahwa situasi ini dapat berdampak buruk bagi industri perikanan yang membutuhkan barang modal melalui impor. Pasalnya untuk membiayai produksi perlu membeli dollar. Sedangkan harga dollar sedang melambung tinggi.“Apalagi kalau memang selama ini mereka bahan bakunya produksi mereka memang berasal dari impor. Bisa sangat bahaya bahkan berpotensi stop produksi karena biayanya terlalu mahal,” tambahnya.

Namun Saut melihat kemungkinan adanya industri yang stop produksi sangat kecil. Karena industri perikanan dalam negeri hampir seluruhnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan yang berasal dari impor hanya 4% dari total industri perikanan yang ada. Bahkan yang betul-betul mengandalkan barang baku impor bisa dibilang tidak ada.

“Produksi ikan yang mengandalkan impor itu hanya musiman kok. Misalnya teman-teman yang di pengalengan tuna. Ini kan musim sedang tidak bagus untuk mereka. Jadi memang musti impor bahan bakunya sebagian. Tapi secara keseluruhan saya lihat tidak ada masalah,” tutur Saut.

Sementara itu Saut juga menjelaskan tidak diperlukan strategi khusus untuk para importir dalam situasi seperti ini. Karena kebutuhan impor juga terbilang sangat kecil. Umumnya hanya untuk memenuhi permintaan orang asing yang tinggal di dalam negeri misalnya ikan salmon. Tapi itu pun bebannya diberikan pada konsumen.

“Nah yang mungkin bermasah itu justru industri pengolahan. Tapi jumlahnya juga sangat kecil. Perbandingan ekspor impor kita sangat didominasi oleh ekspor. Impor ikan kita hanya 4% sedangkan ekspor ikan kita sudah mencapai 10%,” papar Saut.

Target Ekspor

Seperti diberitakan sebelumnya, KKP menargetkan pada 2013, kinerja ekspor produk hasil perikanan tumbuh sebesar 19% atau sekitar US$ 5 milliar dari target pada 2012 lalu sebesar US$ 4,2 milliar. Pada 2012, capaian nilai ekspor produk perikanan menunjukkan peningkatan secara signifikan. Untuk itu, KKP optimis dengan target US$ 5 miliar tersebut seiring telah dibuka pasar baru di Afrika dan Timur Tengah. Kenaikan nilai ekspor perikanan sebesar 10,8% diikuti dengan pertumbuhan neraca perdagangan perikanan sebesar 11, 49%. Dari jumlah tersebut, neraca perdagangan produk perikanan tahun lalu surplus 76,47%. Adapun pada 2011, Indonesia telah berhasil memecahkan rekor dimana ekspor hasil perikanan mencapai US$ 3,52 miliar. Karena itu, KKP telah merevisi target ekspor untuk memacu kinerja ekspor melalui kebijakan industrialisasi menjadi US$ 4,2 miliar pada tahun 2012.

Perlu diketahui komoditas udang merupakan penyumbang terbesar ekspor produk perikanan yakni sebesar 40%. Sementara peringkat kedua diduduki oleh komoditi tuna,tongkol, cakalang (TTC) sebesar 12% dari total keseluruhan kinerja ekspor. Udang merupakan komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia. Bahkan keberadaannya sangat strategis dalam menopang perekonomian nasional melalui penciptaan devisa Negara.

Produksi udang juga terus mengalami kenaikan. Tercatat, produksi udang nasional tahun 2012 sebesar 415.703 ton atau meningkat 4% dari Tahun 2011. Tahun 2013 capian produksi udang nasional diproyeksikan sebesar 608.000 ton, dimana capaian sementara sampai dengan semester I tahun 2013 sebesar 320.000 ton.

“Angka ini akan terus didorong dan harus optimis tercapai, mengingat peluang besar yang ada mulai dari permintaan dunia yang cenderung meningkat serta harga menunjukan trend naik”. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, dalam keterangan resminya.

Indonesia mempunyai potensi yang besar dibanding negara pesaing lainnya, khususnya di Asia Tenggara. Total potensi area pertambakan seluas 1,2 juta ha, dengan potensi efektif untuk budidaya udang ± 773 ribu ha, diharapkan Indonesia mampu menjadi negara eksportir udang terbesar. Apalagi merebaknya penyakit EMS (Early Mortality Syndrome) pada beberapa negara produsen udang di Asia seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan ketersediaan kebutuhan udang dunia.