Tidak Sesuai Ekspetasi, Saham Perbankan Rontok

Dipicu Kenaikan BI Rate

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta – Terkoreksinya seluruh bursa di Asia pada perdagangan Kamis kemarin, menjadi sentimen negatif terhadap pegerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk bergerak menguat. Alhasil, seharian indeks berada di zona merah di picu derasnya aksi jual investor asing mencapai Rp 912,11 miliar.

Tercatat mengakhiri perdagangan kemarin, sebanyak 207 saham melemah, 100 saham menguat, dan 64 saham stagnan. Baik saham unggulan maupun saham lapis kedua terus dilepas investor sepanjang pekan ketiga bulan ini. Indeks sendiri ditutup melemah 47,04 poin atau 1,11% menjadi 4.171,41. Indeks LQ45 juga masih tercatat melemah ke 689,36.

Pelemahan terjadi di beberapa sektor utama, yakni sektor infrastruktur melemah ke 945,28, dan sektor manufaktur melemah ke 1.123,43. Sementara sektor sektor konsumsi menguat ke posisi 1.829,82 dan sektor perkebunan juga tercatat menguat ke 1.620,21. Nilai transaksi sampai saat ini tercatat sebesar Rp7,2 triliun dengan volume sebesar 8,816 miliar lembar saham. Sebanyak 207 saham melemah, 100 saham menguat, dan 64 saham stagnan.

Kata analis Trust Securities Reza Priyambada, hal ini dikarenakan ekspetasi pelaku pasar akan saham perbankan dalam jangka pendek sangat negatif usai bank sentral (Bank Indonesia) menaikkan acuan suku bunga perbankan, yakni BI rate dalam dua bulan terakhir dengan total kenaikan mencapai 75 basis poin.

Kondisi ini dianggap membuat proyeksi adanya perlambatan kredit perbankan, yang dapat mempengaruhi kinerja perbankan ke depan, sehingga tak sedikit investor mulai melepas sedikit-demi sedikit portofolio sahamnya di perbankan,“Padahal, secara menyeluruh, kinerja perbankan tidak hanya dari kredit. Ada keuntungan lain yang diperoleh perbankan dari dana masyarakat, salah satunya fee based income ,”ujarnua di Jakarta, Kamis (22/8).

Dalam jangka pendek, lanjutnya, investor sendiri masih akan dinilai wait and see terhadap saham-saham perbankan. Sedangkan dalam jangka panjang saham perbankan masih layak dikoleksi karena industri masih akan terus tumbuh, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar.

Disesi pertama perdagangan saham, hampir seluruh saham perbankan terkoreksi melemah. Diantaranya, saham Bank Central Asia (BBCA) turun Rp200 (2,08%) ke Rp9.400, Bank Negara Indonesia (BBNI) turun Rp50 (1,33%) ke Rp3.700, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun Rp350 (5,19%) ke Rp6.400, Bank Tabungan Negara (BBTN) turun Rp30 (2,80%) ke Rp1.040, Bank Danamon (BDMN) turun Rp150 (3,15%) ke Rp4.125, Bank Jawa Barat dan Banten (BJBR) turun Rp20 (2,20%) ke Rp890, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (BJTM) turun Rp15, (4,29%) ke Rp335, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp200 (2,63%) ke Rp7.400,

Bank Bumi Arta (BNBA) stagnan di Rp15, Bank Internasional Indonesia (BNII) turun Rp5(1,56%) ke Rp315, Bank Permata (BNLI) turun Rp30 (1,96%) ke Rp1.500, Bank Sinamas (BSIM) turun Rp10 (4,26) ke Rp225, Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) turun Rp50 (1,30%) ke Rp3.800, Bank Artha Graha Internasional (INPC) naik Rp1 (1,04%) ke Rp97, Bank Pan Indonesia (PNBN) turun Rp30 (4,69%) ke Rp610. (bani)