Pasar Jeblok, Belum Ada Penundaan IPO

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan sejauh ini belum ada pernyataan dari calon emiten untuk penundaan atau pembatalan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) karena dampak anjloknya harga saham di Bursa Efek Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen menyatakan, hingga saat ini belum menerima laporan penundaan pelaksanaan jadwal IPO, “Kami belum menerima pengajuan formal dari perusahaan calon emiten untuk menunda IPOnya. Karena semuanya harus dengan prosedur formal jika ada penundaan,”katanya di Jakarta, Kamis (22/8).

Selain itu, dirinya juga menegaskan, tidak bisa memastikan tidak akan terjadi penundaan karena semua itu harus sesuai dengan kesepakatan antara calon emiten, BEI, dan pihak lainnya. Tahun ini, BEI menargetkan 30 emiten untuk IPO dan baru tercatat sebanyak 24 perusahaan telah mencatatkan sahamnya di BEI.

Sementara disemester kedua ini, dalam daftar BEI tercatat sebanyak delapan perusahaan. Disebutkan, delapan perusahaan yang akan melakukan IPO hingga akhir tahun nanti diantaranya, PT Puraradelata Lestasi, PT Sido Muncul, PT Grand Kartech, PT Arita Prima, PT Bank Indeks Selindo, PT Link Net, PT Siloam International Hospital, dan PT Andira Agro.

Sebelumnya, analis dari Bahana Securities, Harry Su pernah bilang, ditengah pelemahan nilai tukar rupiah dan terus terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG) akan mengurangi minat investor untuk membeli saham IPO. Oleh sebab itu, calon emiten disarankan menunda karena dana yang akan diraih diprediksi akan jauh dari harapan.

Kata Harry, ditengah harga sangat sensitif, maka calon emiten sebaiknya tidak menetapkan harga perdana terlalu tinggi. Pasalnya, investor tidak akan mau membeli saham yang harganya terlampau tinggi kemudian langsung turun ketika sudah listing di BEI karena kondisi IHSG saat ini,”Yang akan listing sebaiknya melakukan discount jika tidak bisa jangan mengharapkan dana IPO setinggi-tingginya. IPO pada semester kedua tahun ini bisa batal dan jika memang tetap dipaksakan akan berkurang dana yang ingi dicapai atau untuk amannya mengurangi jumlah saham yang akan dilepas,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila, Budi Frensidy, jika emiten tetap IPO, sahamnya tidak akan menarik bagi investor karena saham yang sudah dimiliki investor justru dijual. Ditambah asing yang terus secara serempak melakukan aksi jual hingga triliunan. “Jika memiliki kesempatan calon emiten menunda dulu niatnya untuk listing di bursa hingga IHSG berada di level 4.400 yang dinilai dia sebagai level aman untuk IHSG”, ujar dia.

Sedangkan Anggota Dewan Komisioner Pengawasan Pasar Modal OJK, Nurhaida mengatakan, pihaknya akan terus mengupayakan untuk membuat pasar modal lebih baik dengan melakukan pendalaman pasar serta perbaikan produk investasi agar minat investor dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia semakin meningkat.

Selain itu, lanjut dia, OJK juga akan terus melakukan beberapa upaya salah satunya dengan mengajak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar modal Indonesia.\"Kami sudah ada pembicaraan, karena jika BUMN masuk ke pasar modal maka nilai pasar modal akan bertambah signifikan. Namun hal tersebut merupakan ranah dan kewenangan dari Kementerian BUMN,\"tuturnya. (nurul)

Related posts