free hit counter

Ekonom Rekomendasikan BI Rate Naik

Benahi Neraca Pembayaran

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta - Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tony Prasentiantono menilai kebijakan yang diambil Bank Indonesia yang sempat dua kali menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dan terakhir mempertahankan BI Rate di posisi 6,5% merupakan hal yang tepat. “Namun untuk pembenahan neraca pembayaran dan neraca perdagangan masih diperlukan lagi kebijakan saya merekomendasikan BI, untuk menaikkan BI rate sebesar 50 bps menjadi 7% pada September, walaupun langkah ini terlambat,” ujar Tony di Jakarta, Kamis (22/8)

Tony juga meyakini, kebijakan tersebut dapat menekan impor yang saat ini masih cukup tinggi sehingga membuat defisit neraca pembayaran dan neraca perdangan Indonesia. Selain itu dia mengatakan, untuk menyikapi pelemahan berbagai indicator makro ekonomi ada beberapa kebijakan fiskal dan moneter yang harus dilakukan. “Misalnya, untuk dari sisi pemerintah, perlu dilakukan restrukturisasi utang luar negeri swasta yang jatuh tempo pada September mendatang,” kata Tony.

Dia menjelaskan, hal ini harus dilakukan oleh pemerintah, karena menurut dia langkah ini juga pernah dilakukan pada krisis tahun 1998. “Pemerintah bisa bernegosiasi dengan debitur untuk memberi diskon bunga atau memperpanjang tenor pembayaran utang,” ucap Tony. Lebih lanjut Tony menjelaskan, langkah-langkah tersebut memang cukup sulit untuk diambil dan dijalankan oleh pemerintah dan BI.

Strategi alternative lain menurut dia adalah dengan melakukan pinjaman atau menambah utang. Langkah ini dinilai oleh Tony bisa untuk menambah cadangan devisa (cadev) Indonesia yang tergerus akibat intervensi BI beberapa waktu  lalu untuk penyelamatan rupiah. Next