Volume dan Harga CPO Ekspor Merosot

Krisis Global Belum Pulih, Pasar Dunia Masih Lesu

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta - Krisis ekonomi yang mendera beberapa negara ternyata mempengaruhi kegiatan ekspor minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari Indonesia. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi menyebutkan beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor CPO terkena dampak krisis sehingga mempengaruhi ekspor CPO.

"Kontraksinya ada dua, yaitu harganya (CPO) jadi turun dan volume ekspornya merosot. Jadi kami harus benar-benar melakukan antisipasi apa yang bisa dilakukan dengan produk ekspor kita ke sana," kata Bachrul di Jakarta, Kamis (22/8).

Bachrul menjelaskan, volume ekspor CPO yang tergerus utamanya dari produk-produk elastis seperti CPO, minyak goreng akan berpengaruh meski tidak terlalu tinggi. "Yang berpengaruh itu produk konsumsi bukan bahan pokok, contohnya produk elektronik pasti berkurang, tapi kalau ekspor CPO relatif tetap. Tapi dampaknya memang ke CPO, mineral, batu bara, bahan tambah yang diolah industri," tandasnya.

Ekspor CPO yang melemah juga dikatakan Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan. Berdasarkan catatan Gapki, volume ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia mengalami penurunan sebesar 1,64% dibandingkan dengan bulan lalu yaitu dari 1,62 juta ton menjadi 1,59 juta ton. Turunnya volume ekspor CPO dan turunannya pada bulan Juli disebabkan turunnya permintaan dari India, China dan beberapa negara lainnya.

Fadhil mengungkapkan, India mengurangi pasokan CPO dan turunannya karena inflasi yang terjadi di negara tersebut dan ada isu pemerintah India akan menaikan pajak impor untuk refined vegetable oils. Pada Juli ini, ekspor CPO dan turunannya ke India tercatat turun 14,3% dibandingkan dengan bulan lalu atau dari 404,52 ribu ton menjadi 346,51 ribu ton. "Tidak hanya India, penurunan permintaan juga diikuti oleh China," kata Fadhil.

Fadhil menuturkan, volume ekspor ke China tercatat turun sebesar 7,75% dari 170,57 ribu ton menjadi 157,34 ribu ton. Penurunan permintaan dari China disebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan banyaknya stok kedelai yang dimiliki China saat ini. "Selain itu keputusan pemerintah China untuk menghapuskan pelarangan impor kedelai dari Brazil turut andil dalam pelemahan permintaan CPO," ungkap Fadhil.

Sementara itu, di negara berbasis muslim seperti Pakistan dan Bangladesh, permintaan CPO tercatat meningkat cukup signifikan tetapi tidak memberikan dampak kenaikan harga karena dari segi volume. Permintaan negara ini tidak besar jika dibandingkan dengan India dan China. Volume ekspor ke Pakistan pada Juli 2013 tercatat naik 108,6% dari 44,25 ribu ton menjadi 92.30 ribu ton. Sedangkan, ekspor ke Bangladesh tercatat naik 20,64% dari 64,2 ribu ton menjadi 77,45 ribu ton pada Juli 2013. "Kenaikan permintaan dari dua negara ini karena pengaruh hari raya Idul Fitri yang biasanya konsumsi akan pangan lebih meningkat daripada bulan-bulan biasa," ujar Fadhil.

Adapun, menurut Fadhil, penguatan mata uang Amerika Serikat terhadap mata uang negara Asia masih menjadi salah satu faktor yang meningkatkan permintaan dari 'Negeri Paman Sam' ini. Volume ekspor CPO dan turunannya ke Amerika Serikat pada selama tiga bulan terakhir terus meningkat. Pada Juli ini tercatat naik 36,5% dibanding bulan lalu atau dari 43,85 ribu ton menjadi 59,87 ribu ton. Sementara, volume ekspor ke negara Uni Eropa tercatat meningkat sebesar 7,87% dibanding bulan lalu atau dari 343,27 ribu ton menjadi 370,29 ribu ton.

Pasar CPO diprediksi relatif stagnan sepanjang Agustus dan September. Pada sisi pasokan, stok CPO Indonesia dan Malaysia diperkirakan akan mulai meningkat mulai dari September sampai Desember. Harga CPO diperkirakan tidak akan menunjukkan trend kenaikan yang berarti seiring meningkatnya stok CPO Indonesia dan Malaysia, hal ini akan diperburuk dengan perkiraan akan meningkatnya hasil panen kedelai di Brazil, Argentina dan Amerika dengan dukungan cuaca yang baik di negara tersebut.

Selain itu, aturan 'biodiesel anti dumping duties' yang diberlakukan Uni Eropa terhadap Argentina juga akan menjadi faktor harga kedelai menjadi murah. Harga kedelai yang murah otomatis akan mempengaruhi harga CPO yang selama ini hanya menjadi substitusi kedelai bagi negara Uni Eropa dan Amerika.

Naik 2x Lipat

Meski keadaan ekonomi dunia sedang kontraksi, Pemerintah masih merasa yakin ekspor CPO pada 2014 bisa meningkat dua kali lipat. Cara yang ditempuh Pemerintah yaitu dengan meningkatkan kerja sama dengan negara Pakistan atau negara-negara di sekitarnya.

Optimisme tersebut akan bisa diraih dengan menjalin kesepakatan perdagangan atau yang disebut Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan. Melalui perjanjian kerjasama ini, diharapkan ekspor khususnya komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO) bisa tumbuh tinggi. "Perjanjian itu akan ditandatangani pekan ini. Sehingga Indonesia bisa ekspor ke Pakistan atau ke negara-negara sekitarnya melalui Pakistan. Harapannya, jumlah ekspor tersebut bisa tumbuh double dari sekarang," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi.