Akhir Pekan, Ada Peluang Indeks Menguat

Jumat, 23/08/2013

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ditutup anjllok 47,035 poin (1,11%) ke level 4.171,413. Sementara Indeks LQ45 jatuh 6,655 poin (0,96%) ke level 689,498. Maraknya aksi jual investor asing dalam jumlah besar, masih menjadi pemicu indeks BEI terkoreksi seiring melemahnya bursa di Asia.

Kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, pelemahan indeks masih dipengaruhi sentimen global, “Indikasi the Fed itu membuat pelaku pasar melepas aset sahamnya di pasar modal Indonesia sehingga IHSG BEI kembali melemah,”katanya di Jakarta, Kamis (22/8).

Dia menambahkan, pemerintah yang meminta lembaga keuangan domestik untuk menjaga indeks BEI dengan masuk ke pasar saham belum cukup kuat menahan tekanan yang terjadi saat ini. Kendati demikian, menjelang sesi penutupan perdagangan saham kemarin beberapa saham kembali menguat kembali.

Oleh karena itu, Reza memproyeksikan pada perdagangan Jum’at akhir pekan mempunyai potensi menguat, “Pada akhir pekan potensi penguatan cukup terlihat, kalaupun terjadi pelemahan diperkirakan tidak sedalam pada Kamis kemarin,”ujarnya.

Sebagai informasi, rencana The Federal Reserve mengurangi stimulusnya sudah membuat bursa global melemah. Sentimen ini sampai juga ke bursa-bursa regional. Alhasil, sentimen negatif tersebut membuat investor asing makin getol lepas saham.

Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 912,11 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 216.710 kali pada volume 8,524 miliar lembar saham senilai Rp 7,161 triliun. Sebanyak 93 saham naik, sisanya 193 saham turun, dan 61saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia bergerak mixed setelah melewati perdagangan yang fluktuatif. Bursa China yang tadi siang menguat kini ditutup melemah, tapi bursa saham Hong Kong malam sebaliknya. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Multi Bintang (MLBI) naik Rp 10.950 ke Rp 1,18 juta, Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 2.500 ke Rp 29.850, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 1.800 ke Rp 12.000, dan Astra Agro (AALI) naik Rp 1.400 ke Rp 15.850.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 2.700 ke Rp 67.250, Gowa Makassar (GMTD) turun Rp 800 ke Rp 6.950, Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 700 ke Rp 5.650, dan Mayora (MYOR) turun Rp 600 ke Rp 28.900.

Perdagangan sesi pertama, IHSG juga ditutup turun 96,079 poin (2,28%) ke level 4.122,369. Sementara Indeks LQ45 menukik 16,229 poin (2,33%) ke level 679,924. Tak hanya saham-saham unggulan, saham-saham lapis dua juga kena jadi sasaran jual. Saham-saham tambang yang sudah murah mampu menguat berkat aksi beli.

Hanya satu dari sembilan sektor industri yang bisa menguat, yaitu sektor tambang. Sembilan sektor lainnya amblas di zona merah, dipimpin sektor konstruksi dengan koreksi lebih dari lima persen. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 111.728 kali pada volume 4,164 miliar lembar saham senilai Rp 3,061 triliun. Sebanyak 30 saham naik, sisanya 225 saham turun, dan 54 saham stagnan.

Bursa-bursa regional bergerak mixed dengan rata-rata melemah. Hanya bursa saham China yang masih bertahan di zona hijau sejak diawal perdagangan. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.550 ke Rp 28.900, Bukit Asam (PTBA) naik Rp 550 ke Rp 10.750, PGN (PGAS) naik Rp 100 ke Rp 5.150, dan Harum Energy (HRUM) naik Rp 75 ke Rp 2.800.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 3.450 ke Rp 66.500, Matahari (LPPF) turun Rp 900 ke Rp 11.300, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 850 ke Rp 36.650, dan Unilever (UNVR) turun Rp 750 ke Rp 28.750.

Diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun turun 50,99 poin atau 1,21% ke posisi 4.167,45. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 12,97 poin (1,86%) ke level 683,18, “Aksi jual masih terjadi pada bursa saham regional, termasuk indeks BEI seiring dengan masih melambatnya pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara di Asia Pasifik,”kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada.

Selain itu, lanjut dia, eskpektasi pengurangan stimulus The Fed masih menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pelaku pasar. Apalagi, jelang pertemuan "Federal Open Market Committee" (FOMC) pada pekan ini membuat pelaku pasar lebih memilih untuk menahan diri masuk ke pasar. Tercatat bursa regional, diantaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 74,07 poin (0,34%) ke level 21.743,66, indeks Nikkei-225 turun 66,63 poin (0,50%) ke level 13.356,63, dan Straits Times melemah 41,02 poin (1,32%) ke posisi 3.067,24.